Didepak Juventus, Andrea Pirlo Ingin Melatih Klub MLS

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Legenda sepak bola Italia Andrea Pirlo mengaku dirinya tertarik dengan jabatan pelatih di klub-klub Liga Utama Amerika Serikat, MLS. Pirlo menyebut dirinya ingin mengambil pelajaran dari masa kepelatihan di Juventus dan menerapkannya pada pekerjaan baru.

Pirlo kini diketahui tak memiliki klub untuk dilatih usai bertugas di Juventus. Melansir Goal.com, ia hanya menghabiskan satu musim melatih Bianconeri sebelum akhirnya digantikan oleh Massimiliano Allegri.

Pelatih berusia 42 tahun tersebut mengatakan dirinya sedang menanti petualangan berikutnya yang mungkin dilakukan bersama klub-klub MLS. Tak mustahil harapan Pirlo terwujud. Pasalnya, ia memang sempat menghabiskan tiga musim untuk membela New York City FC.

“Saya tidak mengesampingkan apa pun. Ini (MLS) adalah liga yang hebat. Saya melihat banyak pelatih datang ke MLS dari negara-negara lain. Saya cukup beruntung untuk bisa bermain di sana,” ujar Pirlo kepada The Athletic, seperti dilansir dari Goal.com.

“Anda melihat apa yang dilakukan USMNT (Timnas pria Amerika Serikat) di Piala Emas. Banyak orang Amerika sekarang bermain untuk klub terbaik di dunia–Juve, Barcelona, Chelsea. Jika mereka bermain di level tersebut, hal ini menunjukkan potensi mereka,” sambungnya.

Memantau MLS

Andrea Pirlo memutuskan pensiun dari sepak bola pada 6 November 2017 saat berusia 38 tahun. awal karirnya Pirlo bermain untuk klub dekat kota kelahirannya yakni Brescia pada 1995, dan klub terakhirnya adalah New York City FC. (AFP/Fabrice Coffrini)
Andrea Pirlo memutuskan pensiun dari sepak bola pada 6 November 2017 saat berusia 38 tahun. awal karirnya Pirlo bermain untuk klub dekat kota kelahirannya yakni Brescia pada 1995, dan klub terakhirnya adalah New York City FC. (AFP/Fabrice Coffrini)

Meski telah meninggalkan MLS sejak pensiun pada 2017, Andrea Pirlo mengeklaim dirinya masih memantau hal-hal yang terjadi di MLS dan sepak bola Amerika secara umum.

“Saya tidak mengikuti semua pertandingan, tetapi saya menyaksikannya ketika bisa. Saya tahu (cuaca) sangat panas sepanjang tahun ini. Sulit bagi para pemain untuk menjaga intensitas (permainan) tinggi saat cuaca sepanas ini,” ungkapnya, dilansir dari Goal.com.

Lebih lanjut, Pirlo menyebut dirinya menyukai segala hal tentang MLS. Ia pun mengaku menikmati waktu-waktu ketika berada di sana dan mampu bergaul dengan baik bersama klub, rekan setim, staf, serta pelatih.

“Itu adalah pengalaman yang luar biasa, pengalaman sepak bola yang hebat juga. Dua anak saya lahir di Amerika, jadi itu adalah sesuatu yang akan selalu kami bawa. Ini seperti rumah bagi mereka, bagian dari hidup kami,” tutur Pirlo.

Karier di Juventus

Reaksi pelatih Juventus Andrea Pirlo saat melawan AC Milan pada pertandingan lanjutan Liga Serie A Italia melawan AC Milan di stadion San Siro, Rabu (7/1/2021).  Andrea Pirlo pernah berkibar bersama AC Milan, ketika selama satu dekade berseragam I Rossoneri. (AFP Photo/Miguel Medina)
Reaksi pelatih Juventus Andrea Pirlo saat melawan AC Milan pada pertandingan lanjutan Liga Serie A Italia melawan AC Milan di stadion San Siro, Rabu (7/1/2021). Andrea Pirlo pernah berkibar bersama AC Milan, ketika selama satu dekade berseragam I Rossoneri. (AFP Photo/Miguel Medina)

Sang pelatih asal Italia tercatat hanya mampu mendampingi 52 pertandingan Juventus. Adapun, kala itu, Juventus diketahui gagal memenangkan Serie A dan hanya nyaris mampu mengamankan kualifikasi ke Liga Champions.

Dikutip dari Goal.com, Pirlo direkrut tanpa pengalaman manajerial. Ia bertugas melatih tim U-23 Juventus, 10 hari sebelum akhirnya dipromosikan memandu tim senior. Terlepas dari pengalaman di Juventus, Pirlo mengaku filosofi sepak bolanya tak berubah.

“Saya tidak akan mengubahnya hanya karena hasil yang kurang bagus. Itulah yang saya pikirkan tentang permainan–bermain dari belakang, berupaya menjaga bola, merebut kembali kepemilikan secepat mungkin. Banyak hal bergantung pada pemain yang Anda miliki. Pemain jauh lebih penting dibanding pelatih. Pelatihlah yang harus beradaptasi,” tuturnya.

Belajar Banyak

Pirlo tak memungkiri bahwa ia belajar banyak hal di Juventus. Terlebih, jabatan tersebut merupakan pengalaman pertamanya sebagai pelatih. Ia juga mengeklaim bahwa situasi kala itu cukup sulit. Semua pertandingan berjalan cepat sehingga tak ada cukup waktu bagi pemain untuk melakukan recovery.

“Itu sangat intens karena kami memulai musim dengan hanya satu laga persahabatan. Semuanya berjalan cepat. Kami bermain tiap tiga hari, tanpa suporter, tanpa celah untuk pemulihan, dan tanpa bisa berlatih serta bersiap untuk laga selanjutnya,” ujar pelatih kelahiran Flero, Italia ini.

Penulis: Melinda Indrasari

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel