Diabetesi Tiba-Tiba Sakit Berat, Jangan Tunda ke Dokter

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Penyandang diabetes (diabetesi) yang mendadak sakit berat seperti demam tinggi, mual, muntah atau diare sebaiknya segera memeriksakan kesehatannya ke dokter atau pergi ke rumah sakit.

Layanan telemedisin atau konsultasi jarak jauh yang disediakan pihak penyedia layanan kesehatan bisa dimanfaatkan dengan syarat pasien dalam kondisi stabil. Namun, jika tiba-tiba sakit lebih baik segera ke dokter.

"Tiba-tiba sakit berat seperti demam tinggi gangguan penglihatan, luka tidak sembuh-sembuh, gula darah mendadak tinggi atau malah rendah, mual muntah, diare, jangan tunda datang ke rumah sakit atau IGD," kata dokter spesialis penyakit dalam dari Divisi Endokrin, Metabolik dan Diabetes Departemen Penyakit Dalam RSCM-FKUI, Martha Rosana.

Selama menjalani pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan, diabetesi harus tetap menerapkan protokol kesehatan. Mulai dari mengenakan masker ganda, rutin mencuci tangan, menjaga jarak dengan orang lain.

Diabetes menjadi salah satu penyakit penyerta atau komorbid pasien COVID-19. Mereka yang terkena COVID-19 dan diabetes berpeluang mengalami sakit lebih berat sehingga memerlukan perawatan di ICU.

Tingkat kematian pasien pun lebih tinggi apabila gula darah pasien tak terkontrol seperti mengutip Antara.

Diabetes dan COVID-19Hubungan diabetes dan COVID-19 berlangsung dua arah. Di satu sisi diabetes bisa menyebabkan sakit COVID-19 lebih parah dan di sisi lain, COVID-19 membuat kontrol gula darah menjadi lebih buruk.

"Bisa jadi selama COVID-19 gula darahnya jadi tak terkontrol. Diabetes bisa membuat kemungkinan COVID-19 lebih parah dan COVID-19 menyebabkan kontrol gula darah lebih buruk. SARS-CoV-2 memang menyerang seluruh sel tubuh termasuk sel pankreas," kata dia.

Terkait vaksin pada penyandang diabetes, saat ini diizinkan diberikan pada mereka yang gulanya belum terkontrol sekalipun asalkan pasien tidak dalam kondisi sakit akut. Para dokter tidak lagi mensyaratkan gula darah tertentu atau HbA1C tertentu untuk pasien diabetes bisa mendapatkan vaksin COVID-19.

"Mau gula darahnya masih belum terkontrol, asal dia tidak dalam kondisi sakit akut, boleh diberikan vaksinasi," kata Martha.

Diabetes Memperparah COVID-19?

Diabetes dan COVID-19 bisa saling memengaruhi. Di satu sisi diabetes bisa menyebabkan sakit COVID-19 lebih parah, sementara itu, COVID-19 membuat kontrol gula darah menjadi lebih buruk.

"Bisa jadi selama COVID-19 gula darahnya jadi tak terkontrol. Diabetes bisa membuat kemungkinan COVID-19 lebih parah dan COVID-19 menyebabkan kontrol gula darah lebih buruk. SARS-CoV-2 memang menyerang seluruh sel tubuh termasuk sel pankreas," kata dia.

Terkait vaksin pada penyandang diabetes, saat ini diizinkan diberikan pada mereka yang gulanya belum terkontrol sekalipun asalkan pasien tidak dalam kondisi sakit akut. Para dokter tidak lagi mensyaratkan gula darah tertentu atau HbA1C tertentu untuk pasien diabetes bisa mendapatkan vaksin COVID-19.

"Mau gula darahnya masih belum terkontrol, asal dia tidak dalam kondisi sakit akut, boleh diberikan vaksinasi," kata Martha.

Bedanya dengan pasien yang sudah terkontrol, respons vaksin bisa lebih baik. Walau begitu, pasien tetap disarankan berkonsultasi dengan dokter yang merawat sebelum mendapatkan suntikan vaksin.

Infografis Jangan Jenuh 6M Meski Sudah Vaksinasi

Infografis Jangan Jenuh 6M Meski Sudah Vaksinasi (Liputan6.com/Niman)
Infografis Jangan Jenuh 6M Meski Sudah Vaksinasi (Liputan6.com/Niman)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel