DIGIDES Tawarkan Ekosistem Smart City untuk Desa

Merdeka.com - Merdeka.com - Dengan misi mewujudkan mimpi desa-desa untuk menjadi bagian dari smart system, Sidik Permana menciptakan sebuah sistem informasi digital untuk administrasi desa bernama DIGIDES pada tahun 2019.

Tidak sendirian, Sidik sebagai CEO merintis Business to Government (B2G) ini bersama dua kawannya, Kasman Suherman sebagai CPO dan Taufiqurrahman sebagai CTO. Ketiganya merupakan talenta digital asal Sulawesi Selatan.

Sidik mengatakan, DIGIDES awalnya dibuat untuk daerah kelahirannya itu. Pertama kali digunakan oleh Kabupaten Barru untuk 15 desa pada 2020. Kini, berdasarkan pembaruan data statistik di website nya, DIGIDES telah digunakan oleh 646 desa, 110 kabupaten, dan 10.697 pengguna.

Saat ini, DIGIDES paling banyak digunakan di Sulawesi, Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera. Ia pun menambahkan bahwa DIGIDES menyasar desa-desa di wilayah tier 3.

"DIGIDES ingin menghadirkan ekosistem smart city di latar desa. Ingin masyarakat merasa bahwa teknologi sudah sampai di desa mereka," kata Sidik saat diwawancarai belum lama ini.

Sidik menjelaskan bahwa sistem informasi ini berupa aplikasi dan website. Aplikasi tersebut terkoneksi ke website dan aplikasi pelayanan warga. Warga sebagai pengguna bisa mengurus berbagai administrasi melalui DIGIDES, misalnya permohonan surat dan pencatatan pajak. Website desa dapat digunakan sebagai webprofil untuk meningkatkan potensi wisata.

"Di aplikasi juga ada marketplace. Desa punya peran agar warganya nggak berjuang sendirian untuk perekonomian dan hadir membantu UMKM," ujar Sidik menambahkan.

Ia mengungkap bahwa ada 75 ribu desa di Indonesia dan DIGIDES bahkan belum meng-cover 1 persennya. Pun menurut dia urusan administrasi desa di Indonesia sudah lama menjadi momok, tetapi belum ada yang ingin mengurus digitalisasinya dengan serius.

"Karena berasal dari Indonesia Timur, ketika membangun produk ini kami merasa seperti membantu keluarga sendiri," kata dia.

Sidik mengutarakan bahwa kesulitannya sering kali ada pada masalah internet dan literasi digital warga desa, kebanyakan lebih suka menggunakan internet untuk hiburan sehingga mempertanyakan untuk apa mereka menggunakan aplikasi ini. Kendati demikian, kepala desa selalu mendampingi DIGIDES dalam melakukan sosialisasi.

Di akhir sesi, Sidik mengungkapkan bahwa DIGIDES adalah cita-citanya sejak 2015. Ia ingin membangun perusahaan digital dari Indonesia Timur. Apalagi sangat sedikit start up yang lahir dari wilayah ini.

"Ibaratnya dulu leluhur Sulawesi Selatan itu membangun Pinisi, sekarang kami membangun DIGIDES," ujar Sidik.

Reporter: Dinda Khansa Berlian [faz]