Diary Fimela: Perjalanan 20 Tahun Berkat Kebaya Memoles Busana Nasional ke Pelaminan

·Bacaan 5 menit

Fimela.com, Jakarta Ada gaun pengantin impian, tentu ada pula kebaya pengantin idaman untuk menjadi putri sehari, dalam momen sekali seumur hidup. Kebaya yang menjadi busana nasional kebanggan Indonesia, selalu jadi pilihan para mempelai perempuan yang hendak menuju pelaminan.

Seperti brand fashion Berkat Kebaya milik Devina Shanti yang nyaris 20 tahun memoles ornamen blus tipis yang dikemas dengan butiran pernak-pernik cantik. Hasilnya bukan hanya sebuah kebaya dengan pola detail indah, tapi sudah menjadi satu karya seni.

Salah satu mahakarya dalam membuat kebaya custom adalah saat mendesain untuk Shiren Sungkar. Ia memadupadankan warna broken white dan abu-abu, lalu pada bagian buntut pinggang ke bawah, coraknya dilukis oleh tangan.

Ia juga mendesain kebaya pernikahan pasangan Jenita Janet dan Danu Sofyan. Sederet figur publik dari seleb sampai pejabat jadi langganan tetap Berkat Kebaya, tak hanya untuk dipakai saat pernikahan, namun untuk acara-acara besar, kebaya rancangan Devina Shanti selalu jadi pilihan.

Secara organik, kebanyak dilirik oleh Nia Ramadhani, Raisa, Shireen dan Zaskia Sungkar, sampai Ayu Ting Ting dan Olla Ramlan. Termasuk artis-artis India dan selebgram ternama seperti Sarah Gibson dan Sylvia Genpati

Perjalanan Awal Devina Shanti Membangun Bisnis Berkat Kebaya

Nyaris 20 tahun brand fashion Berkat Kebaya rancangan Devina Shanti mendesain busana nasional menjadi baju pengantin paling diidamkan
Nyaris 20 tahun brand fashion Berkat Kebaya rancangan Devina Shanti mendesain busana nasional menjadi baju pengantin paling diidamkan

Brand fashion pakaian Devina Shanti diawali dari kepiawaian ibu dari tiga anak ini memainkan warna kontras dengan perpaduan corak yang memberikan kesan glamor namun tetap elegan. Berkat Kebaya mulai berdiri sejak tahun 2002 dengan awalnya hanya memiliki toko berukuran 26 m2 di pusat kota. Setelah lima tahun memiliki klien dari kalangan publik figur ternama, akhirnya Devina memiliki butik di Kawasan Tebet.

Awalnya Devina pernah sekolah A1 untuk menjadi dokter. Namun menyesuaikan kondisi ayahnya saat itu, ia mengambil sekolah Akuntansi di Trisakti pada tahun 1994 sampai 1998. Sembari mengerjakan skripsi ia mengambil freelance sebagai tenaga pengajar. Selang beberapa tahun bekerja, Devina mengambil kursus di lembaga pengajaran tata busana Susan Budihardjo.

Saat itu, ia bersama suami masih memiliki pekerjaan masing-masing. Devina dulunya seorang akuntan & pengajar, sedangkan sang suami merupakan manajer perusahaan tekstil. Devina melakukan pekerjaan sampingan di hari libur yang mendorongnya menciptakan desain kebayanya sendiri.

“Puji syukur, ketika saya membuatkan kebaya saat itu banyak yang tertarik. Mereka membeli sampai stok habis, padahal masih baru memproduksi beberapa saja. Kemudian banyak dari situ orang bertanya, dan stasiun TV mengundang saya sebagai narsum. Ketika sudah mulai mendapat atensi dari para fashion stylist, saya mendapat panggilan menjahitkan pakaian artis ternama,” ungkap pemilik akun Instagram @devinashantii.

Laris Manis Saat Mempublikasikan Buku

Devina Shanti
Devina Shanti

Bagi Devina, menjadi perancang busana merupakan anugrah yang amat ia syukuri. Wajah sumringah dari orang-orang yang mengenakan karyanya menjadi motivasi untuk selalu memberikan yang terbaik. Ia ingin mendorong Berkat Kebaya mewujudkan pancaran kepuasan dari para pelanggannya.

Dalam perjalanan awal karirnya, Devina ditawari pihak penerbit memasukan 150 pakaian yang ia kembangkan sendiri menjadi sebuah karya yang dibukukan. Devina mendedikasikan hasil karyanya ini dalam sebuah buku pertama berjudul “The Blessings of Kebaya” pada tahun 2014 & 2016 serta buku keduanya “The Blessings of Gamis dan Kaftan” di tahun 2015. Buku tersebut laku hingga ribuan unit yang tersebar ke seluruh Indonesia.

Sejak saat itu, banyak kliennya berdatangan dari luar pulau jawa. Ada juga yang sampai mengetahui karya Devina dari mancanegara. “Bersyukur sekali peminat Berkat Kebaya ada yang sampai datang dari Malaysia atau Singapura hanya untuk mendapatkan kesempatan mengenakan busana rancangan saya,” ujarnya.

Tantangannya Dalam Mendesain Setiap Karya

Berkat Kebaya
Berkat Kebaya

Meskipun sudah puluhan tahun berada di industri fashion kebaya, Devina masih harus terus mengeksplorasi dengan menciptakan kombinasi warna dan desain baru yang tidak membosankan. Akun Instagram @berkatkebaya yang saat ini memiliki 75 ribu followers lebih telah memposting beragam variasi kebaya berbeda yang diusung Devina.

Sejak tahun 2015, Berkat Kebaya mengusung warna-warna kalem dengan sentuhan yang lebih anggun dan feminim. “Dulu Berkat Kebaya hanya mempersiapkan desain custom, namun sekarang bisa sewa perdana & ready stock. Puluhan sampai ratusan pakaian bisa kami jual ke Malaysia dan Singapura, biasanya langsung habis karena limited edition,” tambah Devina.

Karya Devina juga menjadi sorotan di berbagai kawasan seperti Amerika Serikat, Perancis, Rusia, Timur Tengah dan India. Fotografer asal Dubai dan London juga menawari sesi pemotretan Berkat Kebaya. Sejak tahun 2007 masuk ke televisi, Berkat Kebaya semakin dikenal luas dari mulut ke mulut. Hingga saat ini, pelanggan Berkat Kebaya banyak tersebar di Dubai, Singapore, London UK, Srilanka, johor baru, dan Kuala Lumpur.

Devina sudah 3x membawa Berkat Kebaya tampil di ajang Singapore Fashion Show tahun 2009, 2013 dan 2018. Sempat ditawari untuk membawa karyanya ke New York & Prancis, perempuan yang banyak diliput oleh majalah perkawinan ini sempat mendatangi kota kelahiran brand Louis Vuitton untuk menemui tim internal International Fashion Week.

“Saya sempat ditawari Paris Fashion Week pada Maret 2020, namun seperti yang kita semua ketahui efek pandemi ini masih belum berakhir sehingga kemungkinannya masih belum bisa mengambil keputusan segera,” cerita Devina.

Kembali ke tahun sebelumnya, Devina juga dikontrak salah satu TV Nasional untuk memegang busana dari para artis India yang datang ke Indonesia. Ia juga sempat diundang ke TV untuk mengisi panggung fashion show dalam peragaan 12 baju. Sementara lain, Fashion Show Tunggal juga kerap digelar di Hotel Bidakara & JCC.

Berjalan Berdampingan Antara Menjadi Pengusaha & Desainer

Devina bercerita kalau dirinya masih tetap ingin mencoba hal baru dan yang berbeda dari apa yang sedang ia tekuni sekarang. Pernah juga Devina membuat terobosan gamis dan pakaian model lain, akan tetapi ia berfokus lebih pada kebaya karena dinilai spesial.

“Kebaya itu busana yang anggun bersahaja ketika membalut tubuh perempuan. Saya senang misalnya diminta menyiasati tubuh gemuk dengan kebaya kerah V atau sabrina, juga apabila harus mempercantik orang bertubuh kecil dengan penempatan payet dan sulam pada bagian depan kebaya,” tambahnya.

Di luar menekuni kebaya, Ibunda dari Raynand Jathniel Vasandani juga berfokus pada terobosan produk fashion lain yang bukan hanya sekedar pakaian. Sempat membuat produk wedding shoes, kedepan Devina ingin mengembangkan produk bernuansa Bali yang saat ini sedang ia konsepkan. Sang suami yang fokus di jas pengantin dan kemeja juga membantunya dari segi marketing.

Devina mempekerjakan 48 tukang payet yang ia ajarkan mulai dari 0. Prinsip hidupnya adalah selalu semangat dan mengatakan setiap pagi bahwa hari ini hari yang baik, hari membawa berkah, hari membawa kebahagiaan dan sukacita, serta hari membawa kedamaian hati.

#Elevate Women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel