Diary Fimela: Dhea Ariesta, Si Gadis Minang yang Penuhi Sumpah Pemuda dengan Lestarikan Budaya Tari Tradisional

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Indonesia memang dianugerahi budaya yang begitu kaya, salah satunya tari tradisional Namun untuk melestarikannya bukanlah perkara mudah. Meski demikian, tidak berarti tidak ada masyarakat yang berusaha melestarikan budaya Indonesia. Terutama di kalangan anak muda. Ikrar yang tertuang dalam Sumpah Pemuda menjadi pegangan bagi pemuda Indonesia untuk melestarikan budaya dan warisan bangsa. Generasi muda menjadi kunci utama dalam melestarikan budaya Indonesia.

Gempuran globalisasi yang makin meluas seharusnya bisa menjadi sarana generasi muda untuk melestarikan budaya Indonesia dengan cara kekinian. Salah satunya membuat konten di media sosial untuk membantu melestarikan budaya. Hal ini yang menginspirasi Dhea Ariesta untuk membuat konten di SnackVideo dengan tari tradisional. Dhea sendiri merupakan penyuka seni kebudayaan tradisional, terutama yang berasal dari tanah kelahirannya, Minangkabau.

TERKAIT: Tari Tradisional Paraguay yang Sanggup Buat Kamu Heran

TERKAIT: Antusiasme Tinggi, Lebih Dari 9.000 Orang Berpartisipasi dalam Indonesia Menari Virtual 2021

Sejak duduk di bangku SMA, Dhea telah belajar berbagai kesenian tari. Tak jarang, Dhea pun menyaksikan pertunjukkan seni sebagai hiburan sekaligus apresiasi kepada pelaku seni. Barulah di masa kuliah Dhea mendalam seni kebudayaan tradisional, tari piring.

Tari piring merupakan sebuah tari tradisional khas Minangkabau. Dalam tarian ini, para penari terkenal dengan mengayun-ayunkan piring yang digenggam, mengikuti irama musik yang ada. Selain gerakan ayunan yang cepat, penari juga sesekali mengetuk si piring. Di akhir tarian, para penari akan melemparkan piring ke lantai dan mereka akan menari di atas pecahan piring.

Menekuni tari piring

Simak cerita Dhea dalam melestarikan tari tradisional (SnackVideo)
Simak cerita Dhea dalam melestarikan tari tradisional (SnackVideo)

Kini Dhea telah menekuni tari piring selama enam tahun. Berawal dari dirinya yang cukup aktif mengikuti paguyuban daerah Minangkabau, Dhea mulai mengikuti Sendratarik. Ini merupakan pementasan tari dan teatrikal di acara tahunan Minang Culture Festival. Dari situ, Dhea sering tampil di beberapa acara dan keahliannya dalam menari turut terasah dengan baik.

Dengan berbagai pengalaman yang dimiliknya, Dhea pun mengejar salah satu mimpinya, yaitu menjadi konten kreator. Dhea pun mulai membuat konten dengan menampilkan hobi dan keahliannya di SnackVideo.

Di awal kariernya sebagai konten kreator, Dhea menggali banyak ide yang sekiranya bisa menjadi tren. Salah satunya cara adalah dengan terbuka akan komentar para penontonnya yang terkadang bisa menjadi sumber ide. Waktu pembuatan konten yang dimulai dari latihan, pemilihan baju, makeup, hingga pengambilan gambar, ia lakukan sendiri secara mandiri.

Giat membuat konten

"Latihannya sendiri bisa memakan waktu yang beragam. Apabila tari yang ingin dibawakan sudah saya kuasai, saya hanya butuh latihan pengulangan saja. Namun, apabila tariannya baru, saya bisa membutuhkan waktu sekitar satu hari untuk menguasainya," kata Dhea.

Butuh waktu kurang lebih 1 jam 30 menit untuk menggarap konten. Tidak jarang, Dhea bisa menggarap dua konten dalam sehari dengan waktu hingga dua jam.

"Selain menyalurkan hobi, menjadi konten kreator kesenian daerah juga memberikan kesempatan bagi saya untuk melestarikan tarian daerah. Dari konten-konten yang saya buat, saya ingin memberitahu kepada dunia bahwa masih ada loh anak muda yang gemar terhadap tarian daerah," ucapnya.

Saat ini, Dhea tengah belajar beberapa jenis tari tradisional lainnya. Seperti tari Melayu, Zapin, saman, dan tari tradisional lainnya untuk memperdalam minatnya terhadap tarian daerah.

Simak video berikut ini

#elevate women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel