Difabel Jadi Parastronot Pertama di Dunia

Merdeka.com - Merdeka.com - European Space Agency (ESA) mengumumkan terpilihnya 17 kandidat astronot dari 22.500 pelamar yang berasal dari seluruh Negara Anggotanya. Daftar kandidat astronot yang dirilis pada Rabu (23/11) itu mencakup lima astronot profesional, sebelas astronot cadangan, dan untuk pertama kalinya, satu parastronot, atau astronot penyandang disabilitas.

Dilansir dari CNET, Kamis (24/11), ESA berencana untuk melibatkan difabel dalam mengidentifikasi adaptasi potensial yang akan memungkinkan astronot dengan disabilitas fisik untuk terbang ke luar angkasa dan mengambil bagian dalam penyelidikan sains yang penting.

"Kelas astronot ESA ini membawa ambisi, bakat, dan keragaman dalam berbagai bentuk untuk mendorong upaya kita, dan masa depan kita," kata Direktur Jenderal ESA Josef Aschbacher dalam sebuah pernyataan di blog resmi mereka, Rabu (23/11).

Mereka kemungkinan akan memeriksa hal-hal seperti bagaimana kaki palsu beroperasi di luar Bumi, bagaimana olahraga akan bekerja untuk seseorang dengan anggota tubuh yang diamputasi, dan apakah beberapa modifikasi struktural dapat menciptakan akses yang lebih baik bagi difabel untuk berkegiatan di sekitar International Space Station (ISS).

"Satu hal yang telah kita pelajari selama bekerja di ISS adalah nilai besar dalam keanekaragaman," tulis ESA. "Memasukkan orang dengan kebutuhan khusus juga berarti mendapat manfaat dari pengalaman luar biasa mereka, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang sulit, dan sudut pandang."

ESA pun memperkenalkan John McFall, difabel yang terpilih menjadi parastronot pertama dalam sejarah dan mantan atlet sprint Paralimpiade Inggris, yang telah mengantongi medali emas dan perak di kejuaraan dunia 2006 dan 2007. McFall dikabarkan kehilangan kakinya yang harus diamputasi pasca kecelakaan sepeda motor pada tahun 2000-an.

Kendati demikian, ia melanjutkan hidupnya sebagai ahli bedah trauma dan ortopedi di Inggris. Kedekatannya dengan sains itu mendorong McFall mendaftar program parastronot ESA yang dibuka tahun lalu.

"Saya selalu sangat tertarik pada sains, secara umum, dan eksplorasi ruang angkasa selalu ada di radar saya," kata McFall dalam wawancara video dengan ESA.

Pada rekrutmen program parastronont kala itu, ESA menerangkan bahwa mereka mencari penyandang disabilitas fisik yang secara psikologis, kognitif, teknis, dan profesional memenuhi syarat untuk menjadi astronot.

ESA juga mengatakan bermaksud untuk mengalokasikan anggaran awal sebesar 1 juta euro atau setara dengan kurang lebih Rp16,3 miliar pada proyek ini. Anggaran itu akan dialokasikan untuk memahami jenis alat dan penyesuaian teknis yang akan membantu parastronot berkembang baik di lingkungan tanpa gravitasi, maupun selama perjalanan intens
di luar Bumi.

"Saya membaca spesifikasi orang dan apa yang diperlukan," kata McFall saat melihat rekrutmen untuk pertama kalinya,

"Saya pikir saya akan menjadi kandidat yang sangat baik untuk membantu ESA menjawab pertanyaan yang mereka tanyakan: Bisakah kita mengirim seseorang dengan disabilitas ke luar angkasa?"

McFall pun mengatakan bahwa dia senang menggunakan keterampilannya dalam pemecahan masalah, mengidentifikasi masalah dan mengatasi hambatan untuk membantu difabel melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan orang-orang tanpa disabilitas.

"Sains adalah untuk semua orang. Dan perjalanan luar angkasa, mudah-mudahan, bisa untuk semua orang," kata McFall.

Reporter magang: Dinda Khansa Berlian [faz]