Diary Fimela: Kisah Sukses Pasutri Olah Limbah Tekstil jadi Seprai Ramah Lingkungan

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Kerusakan lingkungan semakin memprihatinkan. Hal ini juga disadari oleh pasangan suami istri asal Surabaya, Ibrahim Syahputra dan Indah Catur Agustin yang berhasil menyulap limbah tekstil menjadi produk seprai ramah lingkungan. Hal ini bermula ketika mereka menjadi reseller sebuah merek seprei di tahun 2009. Dikutip dari Liputan6.com, keduanya mengaku jika bisnisnya semakin berkembang, sehingga banyaknya permintaan pelanggan membuat keduanya memutuskan untuk memproduksi produknya sendiri.

Tekad inilah yang akhirnya membuat bisnis seprainya semakin menjanjikan. Keduanya menciptakan produk yang lembut, berkualitas, disertai harga terjangkau. "Rata-rata produk bedding dengan bahan yang bagus (lembut) dijual dengan harga yang tidak murah. Dari situ tercetus ide untuk bikin produk bedding sendiri dengan kualitas bahan yang lembut tapi harganya terjangkau. Setiap produk yang saya hasilkan pasti saya coba dulu. Kalau dirasa tidak nyaman ya tidak saya jual," ucapnya.

Penjualan dilakukan secara online, dan semakin meningkatkan flow penjualanan. Indah menceritakan, seiring berkembangnya usaha sleep buddy memunculkan permasalahan baru yaitu sampah. Untuk itu, mereka berdua memutuskan memproduksi produk daur ulang dari banyaknya potongan kain sprei, bantal, dan lainnya yang tidak terpakai.

TERKAIT: 5 Cara Mencuci Seprai yang Benar agar Bebas Kuman dan Bakteri

TERKAIT: Bantal dan Seprai Kotor Bisa Jadi Penyebab Jerawat

TERKAIT: 5 Cara Mencuci Seprai yang Benar agar Bebas Kuman dan Bakteri

Menggunakan material daur ulang

View this post on Instagram

A post shared by Sprei | Bed Cover (@sleep.buddy)"Tadinya potongan kain yang tidak terpakai hanya disimpan dalam karung atau dijual. Lama-lama numpuk karena kalau dijual juga tidak bisa cepat. Akhirnya saya berpikir untuk bisa memanfaatkan kain-kain sisa itu pada produk sleep buddy," tuturnya.

Kain-kain sisa itu, lanjut Indah, lantas diproses menjadi benang. Indah juga mengaku jika benang hasil proses kain daur ulang teksturnya tak sehalus kain katun yang biasa digunakannya.

"Jadinya dalam satu produk hanya sekitar 20 sampai 30 persen memakai kain daur ulang. Biasanya saya jadikan pinggiran atau hiasannya karena teksturnya tidak sehalus kain katun yang selama ini kita pakai," katanya.

Indah akhirnya kembali membuat alternatif material baru dengan mendaur ulang potongan kain sisa produksi untuk dimanfaatkan kembali menjadi produk kualitas tinggi dan unik seperti bedding bed sofa cushion (kain pembungkus bantal sofa), table runner (taplak meja), dan throw blanket (selimut sofa).

Proses perawatan yang mudah

"Ketiga produk daur ulang tersebut kini dijual e-commerce dengan harga mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 360 ribu," ucapnya.

Indah mengungkapkan, produk daur ulang limbah tekstil membutuhkan perawatan ekstra. Indah menyarankan agar produk tidak dicuci menggunakan mesin cuci atau diberi pemutih pakaian.

“Cukup direndam pakai deterjen berbahan halus lalu dikucek sebentar dan dikeringkan pakai tangan saja,” ujarnya.

#Elevate Women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel