Dies Natalis Ke-38, Rektor ISI Yogyakarta Sebut Seni Jadi Alat Pemulihan saat Pandemi

Merdeka.com - Merdeka.com - Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memeringati Dies Natalis ke-38 yang ditandai dengan digelarnya rapat senat terbuka pada Senin 30 Mei 2022. ISI Yogyakarta mengusung tema 'Keunggulan Seni untuk Recovery Kehidupan'.

Tema tersebut berangkat dari ISI Yogyakarta yang mencoba merespons dari kondisi pemulihan Covid-19 baik di ranah nasional maupun global. Lewat pendekatan seni, ISI Yogyakarta mencoba membantu pemulihan kehidupan pascapandemi Covid-19.

Rektor ISI Yogyakarta Agus Burhan menerangkan bahwa seni bisa dipakai untuk menjadi alat pemberdayaan dalam pemulihan masyarakat di tengah kondisi pandemi Covid-19. Untuk itu, lanjut Burhan, seni harus bisa bertranformasi.

Burhan menjabarkan kondisi pandemi memicu terjadinya perubahan baik di sektor pendidikan, bisnis maupun yang lainnya. Dampak perubahan ini juga turut dirasakan di dunia seni.

Pandemi, sambung Burhan, mendorong terjadinya berbagai pengalihan media yang dilakukan dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran maupun dalam kerja profesional. Media online akhirnya menjadi pilihan dalam penyelenggaraan pameran, pergelaran seni pertunjukan dan penayangan seni media rekam.

Selain itu penggunaan media online juga dipakai dalam proses pembelajaran. Di ISI Yogyakarta pelaksanaan pembelajaran saat ini memakai program blended learning dengan online secara terstruktur sebagai media belajar.

"Media seni menjadi semakin demokratis dan memberi peluang yang besar pada semua pelaku seni. Lewat berbagai media itulah keunggulan seni kita seharusnya terus disampaikan untuk recovery kehidupan pasca pandemi ini," ucap Burhan.

Sementara itu dalam pidato ilmiahnya, salah seorang dosen ISI Yogyakarta Sumbo Tinarbuko membawakan materi berjudul 'Seni yang Menghidupi dan Menghidupkan'.

Sumbo lewat pidato ilmiahnya ini mengejawantahkan jika ada luka sosial yang muncul di masyarakat karena pandemi Covid-19. Luka sosial karena Covid-19 dapat dipulihkan oleh racikan obat mujarab berwujud karya seni.

Sumbo menilai lewat karya seni diyakini mampu menghidupkan sekaligus menghidupi umat manusia di jagat raya maupun di jagat maya utamanya di masa pandemi Covid-19.

Sumbo juga menjabarkan ekosistem seni sanggup menghidupi siapapun yang bersinggungan dengan karya seni. Terlebih bila ekosistem karya seni visual dan pertunjukan ditopang unsur pentahelix. Unsur pentahelix ini adalah pemerintah, akademik, komunitas dan asosiasi, industri kreatif serta media massa.

Sumbo menambahkan lima unsur pentahelix ini bila diterapkan di DIY akan semakin menjulang eksistensinya ketika ditopang elemen 5 K. Elemen ini yaitu Keraton, Kaprajan, Kampung, Kampus dan Komunitas.

"Perkawinan antar keduanya diyakini menjadi piranti pengungkit untuk proses pemulihan atas carut marut yang disebabkan Covid-19," ucap Sumbo.

"Selain mampu menghidupi dan menghidupkan situasi akibat pagebluk Covid-19, karya seni maupun karya seni kolaboratif dinilai mampu menjalankan fungsi sosial, budaya, ekonomi guna menjadi sarana penghiburan dan pemulihan situasi serta kondisi yang tidak menentu akibat diterjang pandemi Covid-19," pungkas Sumbo.

Dalam rangkaian dies natalis ke 38 ISI Yogyakarta ini digelar pula berbagai agenda kegiatan. Di antaranya adalah pameran bertema 'Recovery: Art for Better Life' yang digelar di Galeri RJ Katamsi sejak 31 Mei hingga 30 Juni 2022 mendatang. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel