Di Sidang TIIMM, Bahlil tekankan kolaborasi pacu investasi berkualitas

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menekankan pentingnya kolaborasi dalam rangka memacu investasi inklusif dan berkelanjutan, saat memimpin sesi persidangan kedua Trade, Investment and Industry Ministerial Meeting (TIIMM) G20 di Bali, Kamis.

Bahlil yang juga merupakan Co-Chairman TIIMM G20 menjelaskan bahwa kolaborasi yang terjalin dengan apik antara investor besar dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal akan menciptakan pertumbuhan ekonomi lokal dan memberikan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat lokal.

"Kami ingin menekankan kembali bahwa investasi yang merata merupakan bagian dari instrumen terpenting yang kita harapkan untuk dapat membangun investasi berkelanjutan dan berkualitas. Dan itu bisa kita wujudkan melalui kolaborasi," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.

Dalam TIIMM G20 sesi kedua ini, isu prioritas yang dibahas yaitu terkait kelompok kerja perdagangan, investasi dan industri mengenai "Mendorong Investasi Berkelanjutan untuk Pemulihan Ekonomi Global".

Dalam kesempatan itu, Sekretaris Jenderal United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD) Rebeca Grynspan menyampaikan perlunya kolaborasi yang lebih kuat untuk mengatasi ketimpangan dalam mendorong investasi berkelanjutan di negara berkembang.

"Kita perlu bersama-sama mengatasi tantangan utama investasi berkelanjutan seperti yang diuraikan tadi yaitu di antaranya terkait hambatan regulasi, politik dan ekonomi. Kerjasama multilateral menjadi suatu keharusan, bukan lagi pilihan," ujar Rebeca.

Dalam sesi penyampaian pendapat, Minister of State for International Trade Inggris James Duddridge mengaku setuju tentang pentingnya meningkatkan pembangunan berkelanjutan dalam rangka mendorong investasi berkelanjutan.

"Melalui kolaborasi bersama, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih hijau. Saya berharap semakin banyak negara berkembang yang dapat memperoleh manfaat dari pembangunan berkelanjutan tersebut," ungkap James.

Selanjutnya, Menteri Perdagangan Arab Saudi Majid bin Abdullah Al-Qasabi juga meyakini bahwa investasi berkelanjutan dan inklusif dapat dijadikan landasan yang solid dalam pemulihan ekonomi yang juga inklusif dan berkelanjutan.

"Kita perlu memanfaatkan investasi berkelanjutan dengan inovasi teknologi dan mengeksplorasi langkah-langkah lain untuk mengoptimalkan masa yang lebih berkelanjutan," ucap Majid.

Ada pun Menteri Perdagangan Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Thani bin Ahmed Al Zeyoudi, salah satu delegasi negara undangan, memberikan apresiasi atas upaya Presidensi G20 Indonesia dalam mengangkat isu mengenai investasi berkelanjutan.

Thani juga menjelaskan bahwa investasi berkelanjutan ini telah menjadi prioritas bagi pemerintah UEA untuk kemakmuran masyarakat.

"Investasi berkelanjutan merupakan kunci pendorong ekonomi dunia yang lebih inklusif dan kuat. Dalam menghadapi berbagai tantangan seperti transfer teknologi, ketenagakerjaan, dan pembiayaan, diperlukan kerja sama global yang solid," ucap Thani.

Sedangkan Vice-Minister for Foreign Trade and Economic Affairs Brasil Sarquis J. B. Sarquis menyatakan kesepakatannya dalam mendorong pembiayaan investasi berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi swasta.

"Kami mendorong keterlibatan yang lebih besar pada tingkat multilateral untuk mempercepat pendanaan infrastruktur berkelanjutan," ujar Sarquis.

Menutup diskusi, Bahlil menyampaikan bahwa pandangan dari seluruh anggota delegasi ini akan menjadi masukan yang berharga sebagai landasan untuk bekerja sama mencari solusi yang efektif dalam menyelesaikan tantangan dalam upaya mendorong investasi berkelanjutan.

Sementara itu, kesimpulan dari pembahasan isu prioritas ini antara lain pentingnya arus investasi berkelanjutan bagi pemulihan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, industrialisasi dan tujuan pembangunan lainnya; proses penyederhanaan administrasi investasi menjadi salah satu pendorong utama untuk investasi berkelanjutan.

Selanjutnya, perlunya kontribusi investasi berkelanjutan terhadap hilirisasi dan nilai tambah dengan mendorong investasi di sektor produktif seperti di manufaktur hilir, pentingnya skema pendanaan iklim yang adil dan merata diakses untuk mendorong investasi berkelanjutan, serta perlunya dukungan negara anggota G20 atas kompendium yang dapat menjadi acuan kebijakan negara dalam merancang dan melaksanakan strategi untuk menarik investasi berkelanjutan.


Baca juga: Menperin sebut pembahasan industri di TIIMM G20 jadi momen bersejarah
Baca juga: Bahlil paparkan 4 tantangan investasi berkelanjutan di Forum TIIMM G20
Baca juga: Mendag apresiasi kontribusi UNESCAP sukseskan TIIMM G20