Diberitakan Korupsi, Bupati Pinrang Ancam Wartawan

TRIBUNNEWS.COM, PINRANG - Bupati Pinrang Andi Aslam Patonangi, Rabu (17/10/2012) sekitar pukul 21.01 Wita, menelepon wartawan Tribun, Ali, yang bertugas di wilayah Ajatappareng.

Awalnya dia mengklarifikasi rangkaian pemberitaan soal pinjaman/kredit di Bank BPD Sulsel, Cabang Pinrang 2009 lalu, senilai Rp 27,5 miliar, yang mengendap di rekening pribadi Aslam.

Namun, melalui nomor GSM +628211452****, yang selama setahun terakhir dipakai, dia lalu mengancam wartawan jika terus memberitakan kasus yang diungkap penyidik Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulsel, pekan lalu, ini.

"Hubungan kita sudah terlanjur rusak, saya juga bisa main kasar. Hati-hati-ko, hati hati-ko nah," kata Aslam dengan suara tinggi dan tegas, sebelum mematikan ponselnya.

Berselang dua menit kemudian, Aslam menelpon lagi. "Kau binatang, dimana hati nuranimu, keluarga saya sudah marah semua, hati-hatiko," dan kembali memantikan teleponnya.

Pengancaman terjadi setelah Tribun kembali memuat berita tentang kelanjutan kasus tersebut, pada edisi Tribun Timur, Rabu 17 Oktober 2012.

Berita yang berjudul "Aslam Gelar Klarifikasi Massal", termuat di halaman satu, oleh Aslam dianggap menghina dan mencoreng nama keluarganya.

Beberapa wartawan Tribun, sudah lama menyimpan nomor bupati. Di awal bergulirnya kasus ini, dia masih sempat manjawab konfirmasi. Namun, sejak Rabu hingga Kamis malam, nomor itu sudah tak aktif.

Tak lama setelah Aslam menyampaikan ancamannya, giliran Kabag Humas Pinrang, Syamsuddin, yang menelepon memakai nomor +628529933**95. Ancamannya lebih konkret.

"Pastikanmi itu, jangan sampai lagi ada koran Tribun Timur, yang beredar di Pinrang," jelas Syamsuddin.

Pada awal pemberitaan terkait dugaan korupsi tersebut, tertanggal Senin (15/10/2012), Aslam sempat dikonfirmasi dengan menggunakan nomor ponsel itu. Setelah dikirimi pesan singkat, Aslampun menelepon, dan menjawab berita Kejati "wacana liar".

Keesokan harinya, Aslam kembali menghubungi Ali, melalui nomor ponsel Kabag Ekonomi Pinrang, Zaenal, di nomor +62813558**789. Aslam meminta agar Tribun langsung menghubungi Islamuddin, untuk kejelasan persoalan tersebut.

Islamuddin, adalah pejabat Kepala Badan Pengelolah Keuangan Daerah (BPKD) Pinrang, saat proses peminjaman tersebut dilakukan.

BPKP: Ada Pelanggaran
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Sulsel menilai adanya unsur pelanggaran dalam proses pinjaman dana kredit Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pinrang senilai Rp 31,5 miliar dari Bank Sulselbar 2009 lalu.

“Jika uang puluhan miliaran tersebut betul-betul tersimpan di rekening pribadi pihak bersangkutan, maka jelas itu merupakan suatu pelanggaran,” kata Kepala BPKP Sulsel
Hanomangan Simarmata kepada wartawan di sela-sela peluncuran buku Hamzah Tadja, mantan Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) pada Kejagung RI di Hotel Grand Clarion, Makassar, Kamis (18/10).

Hanomangan belum bersedia membeberkan secara detail seperti apa hasilnya sebelum tim melaporkan seperti apa kondisi dan hasil pemeriksaan yang ditemukan di lapangan.

“Hari ini tim sudah berhenti bekerja. Sementara menyangkut apa hasil yang diperoleh di lapangan, tunggu saja pekan depan. Pasti kami akan rilis ke publik,” kata Hamonangan.

Pria berambut putih ini menjelaskan, BPKP telah menerima sejumlah dokumen permintaan kredit dana pinjaman Pemkab Pinrang ke Bank Sulselbar.

Bupati Pinrang: Saya Bukan Preman
SETELAH sejak pagi, nomor Bupati Pinrang Andi Aslam Patonangi tidak aktif, sekitar pukul 23.40 Wita, tadi malam, teleponnya aktif.

Aslam membenarkan jika dirinya menelpon wartawan Tribun sebanyak dua kali Namun dia membantah mengeluarkan pernyataan ancaman.

"Mungkin itu pengakuan wartawan Anda saja. Saya ini bukan preman yang main ancam."

Bupati menyatakan dia hanya mengklarifikasi perimbangan berita tentang kasus dugaan rekening gendut yang kini disidik di kejaksaan dan BPKP.

Dia juga menyebut berita kasus korupsi itu, memberikan opini buruk untuknya.
Aslam juga mengkonfirmasikan bahwa dia tahu, Humas meminta agar koran Tribun Timur tak lagi diedarkan di Pinrang.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.