Diare hingga Prestasi Menurun, Dampak Kurang Zat Besi Pada Anak

Adinda Permatasari, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVAZat besi merupakan salah satu sumber gizi mikro yang kerap diabaikan oleh para orangtua untuk buah hatinya. Padahal, kekurangan zat besi bisa berdampak besar pada kesehatan fisik serta psikis anak. Apa saja dampaknya?

Dijelaskan Dokter Spesialis Gizi Klinis Luciana B. Sutanto, anemia menjadi salah satu dampak yang cukup sering terjadi pada anak yang kekurangan zat besi. Namun, banyak yang tak menyadari bahwa dampak dari anemia ini akan berpengaruh secara luas.

“Kekurangan zat besi pada anak berpotensi menghambat pertumbuhan kognitif, motorik, sensorik, dan sosial anak. Jika tidak ditangani secara tepat, dampaknya bisa jadi permanen," kata Luciana dalam acara yang digagas oleh SGM Eksplor, baru-baru ini.

Tak hanya itu, pada balita yang kekurangan zat besi, memicu perkembangan otak terhambat serta risiko diare meningkat. Dalam jangka panjang, imunitas anak perlahan menurun, disertai penurunan kognitif dan performa edukasi.

Sementara itu, Psikolog anak dan keluarga dan keluarga dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani menjelaskan bahwa kekurangan zat besi pada fisik itu, pada akhirnya berdampak pada psikis anak. Sebab, anak menjadi sulit beraktivitas sehingga sulit berinteraksi dengan teman sebayanya.

"Anak yang kekurangan zat besi tidak hanya mudah lelah, lemas, dan tidak seaktif teman-temannya yang lain. Ketika anak kekurangan zat besi, anak akan sulit konsentrasi, jadi dia akan mudah terdistraksi, gampang teralihkan pikirannya," ujar Nina, sapaan akrabnya.

Dengan sulitnya berkonsentrasi, daya tangkap si kecil menjadi lebih rendah dibanding seusianya. Ini bisa berujung pada prestasi yang menurun hingga rasa minder yang menyertainya.

"Kalau daya tangkapnya rendah, maka anak akan jadi mudah lupa. Inilah yang kemudian membawa dampak jangka panjangnya, yakni prestasinya rendah,” tambah Nina.

Untuk itu, Nina dan Luciana sepakat bahwa sumber gizi penting untuk dikonsumsi anak agar zat besi tercukupi. Luciana menekankan, makanan yang kaya zat besi mencakup hati ayam, daging merah, bayam, susu, hingga ikan.

Asupan zat besi, kata Luciana, sebaiknya disertai konsumsi vitamin C. Vitamin C sendiri juga berperan cukup penting lantaran dapat mempermudah proses penyerapan zat besi itu sendiri.