Didi Global Larang Karyawan Jual Saham hingga Tercatat di Hong Kong

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Raksasa ride-hailing China Didi Global melarang karyawan dan mantan karyawan menjual saham perusahaan tanpa batas waktu.

Hal itu menurut laporan Financial Times yang mengutip sumber tanpa menyebutkan identitas, Senin, 27 Desember 2021. Periode penguncian yang berlangsung selama 180 hari pasca initial public offering (IPO) baik staf aktif dan mantan karyawan pengembang tidak diizinkan menjual saham yang semestinya sudah berakhir pada Senin, 27 Desember 2021. Namun, Didi memperpanjang larangan tersebut tanpa batas waktu.

Menurut laporan, karyawan tidak dapat menjual saham tersebut sampai perusahaan terdaftar (listing) kembali di Hong Kong. Demikian mengutip Channel News Asia, ditulis Jumat (31/12/2021).

Didi Global tidak memberikan tanggapan maupun komentar terkait laporan tersebut.

Perusahaan merupakan salah satu target operasi dari tindakan keras regulasi dari pemerintah China. Alhasil memaksa raksasa ride-hailing yang berpusat di Beijing mengumumkan rencana delisting atau penghapusan nama perusahaan di New York Stock Exchange. Didi pun berupaya mengejar listing di Hong Kong.

Administrasi Cyberspace China mengatakan kepada perusahaan untuk berhenti mendaftarkan pengguna baru segera setelah debut NYSE pada Juni. Penawaran perusahaan masih dalam penyelidikan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Uber Bakal Lepas Saham Didi

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Sebelumnya, Uber Techologies Inc berniat menjual saham aset non-strategis termasuk kepemilikannya Didi Global Inc yang berbasis di Beijing, China terdorong faktor kurangnya transparasi di pasar China meskipun tergolong ekosistem yang tangguh.

Perusahaan Amerika Serikat (AS) menarik diri dari China pada 2016 setelah menghabiskan setidaknya USD 1 miliar atau Rp 14,34 triliun (asumsi kurs Rp 14.344 per dolar AS) dalam setahun akibat perang harga dengan Didi. Alhasil harus menjual operasinya di China ke tangan Didi dengan imbalan berupa saham.

Uber memiliki 12,8 persen saham Didi menurut pengajuan pada Juni.

"Perusahaan menyakini saham Didi kurang strategis. Didi merupakan rival dan China adalah tempat yang cukup sulit terkait akses transparansi, jika pun ada hanya sedikit,” ungkap Chief Executive Uber Dara Khosrowshahi, dikutip dari laman Channel News Asia, Rabu, 15 Desember 2021.

Khosrowshahi menambahkan perusahan tidak akan terburu-buru menjual saham Didi. Pertaruhan itulah yang dicarai untuk dimonetisasi secara cerdas dari waktu ke waktu.

Dia pun mengatakan, kepemilikan Uber di banyak entitas yang go public baru-baru ini. Perusahan tersebut masih tunduk atas periode penguncian dimana investor tidak dapat menjual saham saat listing. Hal ini mengokohkan Uber dalam mempertahankan beberapa saham karena alasan strategis.

Didi tidak memberikan tanggapan atas rencana Uber.

Saham Uber naik 4,3 persen dan menutup perdagangan USD 37,26 setelah pernyataan Khosrowshahi pada Selasa, 14 Desember 2021. Dia juga informasikan Uber memiliki periode terbaiknya dalam hal pemesanan kotor seluruh perusahaan pada operasi ride-hail dan pengiriman makanan di minggu lalu.

“Meskipun secara keseluruhan perjalanan ride-hail tetap sekitar 10 persen di bawah tingkat pra-pandemi,” tutur CEO Uber Khosrowshahi.

Sebaran Investasi Uber

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Uber mempunyai USD 13,1 miliar atau sekitar Rp 187,88 triliun (asumsi kurs Rp 14.342 per dolar AS) dalam investasi di perusahaan lain pada akhir kuartal III termasuk USD 4,1 miliar atau Rp 58,8 triliun di Didi.

Beberapa investor khawatir langkah Uber dalam mempertahankan investasi di Didi justru mengirimkan sinyal negatif ke pasar saham. Investor akan berspekluasi saham perusahaan lain lebih menarik daripada memasukkan modal ke dalam operasi Uber sendiri.

Bisnis operasional Uber kuartal terakhir untuk pertama kalinya mencapai profitabilitas berdasarkan pendapatan yang disesuaikan. Sayangnya, saham Didi mendorong kerugian bersih senilai USD 2,4 miliar pada kuarta III.

Saham Didi terguncang akibat ada penyelidikan oleh regulator China atas praktik datanya. Saha menyusut tajam sebanyak 53 persen dari harga penawaran umum perdana pada 30 Juni. Di bawah tekanan dari regulator China, awal bulan ini Didi menyampaikan menarik diri dari bursa saham AS dan mengejar listing di Hong Kong.

Uber memegang saham di beberapa entitas lainnya. Mulai dari perusahan pengiriman makanan India Zomato Ltd, rival transportasi digital Asia Tenggara Grab Holdings Ltd, perusahaan self-driving Aurora Innovation Inc dan lainnya. Grab dan Aurora juga didukung oleh SoftBank Group Corp Jepang.

Reporter: Ayesha Puri

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel