Digitalisasi Pertanian Jadi Kunci Swasembada Pangan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Kemajuan teknologi telah merambah pada sektor pertanian. Digitalisasi pertanian digadang mampu jadi solusi swasembada pangan untuk generasi selanjutnya.

Dalam mengembangkan digitalisasi pertanian ini, generasi petani milenial menjadi salah satu SDM yang perlu dipersiapkan sebagai kuncinya.

"Pemerintah memiliki target 1 juta petani milenial yang ikut tergabung dalam 40 ribu kelompok di masing-masing daerah, dimana dalam setiap kelompok terdiri dari 20-30 orang," kata Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim, Septriana Tangkary dalam keterangannya, Senin (5/4/2021).

Septriana menambahkan, masyarakat Indonesia sudah menjadi masyarakat digital karena saat ini semakin mudah untuk mengakses informasi melalui berbagai platform teknologi digital yang menawarkan inovasi fitur dari medium komunikasi yang kian interaktif.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan, pertanian merupakan sektor yang paling bertahan dalam masa pandemi Covid-19, dengan tumbuh sebesar 16,24 persen di saat sektor lain mengalami penurunan.

Hal ini didukung pola konsumsi masyarakat yang menempatkan bahan pokok sebagai prioritas pengeluarannya (99,99 persen) menurut data BPS.

"Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk memajukan sektor pertanian di era 4.0. Pertama, membangun learning center bagi para petani di daerah. Kedua, mempersiapkan generasi-genarasi baru petani," ungkap Rektor Institut Pertanian Bogor Arif Satria.

Sebagai contoh penerapan digitalisasi pertanian, founder Saung Sayur Sehat (S3) Farm Azis Abdul Rahman memberikan motivasi agar anak muda yang masih duduk dibangku kuliah jangan takut untuk memulai bisnis pertanian.

"Gagal itu hal biasa, namun bagaimana kalian bangkit dan menemukan jalan keluarnya merupakan kunci menjadi pengusaha sukses," ujarnya.

JK Ungkap Alasan Indonesia Tak Bisa Swasembada Pangan

Ketua Umum PMI Jusuf Kalla (JK) meminta partisipasi masyarakat dan pengusaha memerangi COVID-19 yang semakin meninggi di Indonesia, terutama di wilayah DKI Jakarta di sela sela perayaan HUT PMI ke-75 di Markas Pusat PMI, Jakarta, Kamis (17/9/2020). (Tim Komunikasi Jusuf Kalla/JK)
Ketua Umum PMI Jusuf Kalla (JK) meminta partisipasi masyarakat dan pengusaha memerangi COVID-19 yang semakin meninggi di Indonesia, terutama di wilayah DKI Jakarta di sela sela perayaan HUT PMI ke-75 di Markas Pusat PMI, Jakarta, Kamis (17/9/2020). (Tim Komunikasi Jusuf Kalla/JK)

Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK), mengungkapkan alasan sulitnya Indonesia untuk mencapai swasembada pangan. Menurut JK, persoalan utamanya adalah dikarenakan jumlah populasi penduduk Indonesia yang cukup banyak yang kemudian tak diiringi dengan lahan persawahan yang cukup.

JK mengatakan, dengan populasi penduduk Indonesia yang mencapai 260 juta orang tidak mungkin bisa berhasil melakukan swasembada pangan. Apalagi konidisi persawahan di Tanah Air setiap harinya semakin menurun.

"Penduduk sekarang 260 juta, sawahnya berapa? jadi sebenernya kita lebih baik, karena tapi sawahnya turun, ya gimana mau swasembada," jelas dia dalam acara Dialog Bersama 100 Ekonom, di Jakarta, Kamis (17/10).

Lantas kondisi ini berbanding terbalik jika dibandingkan era Pemerintahan Soeharto pada masa itu. JK menilai, swasembada yang dilakukan di masa Presiden Soeharto berhasil dikarenakan populasi penduduk saat itu tidak seperti terjadi sekarang.

"Dulu jaman Pak Harto, swasembada. Dulu penduduknya 130 juta, sawah kita 10 juta hektar. Produktiviitas 3 ton per hektar swasembada lah," jelas JK.

Dia pun berharap, ke depannya Indonesia dapat mendulang kejayaannya dalam swasembada pangan seperti tahun-tahun lalu. Apalagi, saat ini tengah didukung oleh perkembangan teknologi.

"Mudah-mudahan tahun ni tetep oke. Makanya, teknolgi ini penting untuk menyelamatkan bangsa ini," tandasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: