Digitalisasi di Asia Tenggara dibayangi serangan siber

Maria Rosari Dwi Putri
·Bacaan 2 menit

Transformasi digital di wilayah Asia Tenggara, yang terjadi akibat pandemi virus corona, diperkirakan akan tetap berlangsung tahun ini, namun, rawan serangan siber.

Perusahaan yang bergerak di keamanan siber, Kaspersky, melihat pengguna internet di Asia Tenggara berjumlah hampir 70 persen dari populasi, atau sekitar 400 juta orang.

Sayangnya, karena keterampilan digital yang tidak merata, faktor manusia menjadi celah yang dimanfaatkan peretas untuk melancarkan serangan siber di wilayah ini. Sepanjang tahun 2020, Kaspersky menekankan serangan terbanyak berupa cryptomining, phishing, ransomware dan DDos.

Sementara peretas, mereka memanfaatkan COVID-19 untuk melancarkan serangan termasuk untuk sektor kesehatan.

"Kami tidak melihat ada yang berubah dalam waktu dekat. Orang-orang di wilayah Asia Tenggara akan tetap bersosialisasi dan selalu mencari cara untuk menjadi produktif dengan menggunakan teknologi. Dalam dunia bisnis, kami melihat bahwa pekerjaan jarak jauh akan dilakukan di sebagian besar sektor bahkan setelah pandemi mereda sekalipun. Sekarang adalah waktu untuk merefleksikan pelajaran tahun 2020 dan kami menyarankan perusahaan untuk mulai membuat strategi keamanan jika sebelumnya tidak tersedia, atau merevisi yang sudah ada agar secara efektif dapat beradaptasi dengan lingkungan yang berubah dan sebagai upaya melindungi tenaga kerja," kata General Manager Kaspersky untuk Asia Tenggara, Yeo Siang Tiong, dalam keterangan pers, dikutip Rabu.

Baca juga: Kaspersky deteksi kenaikan serangan di platform belajar

Baca juga: E-commerce dan layanan pemesanan akan terus jadi target peretasan

Kasperksy melihat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dari segi keamanan siber, antara lain digitalisasi, sektor kesehatan dan penggelaran 5G di sejumlah negara.

Popularitas bekerja dari rumah, atau work from home, meningkat sejak pandemi. Secara otomatis karyawan membutuhkan jaringan yang aman untuk terhubung ke jaringan kantor mereka, misalnya dengan menggunakan VPN.

Ketergantungan pada VPN, menurut Kaspersky, membuka potensi vektor serangan, misalnya menggunakan rekayasa sosial, social engineering, untuk mendapatkan akses ke VPN perusahaan.

Pada sektor kesehatan, Kaspersky melihat adanya peningkatan serangan terhadap fasilitas medis di berbagai negara, terutama untuk pengembangan vaksin. Di Asia Tenggara, perusahaan tersebut juga melihat tren penggunaan aplikasi telemedis naik.

Tren ini juga dibayangi ancaman siber mengingat semakin banyak data pasien yang berada di dunia maya.

Berkaitan dengan rencana jaringan 5G di sejumlah negara di Asia Tenggara, Kaspersky melihatnya sebagai potensi serangan di permukaan karena perangkat lunak lebih mudah diakses dan lebih mudah ditemukan kerentanannya.

Teknologi 5G menitikberatkan fungsi operasional pada perangkat lunak dibandingkan perangkat keras.

Sektor lainnya yang perlu diperhatikan menurut Kaspersky adalah pemilihan umum, yang berpotensi diwarnai disinformasi di dunia maya, serta ransomware yang diperkirakan masih akan naik tahun ini, baik dari angka serangan maupun jumlah uang tebusan yang diminta peretas.

Baca juga: Prediksi keamanan siber di sektor pendidikan tahun 2021

Baca juga: Prediksi ancaman finansial tahun 2021

Baca juga: Asia Pasifik jadi target empuk serangan siber selama 2020