Diduga Cabuli Lima Santriwati, Pengasuh Ponpes di Banyuwangi Dilaporkan ke Polisi

Merdeka.com - Merdeka.com - Institusi pendidikan di Banyuwangi kembali tercoreng. Seorang pengasuh pondok pesantren di Kecamatan Singojuruh dilaporkan ke polisi karena diduga mencabuli lima santriwati.

Kasus itu sudah dilaporkan ke Polresta Banyuwangi sejak seminggu lalu. Berdasarkan informasi dihimpun terlapor dalam kasus ini adalah pria berinisial Fz.

Kapolresta Banyuwangi AKBP Deddy Foury Millewa melalui Kasat Reskrim Kompol Agus Sobarnapraja membenarkan adanya pelaporan dugaan tindak pidana persetubuhan dan pencabulan itu. Dia memaparkan, Terlapor dituding telah menggagahi lima santriwati berusia di bawah umur.

"Sementara yang melapor masih satu orang santriwati," kata Agus, Jumat (24/6).

Polisi Periksa Delapan Saksi

Berdasarkan keterangan para santriwati, tindakan tak senonoh itu dilakukan di luar jam aktif sekolah. Mereka masing-masing dipanggil terlapor lalu dipaksa untuk menuruti nafsu bejatnya.

"Mereka pelajar aktif di lembaga pendidikan tersebut. Sementara dari pengakuan mereka, pencabulan dilakukan di luar jam aktif sekolah. Dipanggil kemudian dicabuli," cetusnya.

Kasus ini, lanjut Agus, sudah masuk ke tahap penyidikan. Polisi telah memeriksa sebanyak delapan santriwati untuk dijadikan saksi.

"Polisi masih mengumpulkan alat bukti untuk memperkuat kasus ini. Polisi juga telah mengantongi bukti visum dari rumah sakit," ujarnya.

Terkait kebenaran identitas terlapor adalah Fz, pengasuh pondok sekaligus mantan anggota DPRD Banyuwangi, Kompol Agus, belum berani bersuara. "Masih kita dalami, tentu siapa pun itu pelakunya sepanjang alat buktinya cukup kita pasti proses sesuai ketentuan. Terlapor sudah kita kirim surat dan kita panggil pekan depan kita mintai keterangan," tandasnya.

Ada Santri Jadi Korban

Salah seorang paman korban asusila, PPU menjelaskan, setidaknya ada enam santriwati yang menjadi korban. Dua di antaranya mengaku telah digauli. Sementara empat santri lainnya mengaku mendapat pelecehan.

"Yang tercatat laporan itu ada enam, perempuannya lima, lakinya satu. Semuanya masih di bawah umur," jelas PPU, Jumat (24/6).

PPU memaparkan, pelaku mengetahui para korban dengan modus memanggil korban untuk memijit badan pelaku, selanjutnya diminta untuk rebahan. Saat itulah aksi tidak senonoh dilakukan pelaku.

"Awalnya dipanggil untuk memijit, lalu disuruh rebahan lalu didekap dan dipaksa untuk membuka sarungnya," ungkap PPU. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel