Diary Fimela: Berawal dari Hobi, Linda Yuli Yani Raup Omzet Rp 500 Juta dari Bisnis Aksesoris

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Banyak orang yang mengisi waktu luang dengan menjalankan hobi. Namun, siapa sangka sebuah hobi yang dijalankan secara serius, bisa berkembang menjadi bisnis yang potensial. Seperti halnya Linda Yuli Yani, founder Elye Craft bisnis suplai aksesoris handmade.

Setelah berhenti dari pekerjaanya sebagai karyawan BUMN, perempuan yang akrab disapa Linda ini memutuskan untuk kembali menekuni hobinya di bidang kerajinan tangan, khususnya aksesoris seperti kalung, gelang, tas macrame, hingga strap masker dan connector masker. Tak disangka, usaha yang dibangun hanya bermodalkan Rp 400 ribu ini bisa berkembang hingga sekarang

TERKAIT: Diary Fimela: Studio Dapur, Upaya Dongkrak Derajat Kerajinan Bambu hingga Sejahterakan Perajin di Desa

TERKAIT: Diary Fimela: Peduli Bumi, UMKM Ini Berinovasi Ubah Pelepah Pinang Jadi Pengganti Styrofoam

TERKAIT: Diary Fimela: Kisah Sukses Brand Fashion Lokal, Jadi Langganan Selebritas Tanah Air hingga Tampil di Times Square New York

“Awalnya, saya tidak berniat menjadikan ini menjadi suatu bisnis yang menjanjikan, jadi hanya mengikuti hobi saja. Namun setelah resign kerja, pada 21 April 2015 saya mulai menekuni hobi ini menjadi bisnis dengan modal awal 400 ribu untuk beli alat crafting,” kata Linda saat dihubungi langsung oleh Fimela.

Dengan menggunakan Instagram sebagai media promosi dan berbekal pengalaman di pekerjaan sebelumnya, Linda mengaku cukup terbantu untuk persoalan marketing dan pelayanan kepada pembeli.

Sempat Vakum

Kisah sukses eks karyawan BUMN yang mengubah hobi jadi sumber rezeki dari bisnis aksesoris. (dok/elye craft),
Kisah sukses eks karyawan BUMN yang mengubah hobi jadi sumber rezeki dari bisnis aksesoris. (dok/elye craft),

Meski bisnis yang dijalankan Linda berjalan mulus, dia sempat terhenti membuat kerajinan karena memiliki momongan dan seluruh waktunya difokuskan untuk mengurus anak. Namun atas izin suami dan dukungan keluarga, Linda pun berinisiatif untuk meneruskan bisnisnya dengan menambah produk dagangan menjadi pemasok alat-alat atau bahan-bahan pembuat kerajinan tangan.

“Setelah melahirkan, saya sempat vakum sekitar 3 bulan untuk mengurus anak. Padahal waktu itu saya sudah punya cukup customer. Namun, atas dukungan suami dan keluarga saya melanjutkan kembali bisnis aksesori ini. Tapi jadi lebih bergeser dari awalnya hanya memproduksi aksesoris seperti bros, gelang, kalung, kini saya coba suplai bahan-bahan aksesorisnya,” tutur ibu dari dua anak itu.

Hingga kini, bisnis kerajinan aksesoris Linda telah berkembang menjadi tiga bagian, yakni Elye Craft yang berfokus pada suplai bahan-bahan aksesoris, Elye Stuff yang berfokus menjual hasil karya berupa strap masker dan lain-lain, serta Caramel Macrame yang menjual hasil karya tas macrame (tali temali).

Omzet yang didapat dari modal awal Rp 400 ribu pun mulai berkembang, dari Rp 3 juta per bulan di tahun pertama menjadi Rp 500 juta per bulan saat ini.

Omzet merosot karena pandemi

Kisah sukses eks karyawan BUMN yang mengubah hobi jadi sumber rezeki dari bisnis aksesoris. (dok/elye craft),
Kisah sukses eks karyawan BUMN yang mengubah hobi jadi sumber rezeki dari bisnis aksesoris. (dok/elye craft),

Perjuangannya mempertahankan bisnis aksesoris dilalui dengan berbagai tantangan. Bisnisnya pun sempat terdampak pandemi hingga mengalami penurunan omzet yang cukup drastis.

Dari yang awalnya omzet mencapai 400-500 juta per bulan, turun hingga 70-100 juta per bulan akibat pandemi. Penurunan ini tentu membuat Linda kewalahan karena memiliki karyawan dan kebutuhan lainnya seperti sewa tempat usaha.

“Karena saat itu masyarakat lebih fokus membeli alat-alat kesehatan. Sehingga penjualan saya turun, dari yang setiap harinya kirim paket bisa mencapai 40-100, turun jadi 3-4 paket saja per harinya. Sedangkan aku punya karyawan yang harus digaji dan operasional toko yang harus dipenuhi,” kata perempuan 31 tahun itu.

Meski demikian, Linda memutuskan untuk tidak merumahkan karyawannya. Linda dan suaminya tetap bersikeras mempertahankan karyawan dan mencari cara untuk kembali membangkitkan usaha.

Setelah memutar otak, Linda pun berinovasi meluncurkan strap dan connector masker. Tak disangka, usaha kerasnya membuahkan hasil. Inovasinya tersebut disambut baik oleh masyarakat.

“Awalnya pandemi itu jadi musibah bagi kami, namun sekarang jadi berkah. Karena connector masker dan strap masker ini jadi salah satu aksesoris handmade yang paling banyak dicari di masa pandemi saat ini. Hampir setiap orang butuh dan pake strap dan connector masker, jadi alhamdulillah penjualan kita naik banget. Alhamdulillah ada hikmahnya,” lanjutnya.

Tuntutan sebagai pelaku usaha aksesoris

Kisah sukses eks karyawan BUMN yang mengubah hobi jadi sumber rezeki dari bisnis aksesoris. (dok/elye craft),
Kisah sukses eks karyawan BUMN yang mengubah hobi jadi sumber rezeki dari bisnis aksesoris. (dok/elye craft),

Walaupun menjalankan bisnis dari hobi, berbisnis di bidang kriya ini bukan tanpa tuntutan. Linda mengaku dituntut untuk menghasilkan karya yang unik dan menarik. Terlebih aksesoris terus berkembang mengikuti zaman. Keberadaan kompetitor pun harus dijadikan sebagai acuan untuk menciptakan produk yang lebih baik.

“Dan ini menjadi tantangan karena kami harus meluncurkan produk yang kreatif, baru, unik , dan punya value yang lebih agar kita punya nilai yang berbeda dari competitor,” tutur Linda.

Produk buatannya kini telah tersebar ke penjuru Indonesia dari Aceh sampai ke Jayapura. Aksesorisnya pun diminati di luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Taiwan, hingga Hong Kong.

“Strategi aku adalah harus terus kreatif memunculkan ide-ide baru yang punya value, unik, dan original agar customer terus merasa terbarukan dan uptodate. Kedua, membangun teamwork yang solid karena disini aku tidak sendirian aku bersama tim yang berkompeten dibidangnya masing-masing. Ketiga, terus belajar jangan terus merasa puas dari apa yang kita miliki sekarang. Karena kalau kita sudah merasa puas, kita gak akan berkembang ke titik yang lebih tinggi lagi,"

“Jadi teruslah seperti gelas yang kosong agar kita terus haus mengisi ide-ide baru dan sesuatu yang baru supaya kita lebih upgrade lagi,” tandasnya.

#Elevate Women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel