Di Tengah Gempuran Perang, Kristen Suriah Semangat Sambut Natal

Ezra Sihite, Dinia Adrianjara
·Bacaan 2 menit

VIVA – Selama satu dekade terakhir, masyarakat Kristen di Suriah tetap merayakan hari raya Natal meski berada di tengah ancaman perang dan penindasan dari kelompok-kelompok jihadis yang disebut juga didukung pihak asing. Hingga saat ini pemerintah Suriah belum mampu memberikan keamanan bagi rakyatnya.

Di Suriah, masyarakat Kristen terdiri dari berbagai denominasi mulai dari Ortodoks Timur dan Syriak, hingga Katolik dan Protestan. Umat Kristen yang terdiri dari 10 persen populasi di Suriah, merayakan Natal dengan merangkai lampu, mengenakan kostum santa dan berkumpul bersama keluarga masing-masing.

Di media sosial, banyak pengguna internet yang mengunggah belasan foto perayaan Natal di Suriah, termasuk berbagai hiasan pohon, karnaval, kembang api dan parade. Beberapa acara disertai dengan pesan kepada komunitas internasional.

Salah satunya disampaikan oleh pendeta Munawar Bakhitan dari Church of St. George of Melkite Catholics, dalam ibadah di kota Basir di provinsi Daraa, dengan tema 'Pesan dari Suriah untuk Dunia'.

"Hari ini kami mengirimkan pesan yang jelas kepada seluruh dunia bahwa rakyat Suriah hidup bersama dalam cinta dan persaudaraan. Kami menyerukan agar negara Barat mencabut sanksi yang menghancurkan negara kami," kata Pendeta Bakhitan, dilansir Sputniknews, Rabu 16 Desember 2020.

Perayaan penyalaan lampu pohon Natal besar dan kecil diadakan di seluruh negeri di mana masyarakat ikut bersuka ria mengambil foto dan merekam video lampu, pohon dan tarian Santa.

Komunitas Kristen Suriah telah menjadi sasaran pengusiran dan pemusnahan oleh ISIS dan kelompok teroris lainnya. Kelompok-kelompok militan berusaha menghancurkan pemerintahan sekuler negara itu. Bahkan ISIS sempat menguasai Raqqa di Suriah.

Namun dengan bantuan dari Rusia, Iran dan milisi Hizbullah Lebanon, tentara Suriah berhasil memukul balik dan mengalahkan teroris takfiri dan membebaskan sebagian besar negara mereka.

Sementara warga Suriah dari semua agama dan kelompok etnis telah meminta negara Barat untuk memberikan dana untuk rekonstruksi bagi Suriah, atau setidaknya mencabut sanksi atas negara mereka.

Rekonstruksi negara itu juga makin rumit kondisinya oleh kebijakan Amerika Serikat yang dituduh telah mencuri dan menyelundupkan minyak keluar dari wilayah timur Suriah, sehingga merampas Damaskus dari sumber pendapatan utama mereka. (ase)