Di KTT ASEAN-AS, Jokowi Bahas Isu Pangan Hingga Energi

Merdeka.com - Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri dialog KTT ASEAN-Amerika Serikat (AS) di Kamboja. Dalam Perhelatan tersebut, diluncurkan Kemitraan Komprehensif Strategis ASEAN-AS yang diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi menghadapi situasi dunia yang sedang menghadapi tantangan yang luar biasa.

"Kemitraan ini diluncurkan di saat dunia sedang hadapi tantangan yang luar biasa. Saya ingin membacakan ringkasan ASEAN Common Sense, di mana kemitraan ASEAN-AS dapat berkontribusi menjadi bagian dari solusi," kata Presiden Jokowi dikutip dari laman Kementerian Perekonomian, Minggu (13/11).

Dia mengusulkan tiga hal yang perlu dilakukan sekaligus sebagai solusi menjawab tantangan. Pertama terkait dengan mewujudkan kemitraan bagi perdamaian dan stabilitas kawasan, di mana ASEAN menginginkan kehadiran AS di kawasan membawa energi positif bagi perdamaian.

"Dukungan AS terhadap sentralitas ASEAN juga harus diterjemahkan dalam aksi nyata khususnya peran ASEAN sebagai agenda-setter dinamika di kawasan dan pembentukan arsitektur kawasan yang inklusif," imbuhnya.

Kedua, membangun kemitraan untuk ketahanan kawasan dan global. Sinergi kebijakan harus didorong untuk memastikan stabilitas sistem keuangan, dukungan likuiditas, dan efektivitas kebijakan ekonomi.

"Upaya membangun ketahanan pangan juga harus menjadi prioritas utama. Saya harap ASEAN dan AS dapat bekerja sama dalam peningkatan kapasitas produksi pangan, pengembangan bibit unggul, pemanfaatan teknologi pertanian, dan penguatan strategi ketahanan pangan di kawasan," imbuhnya.

Ketiga, terkait dengan menciptakan kemitraan untuk masa depan berkelanjutan. Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa ASEAN berkomitmen kuat mewujudkan masa depan berkelanjutan. Sebagai contoh, ASEAN akan tingkatkan penggunaan energi terbarukan hingga 23 persen pada 2025.

"Kami apresiasi komitmen AS untuk clean energy di kawasan. Kerja sama ASEAN-AS dapat diarahkan untuk mendorong investasi dan alih teknologi rendah karbon, membuka lapangan kerja baru dalam transisi energi, dan menciptakan kerangka regulasi dan pendanaan yang kondusif," tandasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [azz]