Dikawal Serasa Presiden, Jurnalis Medan Protes ke Bobby Nasution

Agus Rahmat, Putra Nasution (Medan)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Puluhan jurnalis di Kota Medan, Sumatera Utara memprotes pengamanan di Balai Kota, yang mengakibatkan dua jurnalis diusir saat hendak meliput.

Jurnalis diusir oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), polisi hingga Pasukan Pengaman Presiden (Paspampers), yang hendak ingin mewawancari atau doorstop Wali Kota Medan, Muhammad Bobby Afif Nasution.

Para pencari berita ini, menggelar unjuk rasa damai di depan kantor tempat menantu Presiden Joko Widodo bekerja, di Gedung Balai, Kota Medan, Kamis 15 April 2021.

Baca juga: Kasus Penularan Covid-19 di Batam Melonjak Drastis

Para jurnalis yang biasa meliput di Medan ini menilai, baru Bobby Nasution lah, Wali Kota Medan yang mempunyai pengawalan dan pengamanan super ketat.

Bahkan, tidak memberikan kebebasan wartawan untuk mendapat akses informasi. Hal ini, berbanding terbalik dengan Wali Kota Medan sebelumnya, Rahudman Harahap, HT Dzulmi Eldin dan terakhir Akhyar Nasution. Para wali kota sebelum Bobby itu, memberi ruang kebebasan kepada jurnalis untuk melakukan peliputan di Balai Kota.

"Ini adalah puncak dari keresahan jurnalis yang selama ini merasakan kesulitan dalam mengakses informasi terutama saat ingin mewawancarai Bobby Nasution," ungkap ?Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, Liston Damanik.

Liston menjelaskan, jurnalis memilik hak. Pekerjaan ini juga ?dilindungi oleh Undang-Undang No 40 Tahun 1999 tentang pers. Sehingga sudah seharusnya dapat dipahami bagaimana kerja jurnalis dalam menyampaikan informasi kepada publik.

"Pekerjaan jurnalis adalah pekerjaan publik karena masyarakat perlu tahu informasi kinerja Pemkot Medan. Kami berharap Wali Kota Medan mewakili anak buahnya meminta maaf terhadap jurnalis se-Kota Medan. Dua rekan kami yang disakiti. Kami semua merasa tersakiti," tandasnya.

Sementara itu, seorang jurnalis yang diusir, Rehtin Hani Ritonga menjelaskan peristiwa dialaminya tepat di depan gedung Balai Kota, Rabu sore kemarin, 14 April 2021. Saat itu ia ingin mewawancari Bobby Nasution untuk konfirmasi terkait pemberitaan.

"Dari awal menunggu kami sudah didatangi Satpol PP, terus ditanya dari mana, mau ngapain. Terus oknum itu bilang enggak boleh harus izin dahulu, harus ada jadwal. Kami jawab hanya sebentar saja enggak lebih dari dua menit," jelas Hani.

Hani melanjutkan, oknum Satpol PP tersebut mendapat arahan dari Paspampres untuk mengusir mereka. "Setelah ada perdebatan di antara kami dengan petugas Satpol PP, dia masuk lagi. Di situ saat kami sedang menunggu sudah seperti dipantau. Beberapa kali tim keamanan lihat kami," jelasnya.

Tak lama berselang, kedua jurnalis itu mengetahui Bobby Nasution akan keluar dari kantornya. Mereka kemudian mencoba berusaha menunggu di dekat mobil dinas Wali Kota Medan itu guna mewawancarai Bobby.

"Kami mendekat ke mobil itu, dimarahin (Paspampres) jangan di sini enggak boleh. Sana-sana jangan di sini. Di situ ada Satpol PP, polisi, dan paspampres. Terus paspampres datang kami cekcok," tutur Hani.

Namun sayangnya, aksi protes para jurnalis tidak mendapatkan respon dari Bobby Nasution maupun Wakil Wali Kota, Aulia Rachman. Maka dari itu, jurnalis menilai pemerintah Kota Medan minim keterbukaan informasi.