Dicemooh Jadi Mualaf, Perjuangan Bule Kenalkan Islam Bikin Haru

·Bacaan 3 menit

VIVA – Julie, seorang perempuan asal Inggris, mengaku memeluk agama Islam karena merasakan keindahan di dalamnya. Namun, menjadi muslim membuatnya harus menempuh jalan panjang hingga akhirnya, keputusan menjadi muslim bisa diterima oleh kedua orangtuanya.

Mualaf yang kini berusia 52 tahun itu menuturkan perjuangannya mengenalkan Islam pada kedua orangtuanya yang atheis. Sebelum memeluk Islam, perempuan berhijab itu memeluk agama Kristen mengikuti agama sang nenek.

"Nenekku seorang Kristen. Saya tumbuh bersamanya sehingga aku ikuti apa yang dia ikuti. Aku ikut beribadah dengannya di hari minggu dan terlibat dalam kegiatan di gereja. Intinya saya menjadi Kristen yang taat," beber Julie, dikutip dari kanal Youtube Ayatuna Ambassador.

Sekitar 20 tahun silam, Julie yang seorang Kristen yang taat, menilai bahwa Islam merupakan agama yang buruk. Pada suatu hari, Julie berkesempatan untuk bekerja sosial dengan seorang perempuan yang rupanya memeluk agama Islam.

"Saya cukup bingung karena sosoknya jauh beda dengan imej muslim yang agresif, kasar, kepada perempuan lain. Tidak ramah dan sangat tidak baik. Jadi (karena imej muslim) saya memutuskan untuk mengajaknya masuk ke agama Kristen," bebernya.

Ajakan Julie yang terus menerus itu membuat teman kerjanya muak. Hingga akhirnya memberi tantangan pada Julie. “ 'Jika kamu menemukan satu hal yang tidak benar dengan Islam, bukan pada orangnya tapi pada Quran, hadist dan hukum syariah, saya akan masuk kristen'.”

Tantangan tersebut disanggupinya. Menurut Julie, itu hal yang mudah dilakukan lantaran imej muslim yang selama ini diketahuinya dari media massa, cenderung buruk dan negatif. Ia pun membeli banyak buku, namun tak menemukan satu kesalahan pun.

"Saya punya satu rak buku sebelum saya benar-benar putuskan bahwa tidak ada yang salah. Jawaban yang tidak anda temukan dalam Kristen dalam alkitab, saya menemukan banyak sekali kecacatan, salah tulis di mana mana, saya tidak menemukan fakta. Dan saya temukan Islam berisi fakta," imbuhnya.

"Saya temukan bahwa Islam itu sempurna," tegasnya.

Ia pun dibantu masuk Islam dengan mengucap syahadat oleh paman dari teman kerjanya itu. Di sini, perjuangannya mengenalkan Islam sangat berliku. Julie menyembunyikan dirinya yang seorang muslim selama tiga tahun.

Sebab, Julie paham imej masyarakat pada Islam sangat negatif. Sementara, orangtuanya juga sangat rasis dan anti agama. Saat Julie memeluk Kristen dulu, ia bahkan dibenci mati-matian oleh orangtuanya.

"Kedua orangtua saya saja benci lihat saya jadi Kristen. Apalagi jadi Muslim," terangnya.

Tiga tahun berselang, Julie yang berstatus sebagai janda empat anak, memutuskan menikah dengan pria muslim. Keluarganya sangat menentang keputusan Julie. Bahkan ayahnya menghapus namanya di dalam daftar ahli waris.

"Ayah saya cukup rasis dan dia marah saya menikah dengan orang kulit hitam. Apalagi saat ayahku tahu dia adalah muslim. Pembicaraan cukup tegang karena dia bilang akan menghapus nama saya dari ahli waris," jelas Julie.

Julie pun mengaku telah memeluk Islam dan memantik amarah sang ayah. Selang beberapa tahun, ayahnya mengidap alzheimer dan membuat ingatan akan kemarahannya pada Julie dan suaminya, terlupakan.

"Dia lupa dengan Islam yang memberi ide buruk. Dia lupa soal imej Islam karena dia melihat saya yang baik padanya. Dia benar-benar bersikap baik pada saya," kenang Julie.

Saat ayahnya meninggal, bahkan tujuh tahun setelahnya, sang ibu masih membencinya karena memeluk agama Islam. Tiap kali ibunya melihat ia beribadah, akan ada kata makian dan umpatan yang keluar dari bibirnya.

“Bahkan masih beri komentar pedas saat saya shalat 'kenapa kamu bersujud di tanah?'," kata Julie menirukan sang ibu.

Nasib berkata lain. Sang ibu pun mengidap penyakit kanker. Hingga saat kondisinya makin lemah, Julie selalu menemaninya di rumah sakit. Beruntung, dokter yang merawat beragama Islam dan mengubah perspektif pada ibu Julie mengenai Islam.

Kala itu, ibunya mulai melihat sudut pandang berbeda bahwa muslim membuat orang jadi sangat ramah dan peduli.

"Pada akhirnya dia sadar bahwa beberapa orang bersikap kasar dan baik. Memang tidak berkaitan dengan agama tapi agama membantu (sikap itu)," tuturnya.

Kondisi sang ibu yang makin melemah, membuat Julie harus menemani sepanjang waktu, termasuk saat masuk waktu sholat. Saat itu, sang ibu yang melihat Julie sholat, tak lagi berkomentar pedas. Sebaliknya, sang ibu yang merintih kesakitan meminta Julie memohonkan doa pada Yang Maha Kuasa atas penyakitnya.

"Itu adalah tahun yang berat. Saya harus berhati-hati dalam perkataan. Karena meski Islam itu sempurna tapi tidak dengan orangnya. Kita sering khilaf," papar Julie.