Dianggap Kooperatif, 2 Tersangka Kasus Berdendang Bergoyang Tak Dikenakan Wajib Lapor

Merdeka.com - Merdeka.com - Penyidik Polres Metro Jakarta Pusat belum mengenakan wajib lapor terhadap tersangka HA dan DP. Kedua tersangka merupakan pihak bertanggung jawab atas kerusuhan konser musik 'Berdendang Bergoyang' yang diadakan di Istora Senayan, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Komaruddin mengakui, belum mengenakan wajib lapor terhadap kedua tersangka. Namun, tidak menutup kemungkinan akan dikenakan wajib lapor dari penyidik.

"Hal itu bisa saja (wajib lapor), tapi itu tentu berdasarkan permintaan atau kepentingan dari penyidikan ya. Tentu hal itu dilakukan untuk memudahkan proses penyidikan," ungkap Komarudin, Selasa (8/11).

Komarudin mengungkap alasan belum mengenakan wajib lapor terhadap HA dan DP. Menurut dia, keduanya bersikap kooperatif selama menjalani pemeriksaan.

Selain itu, keputusan wajib lapor merupakan hak dari penyidik yang menangani perkara. Sementara Kapolres Metro Jakarta Pusat tidak dapat mengintervensi.

"Apakah nanti dikenakan wajib lapor atau tidak, makanya itu nanti masuk ke ranah penyidik ya, saya tidak bisa intervensi," jelas Komarudin.

Tidak Ditahan

Tak hanya tak dikenakan wajib lapor, kedua tersangka juga belum ditahan. Meskipun kepolisian telah melakukan gelar perkara dan menetapkan status tersangka.

"(Belum ditahan) karena mereka kooperatif selama proses pemeriksaan," kata Komarudin dalam pernyataannya yang dikutip, Senin (7/11).

Selain kooperatif, kedua tersangka tidak ditahan karena diancam pidana di bawah lima tahun penjara. Ancaman tersebut merujuk pada Pasal 360 KUHP Ayat 2 dan Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2013 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Komarudin membeberkan peran kedua tersangka dalam konser 'Berdendang Bergoyang’. HA merupakan penanggung jawab konser. Sementara DP sebagai direktur perusahaan yang menaungi event organizer konser Berdendang Bergoyang.

"Untuk jabatan, HA ini sebagai penanggung jawab acara. Sedangkan DP adalah direktur perusahaanya, tapi saya lupa namanya kalau EO itu kan namanya emrio tapi diatasnya emrio itu ada direktur," jelasnya.

17 Saksi Sudah Diperiksa

Polisi telah memeriksa 17 saksi dalam mengusut dugaan pelanggaran pidana dalam konser bertajuk Berdendang Bergoyang di Istora Senayan, Jakarta Pusat. Tiga dari 17 saksi itu di antaranya dua Satgas Covid-19 dan ahli.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Komarudin mengatakan, pemeriksaan Satgas Covid-19 untuk mengetahui rekomendasi jumlah penonton konser musik tersebut. Dari keterangan dua Satgas Covid-19 terungkap bahwa panitia Berdendang Bergoyang mengajukan izin jumlah penonton 5.000 orang.

"Jadi mereka sudah menjual tiket puluhan ribu tapi mengajukan ke Satgas Covid hanya 5 ribu orang dan rekomendasi yang keluar dari Satgas Covid pun hanya 5 ribu," kata Komarudin dalam keterangannya dikutip Sabtu (5/11).

Dari pemeriksaan yang dilakukan polisi juga terungkap bahwa panitia telah menjual tiket sejak bulan April hingga 14 Oktober lalu. Jumlah total tiket terjual 27.879.

Namun panitia tidak mengindahkan rekomendasi Satgas Covid-19 sesuai aturan Kemendagri Nomor 45 tahun 2022 yang diterbitkan awal Oktober. Dalam aturan itu dijelaskan bahwa DKI Jakarta masih dalam status PPKM level satu.

"Dengan jumlah pengunjung kegiatan itu boleh sampai 100 persen, nah 100 persen ini yang tidak diindahkan penyelenggara sehingga kita kenakan pasal 93 Undang-Undang Kekarantinaan ancaman hukuman 1 tahun denda 100 juta rupiah," ujar dia.

Polisi mengenakan pasal berlapis yakni pasal dugaan pasal 360 ayat 2 terkait kelalaian sehingga menyebabkan orang lain luka serta pasal 93 Undang-Undang nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. [tin]