Diduga Bocorkan Rahasia Negara, Jurnalis Australia Ditahan China

Ezra Sihite, DW Indonesia
·Bacaan 2 menit

Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne mengatakan bahwa China telah memulai penyelidikan kriminal resmi terhadap Cheng pada Jumat kemarin (05/02), setelah dilakukan penahanan selama enam bulan sejak Agustus tahun lalu.

"Pihak berwenang China telah memberi tahu bahwa Cheng ditangkap karena dicurigai memasok rahasia negara ke luar negeri secara ilegal," kata Payne dalam sebuah pernyataan.

Cheng adalah pembawa acara program BizAsia CGTN. Dia lahir di China dan bekerja di bidang keuangan di Australia sebelum kembali ke China dan memulai karier di bidang jurnalisme dengan CCTV di Beijing pada tahun 2003.

Cheng merupakan warga negara Australia kedua yang ditahan di Beijing setelah penulis Yang Hengjun ditangkap pada Januari 2019 karena dicurigai melakukan spionase. Penahanan Cheng memicu gelombang protes komunitas jurnalis asing Cina.

Cheng menulis sejumlah postingan di Facebook yang mengkritik Presiden China Xi Jinping dan langkah Beijing terhadap penanganan wabah corona.

Dua wartawan Australia lainnya yakni reporter Australian Broadcasting Corp. Bill Birtles dan jurnalis The Australian Financial Review Michael Smith, kembali dari Cina pada September lalu tak lama setelah diinterogasi tentang Cheng.

"Saya yakin episode itu (penahanan Cheng) lebih merupakan pelecehan terhadap jurnalis Australia," kata Birtles setelah kembali ke Sydney.

Konflik panjang China-Australia

Penahanan Cheng dilakukan setelah ia melakukan wawancara dengan CEO internasional untuk acara Bisnis Global dan BizTalk CGTN. Kejadian itu terjadi saat hubungan antara Beijing dan Canberra melemah.

Payne mengatakan diplomat Australia telah mengunjungi Cheng sebanyak enam kali, terakhir pada 27 Januari 2021. "Pemerintah Australia menyampaikan keprihatinan serius terkait penahanan Cheng, termasuk mengenai kesejahteraan dan kondisi penahanannya," kata Payne.

"Kami berharap standar dasar keadilan, keadilan prosedural, dan perlakuan manusiawi dipenuhi, sesuai dengan norma internasional."

Sebelumnya China marah atas seruan Australia yang meminta diadakan penyelidikan independen terkait asal-usul pandemi virus corona. Beijing juga dituduh melakukan pembalasan dengan memberlakukan serangkaian sanksi perdagangan terhadap produk Australia, termasuk anggur, daging sapi, jelai, dan batu bara.

ha/rap (AFP, AP)