Dilamar di Usia 35 Tahun, Banyak Momen Uji Kesabaran Penuh Air Mata Jelang Pernikahan

·Bacaan 9 menit

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: RKW

Menikah adalah impian setiap orang yang telah menginjak dewasa. Laki-laki dan perempuan manapun semua menginginkannya. Hidup dengan pasangan yang dicintainya, menghabiskan sisa umur yang ada dengan keluarga kecilnya.

Sebagai perempuan yang sudah cukup usia—bahkan lebih dari cukup—aku juga menginginkan adanya status pernikahan dengan orang yang aku sayangi. Sejak aku berusia 25 tahunan, aku membayangkan seperti apa kelak konsep pernikahan yang akan aku gelar. Betapa indahnya, berbalut busana serba putih yang suci, dihiasi beragam bunga warna-warni, berjalan menyusuri karpet merah sambil diiring oleh sanak saudara yang memakai seragam brukat keluarga. Lelaki yang menyayangiku kelak akan mengucap janji suci di depan wali dan saksi.

Nyatanya, semua bayangan itu hanya halusinasi semata. Khayalan-khayalan itu sudah saatnya aku kubur begitu dalam. Bagaimana tidak? Usiaku sudah menginjak kepala tiga. Di tengah kondisiku yang begitu unik, mana ada lelaki sempurna yang berkenan untuk meminangku.

Terkadang, aku begitu optimis. Allah telah menciptakan semua yang ada di dunia ini berpasang-pasangan. Aku pun kelak pasti akan memiliki pasangan. Tetapi, kadangkala aku begitu pasrah akan takdir yang kelak akan “sendiri” untuk selamanya.

Aku pernah berada di titik terbawah dalam hidup. Aku menghakimi diriku bahwa aku akan tetap sendiri hingga aku kembali nanti. Tetapi, aku selalu bersyukur.

Di sekelilingku, selalu ada keluarga dan orang-orang dekat yang memberikan dukungan. Support system itulah yang membuat aku bertahan sampai detik ini. Dalam setiap sujudku, aku selalu berusaha untuk yakin pada ketentuan Allah. Segala sesuatu yang tak mungkin bisa dilakukan oleh tanganku, akan sangat mungkin untuk dilakukan oleh-Nya. Aku berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa kelak datang lelaki baik yang akan menerima setiap kekurangan yang aku miliki.

Dikenalkan dengan Seseorang

ilustrasi cincin pernikahan/Photo by Emma Bauso from Pexels
ilustrasi cincin pernikahan/Photo by Emma Bauso from Pexels

Hari, bulan, dan waktu silih berganti. Usiaku sudah genap mencapai 35 tahun. Usia yang sudah tidak muda lagi untuk menikah. Suatu hari, seorang teman perempuan menghubungiku via Whatsapp.

“Ada yang mau aku sampein ke kamu,” ujarnya.

“Kenapa?” rasa penasaranku mulai muncul.

“Ada seorang Ikhwan (laki-laki) yang ingin berkenalan sama kamu. Dia sudah siap menikah juga kalau kalian sudah cocok," jelasnya.

Seketika, jantungku berdegup kencang. Inikah jawaban dari setiap doa panjang yang aku panjatkan? Ataukah ia hanya akan singgah sementara, lalu pergi karena melihat fisikku yang begitu spesial? Pikiran dan hatiku campur aduk—bingung. Setelah berpikir, akhirnya aku mengiyakan tawaran temanku itu untuk saling bertukar nomor telepon.

Oiya, aku jelaskan sedikit. Aku terlahir sebagai perempuan yang begitu spesial di mata Allah. Bagaimana tidak? Ketika kebanyakan perempuan bisa berjalan dengan anggun, memakai pakaian OOTD, memakai sepatu dengan cantiknya, aku hanya bisa duduk manis di atas kursi roda yang menemaniku selama berpuluh-puluh tahun ini.

Otot kakiku tak cukup kuat menopang tubuhku untuk berdiri dengan tegak selayaknya perempuan pada umumnya. Ah, sudahlah—aku begitu menikmatinya. Aku yakin, ada hikmah besar dari apa yang Allah berikan kepadaku.

Kehadiran Seorang Pria yang 15 Tahun Lebih Tua

ilustrasi./Photo by wendel moretti from Pexels
ilustrasi./Photo by wendel moretti from Pexels

Setelah beberapa hari kita bertukar nomor telepon, dia menghubungiku. Kami banyak membicarakan tentang diri kami masing-masing. Aku menceritakan keadaan sesungguhnya yang aku alami. Aku menceritakan segala kekurangan yang aku miliki.

Aku memberitahunya sejak awal, agar tidak ada kekecewaan yang dia rasakan pada akhirnya. Dia pun merespons dengan sangat bijaksana. Dia tidak begitu kaget, karena temanku telah memberitahu sedikit tentang keadaanku. Aku pun membaca dengan cermat dan seksama hal-hal kecil yang dia sampaikan kepadaku. Aku yang justru terkejut dengan kisah kehidupan beliau.

