Di Tengah Suasana Duka Ada Suara Anti-Kerajaan yang Dibungkam

Merdeka.com - Merdeka.com - Polisi Inggris menuai kecaman dari kelompok kebebasan warga sipil karena perlakuan kasar mereka terhadap sejumlah demonstran anti-kerajaan yang menentang penobatan Charles sebagai Raja baru.

Sejumlah cuplikan video beredar di media sosial Senin lalu memperlihatkan seorang demonstran perempuan membawa selebaran bertuliskan "Not My King" kemudian daia diringkus oleh sedikitnya empat petugas di luar gedung parlemen Inggris.

Dia terlihat digiring menjauh dari lokasi sebelumnya di depan gerbang gedung parlemen di London.

Pengacara dan aktivis iklim Paul Powlesland juga mengaku di Twitter, dia diperingatkan oleh seorang petugas setelah mengacungkan kertas kosong di depan gedung parlemen.

"Baru saja dari Alun-Alun Parlemen dan mengacungkan kertas kosong. Petugas datang dan menanyakan identitas saya. Dia mengatakan jika saya menulis "Not My King" di kertas itu maka saya akan ditangkap karena melanggar undang-undang ketertiban umum karena seseorang bisa tersinggung," kata Powlesland di akun Twitternya, seperti dilansir laman South China Morning Post, Selasa (13/9).

Inggris masih dalam suasana berkabung setelah Ratu Elizabeth II wafat Kamis lalu dalam usia 96 tahun. Rakyat Inggris sebagian besar merasakan kesedihan dan menyampaikan rasa simpati kepada keluarga kerajaan.

Namun situasi ini juga menimbulkan tanya bagi kelompok kecil masyarakat sipil yang mendapat perlakuan kasar dari aparat keamanan karena menentang kerajaan.

"Jika orang ditangkap hanya karena membawa selebaran protes makan ini bertentangan dengan demokrasi dan sangat mungkin melanggar hukum," kata Big Brother Watch dalam pernyataannya. "Polisi punya tugas melindungi hak warga untuk berunjuk rasa sebagaimana mereka punya tugas memfasilitasi hak orang untuk menyampaikan dukungan, duka, atau penghormatan."

Pada insiden lain seorang pria 45 tahun ditangkap di Oxford, selatan Inggris Ahad lalu karena dia berteriak "Siapa yang memilih dia?" ketika pengumuman penobatan Charles sebagai Raja baru Inggris.

Jodie Beck dari kelompok kampanye Liberty mengatakan hak untuk berunjuk rasa "penting bagi sehat dan berfungsinya demokrasi."

"Sangat disayangkan melihat polisi menggunakan kekuasaan mereka dengan cara keras seperti itu untuk meredam kebebasan berpendapat dan berekspresi," kata dia dalam pernyataan.

Kepolisian Metropolitan London mengetahui ada petugas mereka yang bertindak berlebihan pada Ahad lalu.

"Publik tentu berhak untuk protes," kata wakil asisten komisioner Stuart Cundy.

"Kami sudah menegaskan soal ini kepada semua petugas yang terlibat di lapangan dalam situasi saat ini dan kami akan melanjutkan melakukan tugas itu."

Seorang perempuan lain yang mengacungkan kertas "hapuskan monarki" dalam acara penobatan Raja Charles di Edinburgh Ahad lalu juga sudah didakwa, kata sejumlah laporan.

"Tentu saja saat ini adalah waktunya untuk berduka bagi mayoritas rakyat negeri ini," kata juru bicara Perdana Menteri Liz Truss kepada wartawan di London kemarin.

"Tapi hak dasar untuk berunjuk rasa tetap penting bagi demokrasi."

Kelompok Anti-Monarki memang hanya minoritas di Inggris, dengan hanya 13 persen dari responden yang menilai monarki "buruk bagi Inggris", menurut jajak pendapat Mei tahun ini oleh lembaga survei YuGov.

Sebanyak 54 persen responden memandang monarki "baik" bagi Inggris. [pan]