Dikabarkan Meninggal, Ini 4 Aksi Kejam yang Pernah Diperbuat Kim Jong-un

Liputan6.com, Pyongyang - Nama Kim Jong-un beberapa hari belakangan tengah jadi sorotan. Pemimpin Korea Utara (Korut) itu dikabarkan sakit keras, setelah menjalani serangkaian prosedur kardiovaskular untuk mengatasi masalah pada jantungnya.

Kendati demikian, media Korut terkesan bungkam perihal tersebut. Tak ada klarifikasi atau pemberitaan terkini terkait hal itu. Negeri tetangga, Korea Selatan pun mengecilkan laporan soal kesehatan Kim Jong-un.

Desas-desus yang beredar bahwa sang pemimpin Korea Utara sakit parah juga memicu spekulasi kekhawatiran atas kematiannya. Kepergian yang akan mengguncang kawasan itu.

Selama ini, Kim Jong-un dikenal begitu kejam. Media internasional bahkan memberitakan aksi kejamnya tersebut. Seperti dikutip dari berbagai sumber, Minggu (26/4/2020) berikut 4 aksi kejam Kim Jong-un:

1. Jenazah tahanan tewas diberikan ke anjing penjaga

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un saat meninjau kabupaten Samjiyon County di Provinsi Ryanggang yang berbatasan dengan China, (4/4). (AFP Photo/KCNA VIA KNS)

Seorang mantan tahanan Ji Hyeon A, memilih kabur dari tahanan di Korut dan membelot ke Korea Selatan. Dia menceritakan kisah yang tidak menyenangkan saat menjadi tahanan Korut dalam forum PBB yang digelar di New York. Menurutnya, para tahanan diberikan belalang liar, katak bahkan tikus sebagai makanan. Bahkan tahanan dibiarkan kelaparan.

"Dan yang paling buruk adalah saat jenazah para tahanan yang tewas karena kelaparan diberikan kepada anjing penjaga," kata Hyeon A.

Dia menggambarkan Korea Utara sebagai penjara yang mengerikan dengan pemimpinnya terus melakukan pembunuhan massal terhadap warganya. Dia pun mendesak kepada pemerintah China untuk berhenti mengirimkan warga Korea Utara kembali ke negara itu.

2. Dipaksa menonton tahanan yang dieksekusi

Foto pada 2015 memperlihatkan Kim Yo-jong bersama sang kakak menginspeksi perusahaan pertahanan Sin Islet ( AFP PHOTO / KCNA)

Seorang pembelot Hee Yeon Lim (26) memutuskan melarikan diri setelah ayahnya, tentara berpangkat kolonel, Wui Yeon Lim (51) meninggal pada 2015.

Dia menceritakan bagaimana dia dipaksa untuk menonton sebelas musisi yang dieksekusi di sebuah stadion sepakbola setelah mereka dituduh membuat film porno. Mereka, lanjutnya, digelandang, diikat, ditutupi kepalanya, dan mulutnya seperti disumpal, sehingga tidak bisa bersuara, tidak bisa memohon belas kasihan, atau menjerit.

3. Pemandu sorak Korea Utara dijadikan budak seks

Ekspresi Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un saat memantau latihan militer Korea Utara di lokasi yang dirahasiakan pada hari Senin (2/3/2020). Latihan militer digelar ketika perundingan nuklir dengan Amerika Serikat terhenti. (Korean Central News Agency/Korea News Service via AP)

Kabar ini diutarakan oleh pembelot Lee So Yeon, mantan musikus militer Korea Utara. Dia mengatakan bahwa para penari dan penyanyi dipaksa menari striptis dan memberikan layanan seksual setiap hari bagi para pejabat elite di Politburo. Pejabat elite di Politburo meliputi pemimpin rezim, Kim Jong-un dan Presiden Kim Yong-nam.

Bahkan para atlet juga dijadikan budak. Klaim ini diungkapkan oleh pembelot lainnya, Kim Hyung-Soo. Kim mengatakan bahwa para atlet yang ikut olimpiade musim dingin juga budak.

Kim yang berusia 54 tahun membelot ke Korea Selatan tahun 2009 bersama anaknya, seorang atlet ski.

"Dalam satu kata, atlet adalah budak olahraga Kim Jong-un. Bahkan pelatihnya adalah budak Kim Jong-un, dan rezim Korea Utara. Karena di Korea Utara, Kim Jong-un dan rezimnya adalah penguasa. Para atlet dan cheerleader adalah budak Kim Jong-un dan Korea Utara," katanya.

4. Vonis Tiga Generasi

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengawasi kompetisi penembakan artileri di Korea Utara, Jumat (20/3/2020). Korea Utara menembakkan dua rudal balistik jarak pendek ketika dunia menghadapi pandemi virus corona COVID-19. (Korean Central News Agency/Korea News Service via AP)

Sistem hukum di Korea Utara menerapkan hukuman pada tiga generasi -- bukan hanya mereka yang melanggar aturan.

Jika seseorang melanggar hukum dan divonis penjara, maka seluruh kerabat terkait bisa mengalami nasib serupa.

Menurut pandangan penguasa Pyongyang, jika ada orang yang melanggar hukum --terutama tahanan politik -- maka seluruh keluarganya -- termasuk kakek-nenek, orangtua, dan anak-anak orang itu bakal ditahan atau dikirim ke kamp kerja paksa.

Aturan 'hukuman 3 generasi' itu dimulai oleh Kim Il-sung pada 1950-an.

Simak video pilihan berikut: