Dikabarkan Merger dengan Indosat, Tri Indonesia Buka Suara

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Raksasa keuangan Hongkong, CK Hutchison Holdings Ltd., dan perusahaan telekomunikasi Qatar, Ooredoo QPSC, dikabarkan sedang dalam tahap kesepakatan bisnis melalui mekanisme merger dan akusisi. Keduanya akan berkolaborasi bisnis di Indonesia.

Seperti diketahui, Ooredoo QPSC merupakan pemegang saham mayoritas PT Indosat Tbk (ISAT). Sedangkan, CK Hutchison Holdings Ltd adalah pemilik bisnis telekomunikasi PT Hutchison 3 Indonesia (Tri Indonesia).

Baca: Bisnis Telekomunikasi Tetap Legit, Pendapatan Indosat Naik Dua Digit

Mengutip situs The Standard, Selasa, 22 Desember 2020, pengumuman merger ini kemungkinan besar akan diumumkan pada pekan ini juga. Menurut sumber yang identitasnya dirahasiakan bahwa kesepakatan ini akan melibatkan penawaran uang tunai dan saham.

Kedua perusahaan ditetapkan untuk menjadi pemegang saham mayoritas dalam entitas gabungan terbarunya ini nanti. Akan tetapi, menurut sumber tersebut, ada juga kemungkinan penundaan atau bahkan kegagalan merger jika tidak menemui kata sepakat. Struktur organisasi baru pun belum diselesaikan karena belum ada kesepakatan.

Ketika dikonfirmasi, Wakil Direktur Utama PT Hutchison 3 Indonesia, M. Danny Buldansyah, hanya berkomentar singkat. "Mohon maaf. Kami dari manajemen belum bisa memberi tanggapan mengenai hal ini," kata dia kepada VIVA Tekno.

Baca juga: Tri Luncurkan Paket Data Internet hingga 25GB, Internetan Suka-suka

Lebih lanjut dirinya menginstruksikan untuk meminta kebenaran rumor tersebut kepada CK Hutchison Holdings maupun Ooredoo QPSC. Sementara itu, Indosat Ooredoo belum memberikan tanggapan ketika berita ini tayang.

Sebelumnya, pada pertengahan Mei tahun ini, raksasa telekomunikasi Malaysia, Axiata Group, mau mencaplok operator seluler Indonesia. Axiata diketahui sebagai induk usaha operator telekomunikasi XL.

Aksi korporasi ini bagian dari efisiensi sekaligus upaya melakukan konsolidasi industri telekomunikasi. Selain itu rencana akuisisi ini juga ingin dipercepat saat ekonomi global masih dilanda wabah Virus Corona COVID-19.

Axiata Group, dengan kapitalisasi pasar sekitar US$8 miliar atau hampir Rp117 triliun, telah melakukan uji tuntas tahun lalu, dan informasi dari itu dapat berguna jika kesepakatan akuisisi akan terwujud tahun ini.