Digitalisasi di Daerah Tanpa Jaringan Seluler

Lazuardhi Utama
·Bacaan 2 menit

VIVATeknologi digital adalah bagian dari prinsip revolusi industri 4.0 yang berkembang sangat cepat yang dibutuhkan industri, termasuk pertambangan. Mulai pada saat perencanaan dan pengembangan lahan, eksploitasi atau operasional, sistem transportasi hingga pengolahan hasil tambang (smelter).

Adapun teknologi digital yang digunakan antara lain Internet of Things (IoT), Cloud Computing, Big Data, Machine Learning, Artificial Intelligence (AI), Augmented Reality (AR), mesin robot untuk drilling, Drones, Autonomous Truck, Digital Twins hingga Blockchain.

Baca: Saling Senggol Mi 11 Lite 5G vs Poco X3 Pro

Sejumlah perusahaan tambang, baik lokal maupun global, saat ini sedang bertransformasi digital agar mampu menghasilkan produksi yang lebih besar, biaya yang lebih murah dan keselamatan karyawan serta lingkungan yang lebih baik. PT Petrosea Tbk satu di antaranya.

Mengutip McKinsey yang berjudul Buckets of innovation: How digital has transformed a mining company in Indonesia, emiten yang memiliki kode bursa PTRO itu memilih penerapan transformasi digital pada proyeknya yang berada di daerah terpencil dan terisolasi.

Tidak hanya itu, daerah tersebut bahkan tidak memiliki jaringan seluler yang menjadi salah satu backbone (tulang punggung) dalam penerapan digital. Menurut Direktur Utama Petrosea, Hanifa Indradjaya, transformasi digital tidak lepas dari kerja sama yang luar biasa, baik para frontliner hingga manajemen.

"Kami menyebutnya dengan strategi 3D atau tiga langkah diversifikasi," kata dia, Jumat, 9 April 2021. Diversifikasi pertama terus berlangsung saat ini di mana Petrosea terlibat dalam proyek emas dan secara simultan mencari aset nikel dan aset tembaga.

Diversifikasi yang kedua adalah digitalisasi melalui Minerva, yang akan berkembang secara signifikan dalam hal cakupan dan skala. Digitalisasi ini berdampak pada pengurangan konsumsi bahan bakar. "Kami memanfaatkan big data dan memprosesnya untuk membuat keputusan operasional secara real-time supaya mengurangi konsumsi bahan bakar," ungkapnya.

Kemudian, diversifikasi ketiga yaitu upaya dekarbonisasi. Pengurangan konsumsi bahan bakar sehingga menghasilkan lebih sedikit asap. Saat ini, lanjut Hanifa, targetnya mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 30 persen selama periode 5 tahun.

Strategi 3D ini pula yang membuat Petrosea bersama anak usahanya PT Karya Bhumi Lestari (KBL) menadatangi kerja sama jasa pertambangan dengan PT Kartika Selabumi Mining (KSM) dan PT Palm Mas Asri (PMA) di area tambang KSM yang berlokasi di Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Dalam perjanjian tersebut, Petrosea sebagai pihak yang melakukan manajemen proyek dan KBL sebagai kontraktor, memiliki perkiraan target produksi sebesar 78,28 juta BCM (bank cubic meter) volume lapisan tanah penutup dan 3,95 juta ton batu bara untuk durasi 7 tahun hingga 31 Desember 2027 dengan estimasi nilai kontrak Rp2,7 triliun.