AS Diam-Diam Manfaatkan Konflik Ukraina untuk Perang Lawan Rusia di Masa Depan

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Angkatan Darat AS berlatih untuk melakukan pertempuran di lingkungan yang dibuat mirip dengan kondisi saat Rusia menyerang Ukraina, seperti dilaporkan Associated Press (AP) pada Sabtu.

Tujuan dari latihan perang yang berlangsung di California bulan ini untuk "mempersiapkan pertempuran di masa depan melawan musuh besar seperti Rusia atau China".

AP melaporkan, beberapa peserta dalam latihan perang di Pusat Pelatihan Nasional Benteng Irwin di Gurun Mojave berbicara dalam bahasa Rusia. Sekitar 4.500 tentara dari Brigade ke-2, Divisi Kavaleri ke-1 diadu melawan pasukan fiktif "Devonian" – latihan yang jelas-jelas mewakili Rusia – yang mengendalikan kota fiktif Ujen.

Dalam latihan itu, musuh menembakkan roket dan rudal. Mereka juga menggunakan kampanye disinformasi yang canggih untuk membuat "tuduhan palsu" terhadap pasukan Amerika. Para peserta dalam latihan itu "menyiapkan ponsel mereka untuk merekam dan mengunggah dengan cepat ke media sosial," kata laporan itu.

"Menurut saya saat ini seluruh Angkatan Darat benar-benar melihat apa yang terjadi di Ukraina dan mencoba untuk mengambil pelajaran," jelas Sekretaris Angkatan Darat, Christine Wormuth kepada AP.

"Pengalaman Rusia-Ukraina adalah ilustrasi yang sangat kuat bagi Angkatan Darat kami tentang betapa pentingnya domain informasi nantinya," lanjutnya, dikutip dari laman Russia Today, Senin (18/4).

Selama konflik, Moskow dan Kiev berulang kali saling tuduh telah menyebarkan disinformasi. Sementara itu, intelijen AS mengakui bahwa informasinya sendiri tentang situasi tersebut tidak "kokoh". Sebuah laporan NBC News awal bulan ini mengutip pejabat AS yang mengatakan bahwa Washington mempublikasikan beberapa data yang belum diverifikasi sebagai bagian dari "perang informasi" melawan Rusia.

Bantuan AS untuk Ukraina

AS dan sekutunya juga memasok Ukraina dengan persenjataan dan peralatan perang lainnya sejak Rusia menginvasi negara itu pada 24 Februari lalu. Pada Rabu, Presiden AS Joe Biden mengumumkan bantuan militer tambahan sebesar USD 800 juta untuk Kiev.

Dana itu akan digunakan untuk membeli howitzer 155mm, pengangkut personel lapis baja, radar dan drone kamikaze, di antara barang-barang lainnya.

"Rakyat Amerika akan terus berdiri bersama orang-orang Ukraina yang berani dalam perjuangan mereka untuk kebebasan," kata Biden dalam sebuah pernyataan.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan bulan ini, "membanjiri" Ukraina dengan senjata Barat akan memiliki "dampak negatif" pada pembicaraan damai. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel