Diary Fimela: Sivera Dian Getrida Dobrak Strereotip Peran Perempuan di Industri Energi dan Petrokimia

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Industri energi dan petrokimia selalu lekat dengan pekerjaan yang didominasi oleh laki-laki. Namun, Siveria Dian Getrida berhasil mematahkan stereotip itu dengan bekerja di PT Pupuk Kalimantan Timur yang memproduksi pupuk terbesar di Indonesia. Menempatkan perempuan untuk memiliki peran di industri manapun.

Dian merupakan sosok perempuan yang bertugas untuk menjaga stabilitas operasional pabrik. Dengan posisi Vice President Laboratorium di PKT, Dian merupakan satu dari 13 perempuan yang tergabung di anggota tim.

Sebelum menjadi VP Laboratorium, Dian telah meniti karir di PKT sejak 30 tahun lalu dengan bertanggung jawab untuk memastikan semua peralatan dan fasilitas penunjang di laboratorium berjalan dengan baik. Tak jarang, Dian harus melakukan negosiasi dengan kepala unit kerja lain di daerah yang didominasi oleh perempuan.

“Budaya timur dan barat memang beda dalam menanggapi perempuan yang bekerja. Namun sebagai perusahaan BUMN, sejak 1989 PKT sudah sangat mendukung kemajuan perempuan dengan menempatkan perempuan di berbagai posisi strategis perusahaan, termasuk di area yang masih didominasi oleh kaum pria. Teman-teman kerja pria pun menghormati dan mendukung para perempuan yang bekerja di area mereka, dengan cara mereka,” ungkap Dian.

Perjalanan karier

Simak cerita Sivera Dian Getrida yang bekerja di industri energi dan petrokimia (Foto: Artemis)
Simak cerita Sivera Dian Getrida yang bekerja di industri energi dan petrokimia (Foto: Artemis)

Tidak hanya menjadi VP Laboratorium, Dian juga sempat menduduki jabatan VP di Departemen Proses dan Pengelolaan Energi. Berdampingan dengan rekan kerjanya yang laki-laki. perempuan lulusan Teknik Kimia Insititut Teknologi Sepuluh Nopember ini berprinsip bahwa perempuan punya kesempatan yang sama dalam bidang pendidikan dan pekerjaan.

“Saya percaya tidak ada pekerjaan yang hanya bisa dilakukan kaum pria. Karakteristik perempuan yang (secara umum) lebih teliti, detail, mampu berkomunikasi secara verbal, serta terbiasa multitasking, memberi nilai tambah terhadap nilai perempuan saat memasuki persaingan menuju posisi puncak, tak terkecuali di industri energi dan petrokimia ini. Sebagai seorang perempuan, kita seharusnya menggunakan karunia “keperempuanan” sebagai faktor pendukung bukan sebagai alat untuk meminta fasilitas atau pengecualian,” jelas Dian.

Menggunakan gaya kepemimpinan ala "ibu-ibu" Dian mengepalai 90 orang di Departemen Lab tersebut. Ia bertekad untuk mentransformasi sistem di departemen menjadi digitalisai secara menyeluruh. Mulai dari pelatihan, sistem kerja, hingga pelaporan.

Tidak meninggalkan peran ibu

Persoalan peran seorang ibu tidak Dian tinggalkan meski ia merupakan perempuan bekerja. Namun berkat dukungan suami dan membuat prioritas, Dian mampu membagi waktu antara pekerjaan dengan tugasnya sebagai seorang ibu.

Di era modern yang serba digital, Dian tetap berpegang dengan semangat ibu kartini. Bagaimana kaum perempuan memandang jauh ke depan walau mendapat banyak tekanan. Harus tetap semangat dan tekad yang tidak boleh surut.

"Bahkan tantangan tersebut dapat menjadi semangat bagi kaum perempuan untuk mencari jalan, agar cita-cita besarnya tercapai tanpa meninggalkan kodrat kewanitaannya,” jelas Dian.

Menurutnya, pandemi bukan merupakan batasan akan semangat dan keinginan untuk maju dan mengubah keadaan. Terlebih di masa sekarang sudah serba digital dan era media sosial yang dapat menjadi jendela bagi perempuan untuk melebarkan sayap.

Simak video berikut ini

#Elevate Women