Di tengah kontraksi ekonomi, Papua justru tumbuh 2,32 persen

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 1 menit

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua menyatakan ekonomi Papua mengalami pertumbuhan sebesar 2,32 persen selama 2020.

Kepala BPS Provinsi Papua Adriana Helena Carolina di Jayapura, Jumat, mengatakan dari sisi produksi, pertumbuhan ini disebabkan oleh pertumbuhan lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 16,62 persen.

"Lapangan usaha ini merupakan lapangan usaha dengan kontribusi terbesar (28,27 persen)," katanya.

Baca juga: Papua Barat siap genjot pertumbuhan ekonomi tahun 2021

Menurut Adriana, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen ekspor barang dan jasa yang tumbuh sebesar 51,18 persen.

"Ekonomi Papua pada triwulan keempat 2020 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu (y-on-y) mengalami pertumbuhan sebesar 6,92 persen," ujarnya.

Demikian juga, kata dia, jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q), ekonomi Papua mengalami pertumbuhan sebesar 5,09 persen.

Baca juga: BPS: Ekonomi Indonesia tumbuh minus pertama kali sejak 1998

"Perekonomian Papua pada tahun 2020 jika dilihat tanpa kategori pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi sebesar minus 3,51 persen," katanya lagi.

Sedangkan selama triwulan keempat 2020 secara year on year, kata dia, ekonomi Papua mengalami kontraksi sebesar minus 6,83 persen dan tumbuh 2,19 persen secara kuartalan.

"Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita dengan pertambangan dan penggalian pada 2020 mencapai Rp57,9 juta, sedangkan tanpa pertambangan dan penggalian sebesar Rp41,5 juta," ujarnya.

Baca juga: BPS catat ekonomi Indonesia pada 2020 terkontraksi 2,07 persen