Dihukum 7 Tahun oleh BWF Akibat Match Fixing, Pebulutangkis Indonesia Bela Diri

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - BWF menjatuhi hukuman berat kepada delapan pebulutangkis Indonesia akibat kasus match fixing. Satu di antaranya menyasar Agripinna Prima Rahmanto Putra.

BWF memvonis Agripinna Prima Rahmanto Putra karena 'bertaruh atau berjudi untuk pertandingan bulutangkis pada periode substansial, bertaruh yang difasilitasi oleh Hendra Tandjaya, dan kooperatif dengan BWF'.

Tiga pertimbangan di atas membuat Agripinna Prima Rahmanto Putra disanksi larangan beraktifitas pada turnamen di bawah BWF selama tujuh tahun dan denda 7 ribu dolar AS atau setara dengan Rp99,3 juta.

Selain Agripinna Prima Rahmanto Putra, tujuh pebulutangkis Indonesia lainnya yang dihukum oleh BWF karena 'memanipulasi pertandingan atau taruhan hasil bulutangkis' terdiri dari Hendra Tandjaya, Ivandi Danang, Androw Yunanto, Sekartaji Putri, Mia Mawarti, Fadila Afni, dan Aditiya Dwiantoro.

Melalui channel YouTube-nya, AGRIPPINA and Friends, Agripinna Prima Rahmanto Putra membela diri. Pebulutangkis di sektor ganda putra ini juga menceritakan kronologi versinya hingga terlibat dalam kasus ini dan dikenai sanksi berat oleh BWF.

Bermula dari Vietnam Open 2017

Pembelaan pebulutangkis Indonesia, Agripinna Prima Rahmanto Putra, setelah dihukum BWF karena terlibat match fixing. (YouTube AGRIPPINA and Friends).
Pembelaan pebulutangkis Indonesia, Agripinna Prima Rahmanto Putra, setelah dihukum BWF karena terlibat match fixing. (YouTube AGRIPPINA and Friends).

Agripinna Prima Rahmanto Putra mengisahkan, kasus ini bermula dari pertemuannya dengan pebulutangkis Indonesia lainnya, Hendra Tandjaya, pada Vietnam Open 2017.

Saat baru selesai bertanding di babak pertama, Agripinna Prima Rahmanto Putra mengaku dihampiri oleh Hendra Tandjaya. Nomor telepon selulernya juga diminta oleh atlet ganda putra dan ganda campuran tersebut.

Agripinna Prima Rahmanto Putra mengklaim tidak mengenali Hendra Tandjaya sebelumnya. Padahal, keduanya sama-sama berasal dari Indonesia.

"Saya tak membahas tujuh orang lain, saya membahas yang pertama dengan Hendra Tandjaya. Karena Hendra Tandjaya yang mengajak saya terkait kasus dugaan match fixing. Jadi pertama kali saya bertemu Hendra Tandjaya di Vietnam Open 2017. Bertemunya di lapangan. Saya tak kenal dia. Ketika saya selesai bertanding di babak pertama, dia menghampiri saya. 'Woy, Gri main lo bagus banget'. Dia basa-basi dan meminta nomor handphone saya lalu saya kasih. Sepertinya dia kenal saya," ujar Agripinna Prima Rahmanto Putra membuka kronologi versinya.

"Tiba-tiba malam harinya dia chat saya. Dia menawari saya, 'Gri, besok lo lawan ini, mau tidak mengalah?' Tapi, alhamdulillah masih bisa saya tolak. Saya bekerja di bulutangkis, masa saya melanggar aturan. Saya mau mencari duit dari mana?"

"Sudah saya tolak. Tiba-tiba si Hendra Tandjaya ditangkap dan digeledah oleh BWF. Lalu dicek handphone-nya. Berhubung saya pernah chat dengan Hendra Tandjaya, saya jadi ikut terlibat dalam kasus ini. Jadi selesai digeledah, di handphone-nya Hendra Tandjaya itu ada chat dengan saya yang mengajak saya untuk bermain match fixing. Namun, saya sudah konfirmasi ke BWF kalau saya menolak ajakan HT tersebut. Saya tegaskan lagi, saya menolak match fixing," jelas Agripinna Prima Rahmanto Putra.

Agripinna Prima Rahmanto Putra Klaim Hukumannya Bukan karena Match Fixing

Setelah BWF memeriksan Hendra Tandjaya, giliran Agripinna Prima Rahmanto Putra yang diinterogasi oleh Asosiasi Bulutangkis Dunia tersebut. Dia mengklaim dihukum bukan karena terlibat match fixing, namun turut kena getahnya akibat 'tidak melapor adanya ajakan memanipulasi pertandingan'.

"Setelah itu, saya dihubungi oleh PBSI yang menyampaikan bahwa BWF mau bertemu saya. Saya temui orang BWF karena saya merasa tidak salah. Saya diinterogasi sama BWF. Ditanya hubungan sama Hendra Tandjaya. Diinterogasi banyak dan sekitar dua jam. Semuanya aman, lalu beritanya muncul," tutur Agripinna Prima Rahmanto Putra.

"Kenapa saya terlibat di kasus tersebut? Salahnya saya menurut BWF, bukan karena match fixing, saya salah karena tidak melaporkan Hendra Tandjaya yang mengajak saya bermain match fixing. Diduganya saya terlibat. Saya tidak ikut-ikutan di match fixing. Saya hanya tidak melaporkan. Sebenarnya bagaimana saya mau melaporkan. Dia mengajak saya match fixing, saya tolak. Cukup sampai situ saja. Tidak menyangka bakal sebesar ini."

"Sekarang saya sudah dijatuhkan sanksi oleh BWF. Saya berencana mengajukan banding. Semoga saja semuanya akan baik-baik saja. Mohon doanya. Ini jadi pelajaran buat saya," ucap Agripinna Prima Rahmanto Putra mengakhiri.

Sumber: YouTube AGRIPPINA and Friends

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini