Dijadikan Tersangka oleh KPK, Habis Sudah Karier Politik Anas

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK) untuk menetapkan Anas Urbaningrum menjadi tersangka kasus dugaan korupsi Hambalang dinilai sebagai akhir perjalanan karier politik Anas.

"Sepertinya kalau di Partai Demokrat sudah the end of history bagi Anas," kata Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto kepada Tribunnews, Jumat(22/2/2013).

Begitu pula mengenai adanya kemungkinan kemunculan perlawanan dari loyalis Anas dan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam(HMI). Dua hal tersebut lanjut Gun Gun disinyalir tidak akan ada.

Mereka menurut Gun Gun akan tunduk kepada SBY yang kini lebih leluasa menguasai partai Demokrat.

"SBY itu cerdas, beberapa waktu lalu kan sudah ketemu dengan pengurus PB HMI," kata Gun Gun.

Sebelum jadi tersangka karier Anas memang terbilang gemilang. Dia sempat digadang-gadang sebagai tokoh muda penuh harapan bahkan kuat diprediksi akan menjadi presiden dari tokoh muda. Namun, akhirnya kasus korupsi yang membuatnya jatuh ke jurang kehancuran.

Data yang dihimpun dari berbagai sumber, Anas lahir pada 15 Juli 1969 di Blitar, Jawa Timur. Bapak empat anak itu lulusan Sarjana Ilmu Politik Unair, magister sains ilmu politik U dan program doktor di UGM.

Dia pernah jadi aktivis mahasiswa yang bersinar di HMI hingga akhirnya diangkat menjadi ketua umum PB HMI periode 1997-1999. Anas juga tercatat sebagai mahasiswa teladan dan lulusan terbaik Universitas Airlangga.

Pada tahun 2001-2005 Anas terpilih sebagai komisioner KPU. Namun sebelum itu, dia duduk sebagai tim persiapan pembentukan KPU sekaligus anggota tim verifikasi partai politik peserta pemilu atau tim sebelas.

Setelah Pemilu 2004, Anas masuk ke Partai Demokrat. Lalu, pada periode 2009-2014, Anas menjadi anggota DPR sekaligus anggota Fraksi Partai Demokrat. Namun di tengah jalan, dia mengundurkan diri karena terpilih sebagai ketua umum Partai berlambang mercy tersebut mengalahkan Marzuki Alie dan Andi Mallarangeng.

*Silakan

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.