Diduga Sesat, Begini Awal Mula Terbongkarnya Aliran Bab Kesucian

Merdeka.com - Merdeka.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan (Sulsel) bersama Kementerian Agama dan Pemerintah Kabupaten Gowa menemui pimpinan Yayasan Nur Mutiara Makrifatullah, Wayang Hadi Kesumo. Dalam pertemuan tersebut, MUI Sulsel membeberkan poin-poin laporan terkait kesesatan aliran Bab Kesucian.

Sekretaris MUI Sulsel, Muammar Bakry mengatakan dari pertemuan tersebut, Yayasan Nur Mutiara Makrifatullah siap membuka diri. Bahkan, kata dia, yayasan tersebut bersedia untuk dibina MUI.

"Kalau kita melihat tadi, beliau membuka diri dan siap untuk diluruskan oleh MUI. Jadi poin-poin diduga kesesatan itu sudah disampaikan tadi," kata Muammar kepada wartawan usai pertemuan di Yayasan Nur Mutiara Makrifatullah, Gowa, Selasa (10/1).

Muammar mengaku dugaan kesesatan ajaran Bab Kesucian berdasarkan keterangan dari warga. Dia menyebut pelapor merupakan mantan anggota Bab Kesucian yang sudah bertaubat.

"Jadi kami sampaikan bahwa laporan ini dari warga dan itu modelnya ada tiga. Jadi ada warga suami istri pernah ikut, lalu kemudian bertaubat dan menyatakan siap memberikan keterangan. Ada lagi satu masyarakat yang suaminya ikut, tapi istrinya tidak ikut. Nah istrinya melapor kepada MUI dengan semua dokumen data dan semua yang disiapkan untuk dipertanggungjawabkan," bebernya.

Selain dari laporan warga, kata Muammar, video-video ajaran Bab Kesucian di YouTube memperkuat dugaan kesesatan. Mummar menyebut, Wayang siap menarik poin-poin yang dijelaskan yang diduga sesat.

"Beliau sendiri menyatakan siap menarik jika ada poin-poin yang disampaikan di YouTube itu diduga ada kesesatan. Kami akan tindaklanjuti dengan PAKEM Sulsel dan Gowa," terang dia.

Tidak hanya itu, MUI Sulsel juga menemukan bahwa Yayasan Nur Mutiara Makrifatullah membebankan biaya pendidikan kepada pengikutnya sebesar Rp4,5 juta. Padahal sebelumnya pimpinan Yayasan Nur Mutiara Makrifatullah mengatakan memberikan pendidikan gratis.

"Nah ini menarik, itu dibebankan dengan zakat diri. Itu namanya Rp4,5 juta jadi silakan teman-teman menelusuri. Kami ada datanya, screenshoot meminta dana dan jumlah sekian kami ada di pihak pelapor. Jadi kedok agama yang bisa menjadi kepentingan bisnis atau material," tegasnya.

Sementara Pimpinan Yayasan Nur Mutiara Makrifatullah, Wayang Hadi Kesumo mengatakan yayasannya siap menerima masukan dan bimbingan dari MUI Sulsel terkait ajaran Islam. Meski demikian, dia menunggu waktu dan tempat untuk bimbingan dan pembelajaran.

"Jadi beberapa hari ke depan, pihak MUI akan datang mengatur waktu untuk mengadakan bimbingan dan pembelajaran kepada anak-anak kami di yayasan ini. Adapun waktu dan tempatnya diatur oleh MUI," ucapnya. [cob]