Diary Fimela: Mimpi 3 Sahabat Punya Bisnis Home Fragrance Sendiri, Besarkan CAMANI Jadi Brand Lokal yang Dikenal hingga Luar Negeri

·Bacaan 7 menit

Fimela.com, Jakarta Home fragrance memang sedang sangat populer saat ini, terutama di saat orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu mereka di rumah, menginginkan tempat yang nyaman untuk beraktivitas sehari-hari. Apa kamu juga salah satu yang mulai menggunakan home fragrance di masa pandemi ini, Sahabat FIMELA?

Diary Fimela kali ini, tim kami berkenalan dengan founder dari CAMANI, brand home fragrance lokal yang tentu telah banyak dikenal. Siapa sangka bahwa CAMANI berawal dari mimpi sederhana tiga perempuan bersahabat; Arficita, Akina Halusa, dan Rachel Liong, yang ingin memiliki bisnis mereka sendiri?

TERKAIT: Aroma Khas Indonesia Makin Eksis dengan Diffuser Lokal

TERKAIT: Diary Fimela: Cerita Jessica Indra Merintis Bisnis Resto dan Katering Berbarengan Saat Pandemi

TERKAIT: Diary Fimela: Berawal dari Hobi, Linda Yuli Yani Raup Omzet Rp 500 Juta dari Bisnis Aksesoris

"Kami bertiga ini teman kuliah di Belanda. Saat itu, kami sedang berpikir apakah ingin pulang ke Indonesia atau tinggal di sana aja, karena banyak teman-teman kami lebih memilih untuk pulang dan memulai bisnis sendiri di Indonesia, daripada bekerja di sana," jelas Akina Halusa mengawali cerita awal mula perjalanan CAMANI.

Menariknya lagi, CAMANI benar-benar merupakan debut bisnis bagi ketiganya, tidak ada dari mereka yang memiliki background bisnis di bidang home fragrance. CAMANI adalah bisnis yang mereka mulai dan bangun benar-benar dari nol.

CAMANI resmi diperkenalkan pada tahun 2015, setelah melalui perjalanan riset yang panjang sejak 2012. Tahun di mana bisnis home fragrance di Indonesia belum banyak dikenal, hingga bisa dibilang CAMANI merupakan pionir brand lokal untuk produk-produk diffuser mereka.

"Kita bertiga suka banget wangi-wangian, terutama Akina yang suka dititipin Mamanya wewangian dari Eropa. Kita awalnya nggak kepikiran akan bikin brand sendiri, karena waktu itu kita kepikiran pengen franchise aja, ada satu brand wewangian yang kita suka banget," sambung Arficita menjelaskan tentang awal mula terpikir untuk membuat CAMANI.

Namun, setelah riset yang cukup panjang, hingga ketiganya telah pulang ke Indonesia, baik Arficita, Akina, maupun Rachel merasa bahwa membangun bisnis sendiri lebih menguntungkan. Salah satu pertimbangan ketiganya saat akan memulai CAMANI adalah di tahun itu, belum ada brand lokal yang memiliki produk diffuser dengan desain urban, yang sekiranya juga akan disenangi oleh anak muda.

"Ada, tapi dulu di Indonesia masih sangat terbatas. Saingan kita dulu itu justru brand-brand internasional, seperti Dyptique. Akhirnya kita memberanikan diri untuk memulai CAMANI, dengan pikiran, ya masak dari sekian banyak orang Indonesia, nggak ada yang mau beli CAMANI sih, gitu aja dulu pikirannya," lanjut Arficita.

CAMANI, brand lokal yang dimulai dari mimpi 3 perempuan bersahabat

Produk reed diffuser CAMANI. Foto: Instagram/CAMANI Home.
Produk reed diffuser CAMANI. Foto: Instagram/CAMANI Home.

Membangun CAMANI dari awal hingga sekarang, ketiganya mengaku tidak memiliki tekanan apapun, terutama saat itu, ketiganya masih bekerja kantoran. Bisnis ini memang dimulai bukan untuk menjadikan ketiganya kaya raya, melainkan benar-benar lahir dari impian untuk bisa membesarkan bisnis sendiri.

"Kita dulu nggak ada pressure sama sekali, financial pressure juga nggak ada. Dulu pikiran kita cuma ingin punya bisnis sendiri dan punya uang jajan aja. Kita menemukan kita bertiga aja itu sudah senang sekali. Kita bertiga ini udah kayak kawin aja; ketemu, lalu klik aja udah," ungkap Arficita tentang persahabatannya bersama founder CAMANI lainnya.

Tanpa tekanan, bukan berarti mereka tidak menghadapi tantangan apapun. Mulai dari memperkenalkan CAMANI kepada pasar, hingga saat ini CAMANI berhasil dikenal dan dijual keluar negeri, dipenuhi kerja keras ketiga founder yang seperti tak kenal lelah.

"Kita awal mula memperkenalkan CAMANI itu door to door, awalnya jualan ke teman-teman terdekat aja. Lalu, ada momen orang nanya apakah CAMANI bisa dijadikan sebagai souvenir kawinan. Dari situ, kita mulai jual CAMANI untuk customer yang mau nikah, karena dari acara wedding, kita bisa dapat customer yang lebih luas lagi. Mulai deh, CAMANI dapat banyak tawaran untuk ikut pameran dan ditawarin beberapa toko untuk jualan di tempat mereka juga," jelas Akina.

Saat itu, ada juga tantangan untuk menyeimbangkan antara permintaan dengan stok produk yang dimiliki. Benar-benar dimulai dan dikerjakan oleh tiga orang saja, banyak momen mereka merasa kewalahan.

"Banyak deh momen-momen yang nggak bisa dilupain. Itu si Cita pernah didatengin rumahnya sama supir customer yang pengen beli CAMANI, dia sampe bongkar-bongkar lemari buat cari stok. Kita paling kewalahan itu dulu kalo udah masuk momen bulan puasa dan Lebaran. Dulu juga pernah kita nyiapin stok udah banyak banget, hari puasa kesepuluh, stok udah abis," kenang Arficita di awal memperkenalkan CAMANI.

"Iya, dulu challenge di awal adalah kapasitas kita sendiri sih. Kita juga jadi sadar bahwa market di Jakarta aja itu cukup besar, yang berarti kuantitas produk juga harus besar, dan jelas butuh modal yang besar banget," sambung Akina.

Tantangan demi tantangan yang dihadapi CAMANI dari awal perjalanan mereka hingga hari ini

Produk reed diffuser CAMANI. Foto: Document/CAMANI Home.
Produk reed diffuser CAMANI. Foto: Document/CAMANI Home.

Menceritakan awal mula perjalanan CAMANI, membuat ketiganya bersyukur telah memulai bisnis ini sejak tahun 2015. Banyaknya brand lokal lain yang juga mulai menjual diffuser, justru dilihat secara positif oleh ketiganya sebagai dorongan untuk berkembang.

"Dulu kita bersaingnya sama brand luar negeri, karena memang belum ada brand lokal yang produknya apple to apple sama kita. Akhirnya dulu, kita cari celah aspek apa yang kita bisa bersaing. Selain kualitas produk, kita juga berani bersaing dari segi desain. Kalau sekarang, kita bersyukur sekali sudah mulai dari tahun 2015, jadi sekarang kita sudah punya banyak orang yang bantuin kita, reseller sudah ada. Intinya, kita ini dalam satu CAMANI sudah bagus. Banyaknya brand-brand lokal lain yang bermunculan malah bagus, artinya kan marketnya memang sudah ada di Indonesia sendiri. Dan sudah kita sudah kebentuk, orang kalo mau cari wewangian yang Indonesia banget, ya ke kita," ungkap Akina tentang persaingan bisnis home fragrance saat ini.

Memasuki pandemi, CAMANI juga menghadapi tantangan lain. Walaupun telah memiliki reseller, berjualan secara online, maupun offline, customer experience tidak bisa diberikan secara maksimal.

"Kalau dari segi penjualan, di masa pandemi ini, kita malah bagus banget. Karena banyak orang di rumah aja, jadi mereka pengen rumah mereka nyaman kan, orang mulai pakai diffuser. Tapi ya itu, karena event offline nggak ada, orang nggak bisa cium-cium produk kita, padahal kalo home fragrance ya aku pribadi juga sukanya liat langsung produknya, cium langsung wanginya," jelas Arficita.

"Satu lagi, tantangan kita dari dulu sampai sekarang adalah mengedukasi customer tentang penggunaan produk dengan cara yang tepat. Kalo dulu, masih ada kesempatan ketemu sama pembeli, kita bisa jelasin, sekarang gimana caranya kita jualan online, bisa kasih edukasi yang tepat juga tentang produk kita. Kita nggak mau sembarangan, karena pengennya set market yang bener. Jadi kita berusaha untuk lebih informatif di online, kita kasih deskripsi yang sedetail mungkin," sambung Akina.

CAMANI telah memiliki 10 wangi khas Indonesia yang bisa kamu pilih sesuai keinginan, dalam 2 jenis produk; diffuser dan spray, dengan rentang harga mulai dari Rp200.000 hingga Rp400.000. Untuk diffuser, setiap set akan mendapatkan 12 stik dan produknya. Kamu cukup menggunakan 4 sampai 6 stik saja, yang disarankan untuk dibolak-balik setiap kamu membersihkan ruangan.

Setelah cairan mencapai setengah botol, ganti dengan sisa stik yang baru dan jangan lupa bolak-balik secara rutin. Sedangkan untuk spray, cukup semprotkan di saat-saat yang kamu inginkan.

Menurut Arficita, satu botol diffuser CAMANI bisa habis dalam 4 sampai 8 minggu, tergantung luas ruangan, kelembapan, dan sirkulasi udara. Sekarang CAMANI telah dijual hingga Singapura, Filipina, dan Thailand lewat Shopee, kamu juga bisa kepoin langsung akun Instagram CAMANI (@camanihome) loh, Sahabat FIMELA.

Tim yang solid dan partner yang sesuai, kunci keberhasilan CAMANI

Produk reed diffuser CAMANI. Foto: Instagram/CAMANI Home.
Produk reed diffuser CAMANI. Foto: Instagram/CAMANI Home.

Saat ditanya tentang rencana kedepan, baik Arficita, maupun Akina kompak menjawab ingin fokus untuk meningkatkan kualitas produk mereka menjadi lebih baik. CAMANI juga sudah mulai fokus untuk membuat produk dan program yang berkelanjutan, tidak hanya untuk customer, tapi juga lingkungan.

"Sekarang kita mau buat produk yang bisa kasih feedback buat customer dan lingkungan. Kita pengen bisa giveback," jelas Akina.

"CAMANI itu rahasianya cuma solid team, karyawan kita itu udah kayak temen. Kalo mau mulai bisnis itu keyakinannya harus 200%, jangan setengah-setengah. Kamu harus yakin sama produkmu, yakin sama partnermu," saran Akina untuk Sahabat FIMELA yang ingin memulai bisnis sendiri.

"Jangan takut untuk mencoba, jalanin aja dulu dengan smooth, maksudnya, jangan terlalu santai, tapi juga jangan terlalu nggoyo. Kamu juga harus cari partner yang bener-bener pas sama diri sendiri. Aku sendiri mana tahu sih kalau CAMANI bakal sebesar sekarang. Sekarang, CAMANI ini ya anak aku," tutup Arficita di akhir wawancara.

Solid team, good partner, keberanian memulai, serta kerja keras untuk bertahan dan membesarkan bisnis adalah kunci keberhasilan CAMANI hingga hari ini.

#Elevate Women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel