Diguncang Gempa, 7.227 Warga Maluku Tengah Mengungsi ke Hutan

·Bacaan 2 menit

VIVA – Pasca gempa bumi tektonik dengan kekuatan magnitudo 6,1 di Maluku Tengah, masyarakat empat desa di kecamatan Tehoru masih bertahan di tenda pengungsian di hutan.

Hingga Kamis pagi, 17 Juni 2021, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Tengah mendata ada 7.227 warga empat desa di kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah yang mengungsi di hutan.

Kepala BPBD Maluku Tengah, Latief mengatakan dari data sementara yang dihimpun oleh petugas BPBD di lapangan ada 143 rumah warga dan juga fasilitas lainnya rusak akibat gempa bumi.

"Data sementara jumlah kerusakan rumah, Yaputih 15 unit, Saunolu 70 unit, Tehoru 40 unit dan Desa Haya 18 unit jadi jumlahnya ada 143 bangunan rumah dan juga fasilitas pemerintah," kata Latief kepada VIVA, Kamis pagi.

Selain bangunan rumah yang rusak, tanggul laut penahan ombak di Tehoru juga ikut retak akibat gempa tektonik itu. Gempa juga merusak pagar gereja dan tembok masjid di Desa Saunolu.

BPBD masih terus melakukan peninjauan ke sejumlah desa dan dusun yang ada di kecamatan Teluti untuk memastikan dampak gempa.

Selain kerusakan, BPBD setempat juga meninjau masyarakat yang sementara ini mengungsi di kamp-kamp pengungsian yang berada di hutan maupun lokasi dataran tinggi.

"Sampai Kamis pagi ini kita mendata ada jumlah yang mengungsi di 4 negeri atau desa sebanyak 7.227 jiwa, yang sementara ini mengungsi di kamp pengungsian," ujarnya.

Latief memastikan BPBD Maluku Tengah telah menyalurkan bantuan berupa tenda, selimut dan tikar. BPBD masih terus memonitor situasi terkini pasca gempa Magnitudo (M) 6,1 yang terjadi di Kecamatan Tehoru Maluku Tengah.

Masyarakat selalu diimbau untuk tetap waspada dan siap siaga dalam menghadapi bahaya gempa bumi maupun potensi tsunami, tetap pantau informasi yang dapat dipercaya dan tidak mudah percaya dengan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pasca Gempa Maluku Tengah hasil monitoring BMKG Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah terjadi setidaknya 13 gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M 3,5.

BMKG mengimbau agar waspada terhadap gempa susulan dan potensi tsunami akibat longsor ke atau di bawah laut bagi masyarakat di sepanjang Pantai Japutih sampai Pantau Apiahu Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Seram, Maluku.

Hal tersebut disampaikan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati melalui keterangan tertulisnya. "Segera menjauhi pantai menuju tempat tinggi," tulisnya.

Sebelumnya, BMKG menginformasikan gempa dengan magnitudo (M) 6,1 tersebut tidak memicu terjadinya tsunami. Namun kemudian BMKG memperbaharui keterangannya akan adanya potensi tsunami bukan dari gempanya namun akibat longsoran di bawah laut.

Berdasarkan hasil observasi muka laut stasiun Tehoru menunjukkan ada kenaikan muka air laut setinggi 0,5 meter. Hal ini diperkirakan akibat dari longsoran bawah laut.

Laporan: Christ Belseran/tvOne Maluku

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel