Diklaim Efektif Obati Gejala Berat COVID-19, 5 Fakta Tocilizumab

Diza Liane Sahputri, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menurut sebuah studi baru, tocilizumab efektif mengobati pasien COVID-19 dengan gejala berat. Sebesar 45 persen pasien juga terhindar dari risiko kematian.

Dikutip dari laman The Health Site, studi dari University of Michigan menemukan peluang kesehatan yang lebih baik pada pasien kritis COVID-19 usai menerima dosis tunggal tocilizumab melalui intravena. Mereka lebih berpeluang keluar dari rumah sakit atau berhenti memakai ventilator satu bulan setelah perawatan, dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima obat.

Baca juga: Tocilizumab Diklaim Efektif Obati 90 Persen Pasien Virus Corona

Lantas, apa saja manfaat dari obat tocilizumab? Benarkah lebih baik dari dexamethasone? Berikut 5 fakta obat tocilizumab.

Redam badai sitokin

Peneliti menuturkan bahwa obat ini menenangkan 'badai sitokin' atau sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif yang disebabkan oleh infeksi COVID-19. Risiko kematian yang lebih rendah pada pasien yang menerima tocilizumab intravena terjadi meskipun fakta bahwa mereka juga dua kali lebih mungkin untuk mengembangkan infeksi lain di luar COVID-19.

Diteliti pada pasien kritis

Para peneliti melihat data dari 154 pasien sakit kritis yang dirawat di Michigan Medicine, pusat medis akademik U-M, selama enam minggu pertama kedatangan pandemi di Michigan dari awal Maret hingga akhir April. Sekitar setengah dari pasien yang diteliti menerima obat radang sendi tocilizumab dan setengahnya tidak. Sebagian besar menerimanya dalam periode 24 jam di sekitar intubasi mereka.

45 persen kurangi risiko kematian

Selama penelitian, para peneliti melihat bahwa pada akhir periode 28 hari setelah pasien menggunakan ventilator, 18 persen dari mereka yang menerima tocilizumab telah meninggal, dibandingkan dengan 36 persen dari mereka yang tidak. Ketika disesuaikan dengan karakteristik kesehatan, ini mewakili penurunan 45 persen dalam angka kematian.

Dari mereka yang masih di rumah sakit pada akhir masa studi, 82 persen pasien tocilizumab telah berhenti pakai ventilator, dibandingkan dengan 53 persen dari mereka yang tidak menerima obat. Namun, 54 persen pasien tocilizumab mengembangkan infeksi sekunder, seper5lti pneumonia akibat ventilator dan 26 persen dari mereka yang tidak menerima tocilizumab mengalami infeksi yang sama.

Obat untuk kanker

Hasil ini menunjukkan manfaat dari upaya tepat waktu dan ditargetkan untuk menenangkan "badai sitokin" yang disebabkan oleh reaksi berlebihan sistem kekebalan terhadap virus corona. Tocilizumab, awalnya dirancang untuk rheumatoid arthritis, telah digunakan untuk menenangkan badai seperti pada pasien yang menerima perawatan imunoterapi canggih untuk kanker.

Diklaim lebih baik dari dexamethasone

Data yang dirilis pada bulan Juni dari uji coba terkontrol acak besar di Inggris mengisyaratkan bahwa steroid deksametason mungkin menjadi pilihan pertama untuk mengobati pasien COVID-19 yang sakit kritis. Namun, para pakar menilai efek samping dari terapi steroid deksamethasone lebih besar daripada manfaat potensial.

Sementara, tocilizumab lebih baik saat menargetkan proses perbaikan pada peradangan besar. Meski begitu, penelitian lebih lanjut tetap dibutuhkan.