Dikepung Covid-19, NTT Dihantui Demam Berdarah

Liputan6.com, Sikka - Di tengah merebaknya pandemi virus corona atau covid-19, masyarakat Kabupaten Sikka, NTT masih dihantui wabah demam berdarah dengue (DBD).

Sejak dicabutnya status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD 17 Maret 2020 lalu, kasus DBD di Kabupaten Sikka terus meningkat. Data terakhir hingga tanggal 18 Maret 2020, jumlah penderita DBD yang dirawat di Kabupaten Sikka mencapai 1.396 orang dan 14 orang meninggal dunia.

Pantauan Liputan6.com, Sabtu (13/6/2020) siang di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC.Hillers Maumere, masih terdapat lima pasien DBD yang sedang dirawat.

"Kasus DBD sejak bulan Januari hingga April 2020 jumlah kasusnya sangat tinggi di kabupaten Sikka. Mulai pertengahan bulan April, kasus DBD sudah mulai menurun, tetapi masih tetap ada," ungkap Dokter Spesialis Anak RSUD Maumere, Dokter Mario B. Nara, kepada Liputan6.com, Sabtu (13/6/2020).

Ia mengatakan, kasus DBD di RSUD TC. Hillers Maumere, sejak bulan Mei hingga Juni 2020 jumlah DBD masih tetap ada.

"Pasien DBD yang dirawat di ruangan Melati dan Flamboyan saat ini lima orang, pasien dewasa dua orang dan pasien anak tiga orang," ujarnya.

Kondisi lima pasien DBD saat ini masih tetap stabil. Pasien ini masuk dalam tahap grade satu dengan kondisi panas dan kondisi tubuh menurun. Lima pasien tersebut dirawat sejak 2 Juni 2020. Pasien itu dirujuk dari tiga Puskesmas yakni, Puskesmas Habi Bola, Puskesmas Beru dan Puskesmas Watubaing.

Ia berharap, agar masyarakat kabupaten Sikka tetap waspada terhadap DBD, walaupun saat ini sedang dilanda wabah virus corona atau Clcovid-19.

"Kalau anak maupun orang dewasa yang mengalami sakit, mual, muntah, sakit kepala, sakit tulang, pedarahan seperti mimisan, sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan darah. Sehingga bisa dilihat nilai trombosit dan didektesi virusnya," dia menjelaskan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, mengatakan penanganan terhadap kasus DBD di Kabupaten Sikka hingga saat ini terus dijalankan. Karena, Sikka merupakan daerah endemik DBD.

Selain penanganan, tim Tim Gerak Cepat (TGC) juga terus bergerak dengan semua fasilitas DBD termasuk fogging alias pengasapan yang distribusikan ke semua Puskesmas.

"Kalau ada kasus baru, dari puskesmas langsung turun untuk Penindakan epidemilogi (PE) langsung dengan fogging," jelasnya.

Data penderita DBD di Kabupaten Sikka bulan Januari 2020 mencapai 354 kasus, Februari 719 kasus dan Maret menurun menjadi 323 kasus.

Diketahui, bupati Sikka sejak akhir bulan Januari 2020 mulai menetapkan status KLB DBD yang terus diperpanjang hingga tanggal 17 Maret 2020 status DBD dicabut. Pencabutan status DBD dilakukan pada minggu kesepuluh karena jumlah kasus terus mengalami penurunan.

Simak Video Pilihan Berikut: