Digusur, PKL di Stasiun Lenteng Agung menangis

MERDEKA.COM, Puluhan pedagang kaki lima (PKL) di Stasiun Lenteng Agung tidak bisa melawan saat puluhan pegawai PT Kereta Api menggusur lapak mereka. Dengan dibantu polisi dan TNI, para pegawai itu menggusur tempat mata pencaharian mereka.

"Temen-teman juga dipukul sampai jatuh dari peron stasiun, adanya Brimob sama TNI juga sebenarnya menyalahi aturan, kita akan ke Komnas HAM menindak PT KAI, ini di luar batas pelanggar HAM yang terjadi," kata Faldo Maldini dari BEM UI yang ikut membantu para PKL kepada merdeka.com dengan mata berkaca-kaca, Jakarta, Minggu (30/12).

Para pedagang pun bertumbangan, pingsan dan beberapa di antaranya saling berbagi pelukan dengan mahasiswa UI. Salah satunya, pemimpin paguyuban pedagang di Stasiun Lenteng Agung.

"Kita didampingi Komnas Ham, LBH, mahasiswa UI menegur PT KAI. Saya konsisten berdagang di sini, barang saya dihancurkan. Kita ini bukan pedagang ilegal," kata Jali, pedagang kelontong di Lenteng Agung.

Menurut cerita Jali, dirinya dan 120 pedagang di Lenteng Agung selalu membayar sewa kios yang harganya jutaan kepada PT KAI. Bahkan terlampir juga surat bukti pembayaran dan sewa kepada PT KAI.

"Kami mengikuti arahan PT KAI, kami membayar sewa bahkan membeli kios. Untuk penggusuran ini kami sebenarnya melakukan upaya persuasif melalui surat dan dialog tapi tak sedikitpun digubris," lanjut Jai sedih.

Hampir seluruh pedagang dari jalur Stasiun Bogor-Jakarta dibersihkan. PT KAI berdalih upaya ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi stasiun sebenarnya. Namun PT KAI tidak memberikan tempat baru.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.