Di Mobil Putri Candrawathi Selalu Ada Senjata Api Laras Panjang

Merdeka.com - Merdeka.com - Mantan Ajudan Ferdy Sambo, Daden Miftahul Haq mengungkap, jika terdapat senjata api merek Steyr AUG yang selalu melekat kepada ajudan pengawal Putri Candrawathi. Diketahui, Steyr AUG merupakan senapan jenis laras panjang.

Keternagan Daden membantah isu Putri Candrawathi turut memegang senjata api. Karena semasa menjadi istri Kadiv Propam Polri, Putri tak pernah memegang atau memiliki senjata api.

"Saudara Daden, apakah saudara pernah melihat senjata api Steyr AUG, senjata Steyr AUG itu melekat pada siapa, terdakwa Sambo atau Putri Candrawathi?" tanya JPU saat sidang untuk terdakwa Sambo dan Putri, di PN Jakarta Selatan, Selasa (8/11).

"Di mobil yang membawa ibu (Putri Candrawathi), pak," jawab Daden.

"Kalau memang senjata itu harus melekat, beda dengan yang melekat di terdakwa Ferdy Sambo?" timpal JPU.

"Siap beda," kata Daden kembali.

Berangkat dari jawaban itu, lalu JPU menanyakan perihal apakah Putri Candrawathi selaku istri Mantan Kadiv Propam Polri dalam aturan bisa dibekali atau memegang senjata atau tidak.

Namun demikian, Daden memastikan selama dia mengawal keluarga Ferdy Sambo, tidak pernah melihat atau mengetahui kalau Putri Candrawathi memiliki senjata api.

"Sepengetahuan anda, dulu kan pernah mengawal PC? Berapa lama?" tanya jaksa.

"Sekitar 4 sampai 5 bulan," jawab Daden.

"Selama mengawal PC, apakah saudara terdakwa PC memiliki senjata api?" tanya lagi jaksa.

"Saya tidak tahu," jawab Daden.

"Pernah melihat PC memiliki senpi?" cecar jaksa.

"Tidak tahu," ucap Daden.

Kendati demikian, Daden tidak menjelaskan secara detail senjata api yang selalu ada di mobil Putri Candrawathi itu milik siapa. Dirinya hanya memastikan kalau selama bekerja untuk Putri Candrawathi, yang bersangkutan tidak memiliki senjata api.

Isu Putri Ikut Tembak

Sementara itu isu soal kepemilikan senjata api Putri sempat mencuat oleh penasihat hukum keluarga, Kamaruddin Simanjuntak. Dia menduga terdakwa Putri Candrawathi ikut menembak Brigadir J di Rumah Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan.

Dugaan itu diungkapkan Kamaruddin ketika dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan pembunuhan Brigadir J dengan terdakwa Richard Eliezer alias Bharada E di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (25/10).

"Awalnya dibilang yang menembak saudara Richard Eliezer," kata Kamarudin.

Berangkat dari keterangan awal bahwa penembak adalah Bharada E, Kamaruddin lantas dari hasil investigasinya menyebut kalau Putri menjadi penembak kliennya dimana total berjumlah tiga orang.

"Kami temukan fakta baru bahwa yang menembak adalah Ferdy Sambo dan Richard Eliezer atau Bharada Richard Eliezer bersama dengan Putri Candrawathi," ujar Kamaruddin.

Hakim lantas menanyakan dari mana asal informasi diperoleh Kamaruddin tersebut. Sebab menurut hakim, keterangan tersebut bisa menjadi pertimbangan dalam persidangan.

"Sidang ini mencari fakta di sini, saudara menerangkan seterang terangnya. Kami tidak bisa mempertimbangkan keterangan yang tak jelas," ujar hakim.

Kendati sudah diminta hakim menjelaskan informasi keterlibatan Putri menembak Brigadir J, namun Kamaruddin tidak membeberkan secara gamblang.

Dia mengaku tidak bisa membuka secara rinci informasi lantaran sudah berkomitmen dengan sang informan untuk merahasiakannya. "Saya pahami tapi saya sudah komitmen tidak bisa sampaikan," kata Kamarudin menjawab hakim.

Keterangan disampaikan Kamaruddin itu berbeda dengan dakwaan para terdakwa perkara dugaan pembunuhan berencana yang mana disebutkan jika pihak yang menembak adalah Bharada E disusul dengan Ferdy Sambo.

Termasuk juga dengan eksepsi atau nota keberatan atas dakwaan Ferdy Sambo yang mana Mantan Kadiv Propam Polri itu mengklaim dirinya tidak ikut menembak Brigadir J.

Tersulut Keterangan Kamaruddin

Apa yang disampaikan Kamaruddin lantas menimbulkan respon terdakwa lainnya, salah satunya Tim Penasihat Hukum Putri Candrawathi dan Ferdy Sambo menyatakan keterangan Kamaruddin merupakan tuduhan tidak mendasar.

"Kami membantah secara tegas tuduhan dan fitnah yang keji pada Bu Putri yang dituduh melakukan penembakan. Bahkan Jaksa Penuntut Umum dan berkas-berkas perkara yang ada tidak pernah bicara demikian," kata penasihat hukum, Arman Hanis saat dikonfirmasi, Selasa (25/10).

Arman mengatakan, keterangan Kamaruddin itu tidak terbukti. Sebab, ketika dicecar hakim soal bukti dasar temuan Putri ikut menembak tidak bisa disampaikan.

"Dalam kesempatan ini, kami juga menyimak pernyataan Majelis Hakim yang mengatakan bahwa pernyataan saksi tersebut tidak jelas dan sulit diverifikasi kebenarannya," ujarnya.

Penasihat hukum Bharada E, Ronny Talapessy mengamini keterangan Arman. Dia menyebut keterangan Putri menjadi orang ketiga yang menembak Brigadir J tidak benar dan tidak dijadikan bukti oleh majelis hakim.

"Itu tidak benar. Kita sampaikan sekaligus klarifikasi faktanya bahwa tadi pak Kamarudin menyampaikan itu berdasarkan informasi. Majelis hakim bertanya mana buktinya, kemudian rekan Kamaruddin bilang saya tidak bisa tunjukan," ujar Ronny.

Ronny menyinggung ketika majelis hakim berulang kali mencecar Kamaruddin untuk membuktikan ucapannya. Sehingga, dia meluruskan bahwa penembak Brigadir J sebagaimana dalam dakwaan hanya dua orang.

"Yang perlu kita luruskan di sini bahwa penembakan itu adalah klien saya Richard Eliezer pertama kali kemudian disusul oleh Ferdy Sambo," ujarnya.

Meski demikian dalam perkara ini baik jaksa penuntut umum, penasihat hukum, hingga majelis hakim masih dalam tahap pembuktian. Dimana akan digali setiap keterangan saksi guna memastikan siapakah sebenarnya menjadi pihak yang menembak Brigadir J.

Dakwaan Pembunuhan Berencana

Dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa total lima tersangka yakni, Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Mereka didakwa turut secara bersama-sama terlibat dengan perkara pembunuhan berencana bersama-sama untuk merencanakan penembakan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga No. 46, Jakarta Selatan.

"Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain," ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.

Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.

Sedangkan hanya terdakwa Ferdy Sambo yang turut didakwa secara kumulatif atas perkara dugaan obstruction of justice (OOJ) untuk menghilangkan jejak pembunuhan berencana.

Atas hal tersebut, mereka didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP.

"Timbul niat untuk menutupi fakta kejadian sebenarnya dan berupaya untuk mengaburkan tindak pidana yang telah terjadi," sebut Jaksa. [rnd]