Dicap Pengkhianat, Armenia Bisa Dibantai Pasukan Rusia

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Armenia sepertinya sudah berada di ujung tanduk, di ambang kekalahan perang melawan pasukan Angkatan Bersenjata Azerbaijan. Sebuah langkah yang diambil Presiden Armen Sarkissian dianggap blunder dan justru akan memancing kemarahan Rusia, yang merupakan sekutu terbesar Armenia.

Dalam laporan yang dikutip VIVA Militer dari Trend.az, Sarkissian dengan berani meminta bantuan kepada Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk menyelesaikan konflik dengan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh (Artsakh). Tanpa berpikir panjang, Sarkissian secara terbuka menunjukkan sikapnya kepada NATO tanpa memperhitungkan Rusia.

Sarkissian sepertinya lupa jika NATO diisi oleh negara-negara pesaing Rusia, termasuk Amerika Serikat (AS). Padahal di sisi lain, Armenia bukan anggota NATO dan masih tergabung dalam Pakta Pertahanan Keamanan Bersama (CSTO) yang dibentuk oleh Rusia.

Presiden Armenia itu terbang ke Brussels, Belgia, untuk membahas penyelesaian konflik dengan Azerbaijan, Rabu 21 Oktober 2020. Dalam kesempatan itu, Sarkisian bertemu langsung dengan Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg.

VIVA Militer: Presiden Armenia, Armen Sarkissian (kiri), dan Jens Stoltenberg
VIVA Militer: Presiden Armenia, Armen Sarkissian (kiri), dan Jens Stoltenberg

Selain berjumpa dengan Stoltenberg, Sarkissian juga bertemu langsung dengan Perwakilan Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Josep Borrell, serta Presiden Dewan Eropa, Charles Michel.

Sejumlah pengamat militer meyakini posisi pasukan Angkatan Bersenjata Armenia yang didukung Pasukan Pertahanan Artsakh semakin terdesak.

Sementara, Rusia yang diandalkan untuk membantu justru enggan memberikan dukungan militernya. Dalam berita VIVA Militer Rabu 7 Oktober 2020, Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyatakan pihaknya tidak memiliki kewajiban memberikan dukungan militer kepada Armenia.

"Rusia tidak memiliki kewajiban untuk membela Armenia. Karena, konfliknya dengan Azerbaijan tidak terjadi di wilayah Armenia," ucap Putin dikutip VIVA Militer dari Daily Sabah.

VIVA Militer: Presiden Rusia, Vladimir Putin
VIVA Militer: Presiden Rusia, Vladimir Putin

Sementara itu, pasukan militer Azerbaijan yang mendapat dukungan penuh dari Turki semakin perkasa di medan tempur. Yang terbaru, Presiden Azerbaijan memastikan sudah ada 21 desa di distrik Fizuli dan Jabrayil yang berhasil dibebaskan dari pendudukan pasukan militer Armenia. Jumlah tersebut hanya berselang dua hari, saat Aliyev mengumumkan pasukannya telah merebut 13 desa.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Rusia masih belum memberikan pernyataan resmi. Namun sejumlah media Azerbaijan menyebut jika tindakan Sarkissian meminta dukungan kepada NATO merupakan pengkhianatan Armenia terhadap Rusia.

Baca juga: Gila, Tentara China Siapkan Jaket Buat Perang dalam Suhu -40 Derajat