Dikembangkan Sejak 2010, Ternyata GeNose Awalnya Alat untuk Deteksi Penyakit TBC

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Adanya Covid-19 menyebabkan sektor pariwisata menurun bahkan secara signifikan. Namun, semua itu dapat teratasi sejak adanya GeNose C19 yang dinilai dapat membangkitkan kembali perekonomian khususnya sektor pariwisata.

“Munculnya GeNose ini diharapkan dapat menghidupkan kembali kegiatan pariwisata Indonesia,” ujar Menteri Riset dan Teknologi Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro pada Hybrid Launching: GeNose C-19 bertajuk Inovasi Indonesia untuk Pariwisata Indonesia di Hotel Raffles, Jakarta, Jumat (19/2/2021).

Selain itu, Bambang juga mengungkapkan, GeNose yang ada untuk sektor pariwisata ini bertujuan sebagai alat skrining yang dapat mencegah seseorang yang positif Covid-19 berada di antara orang-orang yang sehat.

Dari sekian sektor yang ada, pariwisatalah yang paling terkena dampak buruknya. Karena itu, sebuah tim peneliti Fakultas Kedokteran dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, akhirnya membuat alat ini.

Sebenarnya alat ini sudah dikembangkan sejak sebelum 2010, awalnya untuk mendeteksi penyakit TBC dengan endusan napas.

Seiring berjalannya waktu yang cukup lama hingga munculnya Covid-19 pada 2020. Tim peneliti tersebut kemudian mengalihkan alat tersebut – yang awalnya untuk mendeteksi TBC – menjadi pendeteksi virus Covid-19 melalui endusan napas.

Sejak saat itulah tim peneliti mulai mengembangkan alat tersebut. Hingga pada akhirnya pada September 2020, tim berencana untuk mulai mengenalkan alat tersebut kepada masyarakat.

Perbandingan dengan PCR

GeNose C19 adalah alat screening Covid-19 inovasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) digunakan oleh PT KAI Daop 2 Bandung. (sumber foto : Humas PT KAI Daop 2 Bandung)
GeNose C19 adalah alat screening Covid-19 inovasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) digunakan oleh PT KAI Daop 2 Bandung. (sumber foto : Humas PT KAI Daop 2 Bandung)

Jika dibandingkan dengan PCR, tentu ada perbedaan. “PCR didesain untuk diagnosa. Sedangkan GeNose saya minta untuk membandingkan karena bagi saya jika kita ingin membawa GeNose menjadi alat skrining yang bisa dipercaya oleh pengguna,” ujar Bambang.

Salah satunya cara untuk bisa mewujudkannya, GeNose tentu harus memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi dibandingkan PCR test.

Pada akhirnya GeNose diuji coba di sepuluh rumah sakit dengan 2.000 sampel. Beberapa orang yang dijadikan perbandingan tersebut, ada yang melakukan tes swab dan ada pula yang diminta mengenduskan napasnya.

Melihat perbandingan keduanya, hasilnya menunjukkan bahwa tingkat akurasi GoNose mampu mendekati 100 persen.

“Uji tahap pertama dari sepuluh rumah sakit tersebut akhirnya didapatkan tingkat akurasi sekitar 95 sampai 97 persen,” jelas Bambang.

Dari hasil uji coba tersebut, akhirnya tim peneliti mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan RI sejak 24 Desember 2020. Akhirnya sejak saat itulah GeNose mulai diperkenalkan sebagai alat skrining.

Reporter: Aprilia Wahyu Melati

Saksikan Video Ini