Digifish 2019 Jadi Jembatan Inovasi Digital Sektor Kelautan dan Perikanan

Liputan6.com, Jakarta - Minapoli bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (DJPB-KKP) dan Himpunan Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (HA-FPIK IPB) menyelenggarakan Digifish 2019 pada Selasa kemarin.

Mengusung tema Incubating Ecosystem of Digital Innovation, gelaran ini dilangsungkan di Ballroom Gedung Mina Bahari 3, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Rangkaian Digifish 2019 terdiri dari Conference, Pitching Session, Innovation Expo dan Networking Session.

Digifish 2019 dihadiri lebih dari 200 orang, mulai dari para pembudidaya ikan, petambak udang, startup, kementerian dan lembaga, supplier sarana dan prasarana produksi perikanan, perguruan tinggi, NGO, media, asosiasi perikanan, startup accelerator hingga venture capital.

Ketua Pelaksana Digifish 2019 Rully Setya Purnama menjelaskan, tujuan dari diadakannya Digifish 2019 adalah untuk menginkubasi lahirnya ekosistem inovasi digital kelautan dan perikanan sehingga inovasi yang muncul mulai dari perguruan tinggi dapat terkonversi hingga dapat digunakan oleh pelaku industri.

"Melalui ekosistem ini dapat mendorong dan menjembatani hadirnya inovasi yang dapat menjadi alternatif solusi atas tantangan yang ada saat ini dan berkembang kedepan di bidang kelautan dan perikanan.”, ujar Rully dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (4/12/2019).

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Sukmoro menyampaikan Digifish 2019 diharapkan menjadi jawaban buat kita dalam menyelesaikan tantangan dan permasalahan yang ada di industri perikanan melalui inovasi digital.

“Tantangan kami untuk perbanyak inovasi anak muda. Digifish adalah terobosannya. Karena Digifish tidak hanya perangkat lunak (software) tapi juga perangkat kerasnya (hardware). Maka ini harus didorong.” jelas Edhy.

 

Sesi I

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo saat membuka perhelatan Digifish 2019. (Foto: KKP)

Sesi pertama Conference pada Digifish 2019, menampilkan tiga founder dari startup yakni serta satu perwakilan asosiasi petambak udang. Pembicara dari startup Growpal, Aruna dan Jala berbagi pengalaman dan tantangan yang dihadapi dari awal hingga berada di titik saat ini sebagai startup perikanan yang punya reputasi skala global.

Sesi ini dimoderatori oleh Anugerah Erlaut yang merupakan pemenang kedua Aquaculture Innovation Challenges (AIC) 2019.

Pembicara pertama, Paundra Noorbaskoro memaparkan visi dan misi Growpal untuk mengingkatkan ekonomi dan menghasilkan dampak sosial melalui pendanaan kegiatan produksi perikanan.

Aryo Wiryawan menceritakan inspirasinya untuk memulai Jala dari permasalahan yang dihadapinya dalam mencatat parameter air sebagai petambak. Startup yang dimulai Aryo memecahkan masalah itu dengan menyediakan sensor yang dapat mencatat data air kolam secara otomatis.

Data yang dicatat digunakan oleh Jala untuk membuat model kecerdasan buatan sehingga dapat memberikan masukan kepada petani. Farid Naufal Aslam, founder dari Aruna memulai langkahnya sejak memenangi Hackathon Merdeka pada tahun 2015.

Aruna bertujuan menigkatkan pendapatan nelayan dengan menyediakan online marketplace yang memperpendek mata rantai distribusi ikan sehingga nelayan dapat memperoleh harga yang lebih baik.

Sementara itu Cynthia Darmawan dari Petambak Muda Indonesia (PMI) berbagi cerita tentang pengalamannya kuliah di luar negeri dan bagaimana ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan melanjutkan usaha keluarganya bertambak udang. Bagi Cynthia, kita harus bangga menjadi menjadi aktor di bidang perikanan yang turut berkontribusi untuk Indonesia.

 

Sesi II

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo saat membuka perhelatan Digifish 2019. (Foto: KKP)

Sesi kedua Conference menampilkan 5 komponen penting dalam ekosistem inovasi digital perikanan yakni startup, accelerator, venture capital dan pemerintah (KKP) serta dimoredatori oleh perwakilan perguruan tinggi yakni Bapak Luky Adrianto sebagai Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor yang juga sebagai Ketua Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Kelautan dan Perikanan.

Gibran Huzaifah menceritakan bagaimana pengalamannya memulai eFishery sebagai startup pionir di bidang perikanan khususnya akuakultur pada tahun 2012 hingga sekarang berhasil meraih pendanaan USD 4 juta dari investor dan pengguna produk inovasinya yakni alat pemberi pakan ikan/udang otomatis telah tersebar di 22 provinsi di Indonesia.

eFishery juga menginisiasi hadirnya Kampung Perikanan Digital di berbagai daerah untuk meningkatkan adopsi teknologi di bidang akuakultur.

Dylan Howell dari HATCH, yang merupakan akselerator startup pertama di dunia yang berfokus di bidang akuakultur menyampaikan bahwa mereka telah menjelejahi berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia untuk mencari startup yang mempunyai potensi untuk dikembangkan lebih jauh. Program HATCH telah diikuti lebih dari 20 startup dari berbagai negara dan tahun ini memasuki batch ke 3 dan mengambil lokasi penyelenggaraan di Hawaii, Norwegia dan Singapura.

Sementara itu Richard Budhitresno dari East Ventures yang merupakan salah satu venture capital paling aktif di Asia Tenggara, menjelaskan pentingnya karakter seorang founder startup dan market size sebagai hal yang menjadi pertimbangan East Ventures untuk keputusan dalam investasi ke startup.

East Ventures dikenal memiliki “sentuhan dingin” yang dibuktikan dengan portfolio investasi di startup unicorn seperti Tokopedia dan Traveloka. Menariknya mereka sudah mulai melarik industri perikanan, salah satunya startup Aruna yang baru saja mereka suntik pendanaan.

Pembicara terakhir Bapak Coco Kokarkin, Sekretaris Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP menyampaikan bahwa pemerintah akan terus mendukung hadirnya inovasi digital terlebih untuk segmen yang belum banyak disentuh dan menjadi tantangan industri saat ini seperti pencegahan penyakit ikan/udang dan pengembangan teknologi untuk perikanan berkelanjutan.