Diguncang Gempa, Qari asal Sumbar Ini Tetap Tenang Lantunkan Alquran

Dedy Priatmojo
·Bacaan 2 menit

VIVAGempa bumi dengan magnitudo 5.2 terletak pada koordinat 1,75 Lintang Selatan dan 100,42 Bujur Timur. Atau tepatnya, berlokasi di laut pada jarak 47 kilometer arah Barat Daya Kota Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, menggetarkan sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Rabu siang, 18 November 2020, pukul 11.41 WIB.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa, gempa ini memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Sebagian warga di kota Painan, Tua Pejat, Padang, Padang Panjang, Padang Pariaman, Solok Selatan, Pasaman, Pasaman Barat, dan Sijunjung, merasakan getaran gempa cukup kuat.

Ada yang menarik dari peristiwa gempa bumi kali ini, meski sejumlah warga banyak yang berhamburan keluar rumah menghindari dampak terburuk dari gempa, namun tidak bagi Abdullah Fikri, salah satu peserta MTQ Nasional XXVIII utusan Sumatera Barat yang sedang tampil di venue utama Masjid Raya Sumbar.

Meski getaran dirasa cukup kuat dan menggoyangkan kaca dan bunga yang berada di dekatnya, Fikri tetap tenang melantunkan ayat suci Alquran.

Dalam video siaran langsung di menit 2.59.46 di akun Facebook SumbarSatuTV, tampak peserta MTQ asal Sumbar itu melantunkan ayat suci Alquran dimulai dengan ayat Al Anbiyaa. Ia tampak tenang meski terlihat tanaman yang berada di belakangnya bergetar.

Hingga kini, aktivitas helatan MTQ XXVIII masih berjalan normal.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, Alwis mengingatkan semua panitia atau penanggung jawab venue perlombaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-28 untuk memahami SOP bencana alam.

"Gempa sudah bukan berita baru lagi di Sumatera Barat. Kita ingatkan supaya penanggung jawab venue ingatkan tamu kita (peserta MTQ) mengenai SOP bencana," kata Alwis.

Alwis menyebut bencana gempa bumi merupakan bencana yang tidak dapat dihindari oleh manusia. Ia berharap Sumatera Barat tetap aman dan terhindar dari musibah.

Selain persoalan gempa, pelaksanaan MTQ ke-28 di Sumbar kali ini juga dihadapkan dengan tantangan masalah kesehatan, di mana COVID-19 masih menjadi pandemi. "Untuk itu, selain SOP bencana alam, juga perlu diperhatikan protokol kesehatan," ungkapnya.