Dikritik, Monumen Peterloo Massacre di Inggris Tak Ramah Disabilitas

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Monumen Peterloo Massacre diresmikan pada tahun 2019 sebelum ulang tahun ke-200, namun strukturnya yang sulit diakses oleh pengguna kursi roda mendapat kecaman dari para juru kampanye disabilitas.

Dilansir dari BBC, Dewan Kota Manchester mengatakan pekan lalu telah kehabisan opsi untuk meningkatkan akses termasuk landai dan lift. Anggota dewan telah setuju untuk bertemu dengan juru kampanye untuk membahas masalah ini.

Ada kesalahan

Wakil pemimpin dewan, Luthfur Rahman, mengakui adanya kesalahan dan jika bisa, ia akan kembali dan mulai dari awal, dikutip dari Local Democracy Reporting Service.

Sementara menurut seniman yang merancang tugu peringatan itu, Jeremy Deller, bermaksud menjadikannya tempat pertemuan di mana orang bisa berdiri dan duduk bersama. Oleh karena itu, seniman pemenang Turner Prize ini merancang tugu untuk dibaca saat orang berjalan naik dan turun dengan desain berjenjang.

Namun dewan mengatakan tidak mengantisipasi interpretasi Deller atas laporannya, yang mengusulkan monumen itu menjadi interaktif tanpa mengakomodasi akses kursi roda.

Dapat diakses penyandang disabilitas

Adapun saran dari Mark Todd, anggota kampanye yang ingin Memorial Peterloo dapat diakses juga oleh penyandang disabilitas.

"Kami ingin ini juga bisa diakses dengan tetap membawa kami ke puncak, sehingga kami dapat mengambil bagian dengan cara yang sama seperti warga lainnya," katanya, dikutip dari BBC.

Terkait masalah ini, beberapa anggota dewan sepakat bahwa permasalahan ini harus dipertimbangkan oleh dewan.

Sementara menurut anggota dewan Susan Cooley, anggota utama dewan untuk penyandang disabilitas, mengatakan "Saya pikir apa yang perlu kita lakukan adalah duduk bersama dan melihat proposal (masalah ini)."

Dikutip dari peterloomassacre.org, Monumen Peterloo Massacre dibangun untuk mengingat sejarah pahit Inggris. Di lapangan Santo Petrus Manchester tersebut, pada 16 Agustus 1819, terjadi unjuk rasa yang diikuti 60.000 orang yang menuntut demokrasi dan anti kemiskinan.

Diperkirakan 18 orang, termasuk empat wanita dan seorang anak, tewas akibat terhunus pedang dan terinjak-injak. Hampir 700 pria, wanita dan anak-anak mengalami luka yang sangat serius.

Pembantaian terjadi selama periode ketegangan politik. Hal ini dilatarbelakangi oleh peraturan yang menyebut kurang dari 2% dari populasi memiliki suara, dan undang-undang jagung sehingga membuat roti tidak terjangkau.

Infografis 8 Tips Nyaman Pakai Masker Cegah Covid-19

Infografis 8 Tips Nyaman Pakai Masker Cegah Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis 8 Tips Nyaman Pakai Masker Cegah Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)

Simak Video Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel