Di Rusia, Mendag Beberkan Pentingnya Pameran Internasional bagi Indonesia

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyampaikan, pameran berperan penting dalam memperkuat dan membuka kerja sama bisnis berkelanjutan dan transfer teknologi. Melalui pameran, negara peserta dapat menunjukkan tanggung jawabnya terhadap sosial masyarakat dan lingkungannya.

Hal ini disampaikan Mendag Lutfi pada diskusi panel di Forum Ekonomi Internasional St.Petersburg (St.Petersburg International Economic Forum/SPIEF) yang berlangsung pada Kamis 3 Juni 2021 di St.Petersburg, Rusia.

Diskusi panel tersebut merupakan salah satu sesi SPIEF, yaitu World Expos and International Cooperation as a Driver of Sustainable Global Development.

Pameran seperti World Expo berperan penting dalam memperkuat dan membuka kerja sama bisnis berkelanjutan dan transfer teknologi, serta merupakan wahana bagi negara atau ekonomi untuk memperlihatkan citra budaya peradaban dan kemajuan yang telah dicapai dan akan dikembangkan di masa depan. Melalui pameran, negara peserta dapat menunjukkan tanggung jawabnya, tidak hanya bagi masyarakat dunia dan lingkungannya, tapi juga bagi generasi yang akan datang,” jelas Mendag Lutfi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (7/6/2021).

Mendag Lutfi juga menyampaikan, dalam partisipasi di Expo 2020 Dubai, Indonesia akan memperkenalkan perkembangan dan kemajuan diberbagai bidang ekonomi berkelanjutan, demokrasi sosial dan budaya, sertakemajuan strategis lainnya.

Dalam Expo ini, Indonesia ingin membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia juga telah dan akan terus berperan terhadap isu-isu strategis global seperti sustainability, global responsibility, dan development.

“Indonesia akan menunjukkan komitmen dan tanggung jawabnya terhadap lingkungan dan keberlanjutannya, tidak hanya pada masyarakat Eropa dan dunia, tetapi juga anak cucu kita ke depan,” kata Mendag Lutfi.

Dalam forum itu, Mendag Lutfi menegaskan, Pemerintah Indonesia terus berkomitmen untuk memperbaiki aspek lingkungan sesuai tingkat perkembangan dan kemajuan ekonominya.

Upaya ini dilakukan, baik oleh pemerintah dan swasta maupun dengan bekerja sama dengan pemerintah ataupun lembaga internasional yang ada.

Selain itu, lanjut Mendag Lutfi, Indonesia saat ini tengah mengalami transformasi di berbagai sektor kehidupan di Indonesia, mulai dari pendidikan hingga bisnis.

Transformasi ini penting mengingat banyak industri di Indonesia terdisrupsi akibat pesatnya perkembangan teknologi informasi. Transformasi ini juga penting agar Indonesia mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB).

“Dalam proses transformasi itu, Indonesia membutuhkan dan membangun teknologi digital dan berbagai aspek terkait lainnya, termasuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusianya, melalui pengembangan infrastruktur digital agar setiap sekolah di seluruh wilayah Indonesia bisa mengakses internet,” jelas Mendag Lutfi.

Pada forum tersebut, Mendag Lutfi mengundang para peserta untuk mengikuti TEI 2021 di Indonesia. Pameran perdagangan terbesar di Indonesia itu juga akan menunjukkan keberpihakan Indonesia terhadap lingkungan dan transformasi Indonesia.

TEI 2021 dijadwalkan berlangsung pada 20—24 Oktober 2021. Turut bergabung dalam diskusi panel tersebut, yaitu Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia, Denis Manturov; Menteri Negara Uni Emirat Arab untuk Kerja Sama Internasional sekaligus Direktur Jenderal Dubai Expo 2020, Reem Al Hashimy; Menteri Kerja Sama Internasional Mesir, Rania Almashat; Sekretaris Jenderal Bureau International des Expositions, Dimitri Kerkentzes; Walikota Osaka, Ichiro Matsui; serta Chairman Skolvo Foundation, Arkady Dvorkovich.

Tantangan Indonesia dan Kerja Sama ASEAN-EAEU

Muhammad Lutfi (Liputan6.com/dok/Faisal R Syam)
Muhammad Lutfi (Liputan6.com/dok/Faisal R Syam)

Sebelum menghadiri diskusi panel SPIEF pada sesi “World Expos and International Cooperation as a Driver of Sustainable Global Development”, Mendag Lutfi juga mengikuti sesi “EAEU-ASEAN Business Dialogue”.

Mendag Lutfi memaparkan perkembangan dan tantangan yang dihadapi Indonesia serta perspektifnya pada peningkatan kerja sama ASEAN-Eurasian Economic Union (Rusia, Armenia, Belarus, Kyrgyzstan, dan Kazakhstan).

Mendag Lutfi menjelaskan, sebagai negara yang terus terus berkembang maju, Indonesia menghadapi tantangan baru dalam memasuki tatanan rantai pasok nilai global untuk menciptakan kemakmuran sebagai negara demokrasi yang terbuka. Pada 2018, Indonesia yang semula merupakan negara dengan pendapatan per kapita menengah ke bawah telah naik kelas menjadi negara dengan pendapatan per kapita menengah ke atas.

Saat ini, Indonesia tengah menghadapi tantangan baru. Sebelum bonus demografi, penambahan penduduk muda usia produktif atau kerja di Indonesia akan habis pada 2038 mendatang, Indonesia harus bisa meningkatkan pendapatan per kapita sebesar tiga kali lipat atau menjadi sekitar USD 12.500.

“Ketika bonus demografi tersebut habis dan Indonesia tidak bisa mengembangkannya, maka Indonesia akan terperangkap dalam jebakan kelas menengah (middle income trap). Oleh karena itu, dengan potensi penduduk muda ini, Indonesia memerlukan pelaku ekonomi yang tangguh untuk menjadi negara maju pada 2045,” kata Mendag Lutfi.

Untuk mencapainya, Indonesia melakukan dua langkah besar, yaitu meningkatkan investasi di bidang infrasruktur dan mendorong transfer teknologi.

Negara-negara anggota ASEAN yang lain pun melakukan langkah serupa. Indonesia memiliki sekitar 17.000 pulau, namun belum sepenuhnya mengembangkan teknologi. Oleh karena itu, transfer teknologi sangat penting bagi Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Ini merupakan komitmen Indonesia untuk saling mengembangkan perdagangan investasi dengan negara-negara EAEU. Kami juga berkomitmen mengembangkan perdagangan yang adil dan saling menguntungkan satu sama lain,” pungkasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel