Di jalan buntu menyepakati paket bantuan Covid, Kongres AS akhirnya bersepakat cegah shutdown

·Bacaan 3 menit

Washington (AFP) - Para anggota parlemen AS yang kesulitan menyepakati bantuan vital selama pandemi dan belanja federal, pada Jumat akhirnya bersepakat pada menit-menit terakhir guna mencegah penutupan pemerintah pada tengah malam dan memperpanjang negosiasi hingga akhir pekan.

Para pemimpin Kongres berusaha keras menyelesaikan poin-poin penting untuk anggaran senilai 900 miliar dolar AS yang ditujukan guna memberikan bantuan darurat kepada jutaan warga Amerika yang di ambang kehilangan tunjangan sangat penting.

Karena rencana bantuan pandemi berkaitan dengan pelolosan paket belanja federal terpisah senilai 1,4 triliun dolar AS, maka kebuntuan itu mengancam penutupan sementara pemerintah yang merupakan sebuah skenario yang tak pernah terdengar di Washington yang sudah terbelah secara politik, tetapi sangat membahayakan mengingat memburuknya perekonomian dan meningginya jumlah korban tewas harian akibat Covid-19.

Di ambang penutupan itu, Dewan Perwakilan Rakyat pada Jumat malam memberikan suara 320 setuju melawan 60 suara menentang perpanjangan pendanaan bagi lembaga-lembaga federal sampai Minggu untuk memberi kesempatan kepada para negosiator guna menyelesaikan paket stimulus mereka.

Senat seketika mengesahkan langkah tersebut melalui pemungutan suara, dan Presiden Donald Trump menandatangani RUU itu beberapa jam sebelum tenggat waktu tengah malam.

Pembicaraan tentang paket bantuan itu terlihat macet yang sebagian terjadi karena adanya proposal Partai Republik agar membatasi kemampuan Federal Reserve dalam memberikan kredit untuk dunia usaha dan lembaga-lembaga lain.

"Kami berharap mereka bisa mencapai kesepakatan dalam waktu dekat," kata anggota DPR nomor dua dari Demokrat Steny Hoyer. "Mereka belum mencapai satu pun kesepakatan. Masih ada sejumlah masalah penting yang tak terselesaikan."

Sebuah paket untuk membantu bisnis yang sedang kesulitan dan pekerja yang menganggur dianggap penting dalam mengembalikan perekonomian terbesar di dunia itu di tengah bangkitnya lagi infeksi Covid-19 sekalipun vaksin baru yang memberikan harapan diakhirinya pandemi mungkin sudah di depan mata.

Tanpa adanya kesepakatan, jutaan pekerja yang menganggur akan kehilangan tunjangan khusus mereka selama pandemi sebelum akhir tahun, dan moratorium penggusuran akan berakhir dalam jangka beberapa hari.

Kubu Demokrat memperingatkan bahwa jika kemampuan Fed dalam menyalurkan kredit dibatasi, maka krisis fiskal dapat diperparah di negara bagian-negara bagian AS, khususnya seandainya Kongres gagal meloloskan bantuan kepada pemerintah-pemerintah negara bagian dan daerah.

Presiden terpilih Joe Biden menolak keras proposal terkait The Fed itu yang kabarnya bakal menghalangi bank sentral tersebut dalam memulai kembali program pinjaman darurat yang berakhir tahun ini dan bisa membatasi respon bank sentral ketika terjadi krisis di masa mendatang.

Langkah itu "bisa membahayakan stabilitas keuangan masa depan kita," kata Brian Deese, yang dipilih Biden guna memimpin Dewan Ekonomi Nasional, dalam satu pernyataan.

"Paket itu tak boleh mencakup ketentuan yang tidak perlu yang akan menghambat Departemen Keuangan dan kemampuan Federal Reserve dalam melawan krisis ekonomi," tambah Deese.

Para wakil rakyat bahkan belum melihat keputusan akhir mengenai kesepakatan terkait stimulus atau paket pendanaan pemerintah, dan beberapa dari mereka memperingatkan bahwa kedua hal itu membutuhkan waktu lebih lama.

Paket pandemi itu diperkirakan akan meliputi bantuan untuk distribusi dan logistik vaksin, tunjangan pengangguran tambahan sebesar 300 dolar AS per pekan, dan putaran baru paket stimulus 600 dolar AS yang merupakan separuh dari jumlah yang disediakan dalam cek yang telah disalurkan Maret lalu.

Beberapa legislator Demokrat dan sejumlah kecil legislator Republik mendorong penglipatgandaan paket stimulus menjadi 1.200 dolar AS per orang. Seorang senator Republik, Ron Johnson, menentang proposal itu Jumat dengan menyebut hal itu bakal memperbesar defisit. Pandangan ini mengundang cemoohan dari para legislator Demokrat.

"Sekarang ini perekonomian tengah tertatih-tatih, rakyat Amerika antre mencari nafkah dan mengajukan (status) pengangguran, dan hanya karena presiden dari Demokrat bakal menjabat, maka tiba-tiba saja muncul keluhan soal defisit. Sungguh menggelikan," kata Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer.

"Cara tercepat dalam memasukkan uang ke saku rakyat Amerika adalah dengan segera memulangkan sebagian uang pajak mereka ke tempat asalnya," tambah Schumer.

mlm/ec/bgs/jah