Diary Fimela: Studio Dapur, Upaya Dongkrak Derajat Kerajinan Bambu hingga Sejahterakan Perajin di Desa

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Selama ini kerajinan bambu kerap dipandang sebelah mata. Mayoritas dari masyarakat beranggapan bahwa kerajinan bambu berusia singkat, bahkan hanya sekali pakai. Maka tak heran, kerajinan bambu masih memiliki nilai jual yang rendah.

Hingga suatu ketika Studio Dapur hadir memotong siklus. Studio dapur merupakan sebuah wirausaha sosial yang berbasis di Bandung, Jawa Barat yang memproduksi aneka kerajinan bambu seperti tudung saji, besek bambu, keranjang bambu, dan masih banyak lagi.

Berawal dari riset kuliah desain produk mengenai kerajinan bambu, Mega Puspita, CEO of Studio Dapur melihat fakta di lapangan bahwa kualitas kerajinan bambu yang masih tergolong standar dengan harga jual yang rendah membuat para perajin kesulitan untuk meningkatkan kesejahteraanya.

“Zaman dulu tepatnya tahun 2016, masyarakat masih jarang pakai kerajinan bambu. Para perajin pun rata-rata didominasi oleh sesepuh karena tidak terlalu menghasilkan buat mereka,” cerita Mega kepada Tim FIMELA.

“Seperti satu keranjang boboko saja hanya memiliki nilai jual Rp15 ribu, itu pun dari bandarnya, bukan dari perajinnya. Jadi mereka hanya dapat uang keringat aja. Melihat hal ini, tentu akan sulit berkembang, regenerasi pun juga akan sulit karena tentu masyarakat pedesaan akan mencari pekerjaan yang lebih layak,” lanjutnya.

Bersama 2 orang temannya, Alain Bunjamin dan Maulana yang sama-sama berlatar belakang desain produk, pada Desember 2016 mereka akhirnya memutuskan untuk mendirikan Studio Dapur.

Berupaya meningkatkan derajat kerajinan bambu

Studio Dapur berusaha mengangkat derajat anyaman bambu itu ke level lebih tinggi, bahkan di jual ke luar negeri. (Instagram/studiodapur).
Studio Dapur berusaha mengangkat derajat anyaman bambu itu ke level lebih tinggi, bahkan di jual ke luar negeri. (Instagram/studiodapur).

Dalam pelaksanaanya, Studio Dapur melibatkan para perajin bambu di desa Padakembang, Singaparna, Jawa Barat untuk meningkatkan kualitas produk bambu agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan dampaknya para perajin bisa meningkatkan kesejahteraanya.

“Dengan sistem yang ini, kami akhirnya membuat desain yang lebih relevan dengan fungsi dasar dan estetika supaya bisa dipakai oleh masyarakat luas yang pada gilirannya kami bisa meningkatkan nilai produknya dan meningkatkan kesejahteraan para perajin di pedesaan,” ungkap Mega.

Berhasil meregenerasi perajin

Upaya Studio Dapur dalam meningkatkan nilai jual kerajinan bambu dan kesejahteraan para perajin pun mulai menuai tuahnya. Kini, mulai banyak regenerasi yang turut terlibat dalam prosesnya.

“Bahkan tim kami yang awalnya ada dua orang yang usia 40-50 tahun, kini mulai bertambah menjadi 20-30 tahun. Jadi perajin bambu sudah ada regenerasinya karena adanya sistem baru ini,” kata Mega.

Studio Dapur juga memiliki komitmen untuk sharing pendapatan mereka sebesar 10% untuk mendukung finansial desa, meningkatkan taraf hidup, serta mata pencaharian, dan juga meningkatkan produktivitas.

Sukses tingkatkan nilai jual hingga tembus pasar internasional

Selain menumbuhkan regenerasi perajin, Studio Dapur juga berhasil menembus pasar internasional. Bahkan memiliki eksklusif distributor di Korea Selatan.

Beberapa negara yang berhasil dijelajahi Studio Dapur antara lain Jepang, Belgia, Finlandia, California, hingga Sans Fransisco.

#Elevate Women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel