Di Rumah Saja, Mengerjakan Skripsi Hingga Belajar Memasak

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Mengubah rutinitas di tengah panedemi virus corona ini memang tidak mudah. Mengatasi rasa cemas dan was-was pun membuat kita tak nyaman. Kita semua pun berharap semua keadaan akan segera membaik. Melalui Lomba Share Your Stories: Berbagi Cerita tentang Pandemi Virus Corona ini Sahabat Fimela berbagai cerita dan harapannya di situasi ini. Langsung ikuti tulisannya di sini, ya.

***

Oleh: Latifah Ayu Kusuma

Di tengah pandemi virus corona, lebih baik kita memperbanyak kegiatan di rumah. Tentu agar kita terhindar dari virus yang menyerang saluran pernapasan tersebut. Cara penularan yang cukup ekstrem membuat orang sehat juga harus menjaga imunitas.

Akhirnya aku juga melakukan karantina mandiri meski sulit. Sebenarnya aku adalah orang yang menyukai keramaian. Senang menghabiskan waktu bersama sahabat. Namun physical distancing ini mutlak dilakukan lantaran jumlah korban positif virus di Indonesia sudah lebih dari 2.000 orang.

Aku adalah seorang mahasiswi semester akhir. Pandemi membawaku pada arus bimbingan secara online. Ternyata lebih kompleks daripada bimbingan tatap muka. Tetapi sisi positifnya, aku tak perlu bepergian ke kampus. Waktuku untuk mengerjakan semakin banyak. Meski rasa bosan terkadang mengganggu.

Namun sebagai freelance content writer, aku tak melulu stagnan memandangi data skripsi. Aku menulis pengalaman perjalanan secara santai dengan gaya bahasa tidak formal. So, ada terapi tersendiri bagi mata dan jiwa kala otak penuh dengan hasil analisis.

Di sisi lain, aku memiliki adik yang sedang menempuh sekolah menengah pertama. Dia menjalani school from home setiap hari mulai pagi hingga siang hari. Ini membuat tugasku bertambah, aku selalu memantau perkembangan belajarnya. Bahkan menemaninya menyelesaikan tugas yang diberikan lewat aplikasi. Bahagianya, hubungan kami semakin akrab.

Hal lain yang membuatku jenuh berada di rumah adalah saat aku merelakan hobi traveling. Sebelumnya aku menyempatkan diri menikmati keindahan alam, kuliner maupun budaya saat waktu luang. Kini sepeda motor kesayanganku justru harus beristirahat di rumah.

Patah Hati Melihat Dunia Sedang Sakit

ilustrasi./Photo by Renato Abati from Pexels
ilustrasi./Photo by Renato Abati from Pexels

Patah hati rasanya melihat dunia yang sedang sakit ini. Aku selalu merindukan eksotisnya udara pegunungan, cipratan air laut, debu jalanan, kekayaan rasa kuliner lokal, hingga keramahan masyarakat Indonesia. Dalam rinduku aku selalu berdoa agar keadaan segera pulih.

Di balik rasa rindu menggebu, aku bertemu dengan aktivitas seru lain (yang bisa dilakukan di rumah). Pertama adalah membaca buku. Sejak masih sekolah dasar aku terbiasa membaca buku cerita. Namun saat menjadi mahasiswi, intensitas membaca buku di luar referensi menurun drastis.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Beberapa hari yang lalu aku menjelajah rak buku di kamar. Aku menemukan puluhan buku baru yang belum tersentuh. Aktivitas tambahan saat di rumah aja yaitu membaca buku. Plus ditemani lagu-lagu penyanyi indie andalan. Dengan cara ini suasana hati sedikit lebih tenang.

Ketika mata mulai lelah, aku beralih explore social media. Memperkaya informasi akan berbagai hal, mencari bahan untuk menulis di blog, atau sekadar play video hiburan. Tak lupa berinteraksi dengan kawan yang tinggal di lain kota.

Saat melihat beberapa postingan makanan aku mulai tertarik. Kemudian melihat bahan makanan di rumah. Sepertinya di rumah aja juga menjadi waktu yang tepat untuk belajar memasak. Tak perlu berpikir banyak, aku segera melakukan eksekusi di dapur. Hal itu berlanjut ke hari-hari berikutnya. Hingga ibuku senang anak perempuannya mulai akrab dengan dapur.

Di rumah aja juga membuat interaksiku dengan keluarga semakin intens. Aku jadi lebih sering berdiskusi dengan bapak, curhat dengan ibu, dan berdebat dengan saudara. Pun saling berbagi informasi dan mengingatkan agar terhindar dari virus. Yuk semangat kawan, kita bisa melakukan hal positif meski berada di rumah.

#ChangeMaker