Laki-laki baik ini berusia 15 tahun di atasku. Berarti, usianya 50 tahunan ketika kami berkenalan untuk pertama kali. Usia yang sepantasnya menjadi ayahku. Sebelumnya, dia pernah membangun keluarga dan memiliki 3 anak. Qodarullah, dia harus mengakhiri rumah tangganya karena ada satu hal.

Saat ini, dia ingin memiliki pendamping hidup lagi karena ia menginginkan ada kasih sayang seorang ibu yang akan mengurus anak-anaknya, dan menemaninya di hari tua nanti. Dia bekerja sebagai pelayar, bisa dipastikan waktunya akan banyak dihabiskan di tempat kerjanya, sehingga waktu untuk anak-anaknya sangat kurang.

Aku trenyuh mendengar ceritanya. Tidak ada sedikit pun perasaan illfeel atau niat untuk mengurungkan keinginanku untuk menikah. Sebaliknya, jiwa keibuanku muncul. Inikah pertanda bahwa kami berjodoh? Ah entahlah.

Banyak hal yang aku bicarakan selama masa pendekatan ini. Hingga akhirnya, suatu hal yang begitu indah terjadi. Dia datang ke rumah untuk melamarku. Dia membawa ibu dan ketiga anaknya untuk bertemu dengan keluargaku. Oh Allah, betapa baiknya.

Di tengah rasa pasrahku, ternyata Allah benar-benar mendatangkan seseorang yang kelak akan menemaniku. Dengan prosesi lamaran yang sangat sederhana, bahkan begitu singkat, sebuah cincin melingkar di jari manisku. Cincin ini menjadi bukti, bahwa dia telah berjanji akan menikahiku. Aku sangat bahagia. Rasa bahagia ini tidak bisa aku ungkapkan. Akhirnya, aku merasakan apa yang perempuan lain rasakan ketika dipinang.

Perjuangan cinta ini nyatanya tidak semudah yang aku bayangkan. Dalam benakku terlintas bahwa proses pernikahan akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Sebuah pesan melalui Whatsapp masuk ke ponselku.

“Dek, aku butuh waktu satu tahun untuk bisa menikahimu,” ucapnya.

“Apa nggak terlalu lama, Mas?” aku membalasnya dengan tangan yang bergetar.

“Aku masih harus mencari biaya untuk kita menikah. Sekali berlayar, butuh waktu 6 bulan hingga 1 tahun untuk pulang," jelasnya.

Aku memaklumi hal itu. Memang, sekali dia berangkat berlayar butuh waktu yang lama untuk kembali. Inilah salah satu bentuk keraguan yang sempat muncul. Apakah aku sanggup jika harus berpisah dalam waktu yang lama? Lagi-lagi aku berpasrah dan berserah diri kepada Allah. Jika kami berjodoh, segala kemudahan itu pasti akan datang dengan sendirinya.

S

Menunggu dan Terus Menunggu

Ilustrasi./(dok.unsplash/Drew Coffman)
Ilustrasi./(dok.unsplash/Drew Coffman)

elama proses penantian itu, ada banyak rintangan yang harus aku hadapi. Mulai dari rasa ragu, waktu penantian yang lama, hingga gunjingan orang-orang sekitar melihat statusku yang tak kunjung menikah padahal sudah dilamar.

Keraguan terbesar yang muncul adalah apakah aku sanggup menerimanya sebagai suami, padahal usia kami berbeda 15 tahun? Awalnya aku memang benar-benar tidak menghiraukannya, namun mengapa sekarang menjadi boomerang bagi diriku sendiri.

Keraguan lain yang muncul adalah aku seorang gadis penyandang disabilitas, sedangkan dia adalah seorang pelayar yang sering ke luar negeri dan berwawasan luas. Bagaimana jika ia bosan dan meninggalkanku? Bagaimana jika janji ini akhirnya tidak ia tepati?

Ditambah lagi ketiga anaknya, apakah benar-benar bisa menerimaku kelak sebagai ibu sambungnya? Rasanya berat menerima orang baru, yang nantinya akan mereka panggil sebagai “ibu”, padahal ia tidak melahirkan mereka sama sekali.

Ujian terberat dari masa penantian ini adalah beberapa omongan dari orang-orang sekitar yang mempertanyakan statusku. Sudah lamaran kok nggak segera menikah? Masnya serius nggak sih? Sampai kapan mau nunggu? Dibatalkan saja kalau memang dia nggak jelas!

Ucapan-ucapan itu sungguh menyayat hatiku. Aku paham, kekhawatiran mereka sungguh besar. Mereka tidak mau aku terluka karena menanti sesuatu yang tidak pasti. Setiap malam aku tidak pernah lepas dari sholat istikhoroh. Aku meminta petunjuk Allah setiap saat. Doa dan keyakinan adalah kunci utama yang saat ini aku pegang teguh. Allah menghadirkan sosok laki-laki itu di kehidupanku karena Allah punya rencana yang indah dan terbaik. Sungguh, hari-hari yang begitu banyak menguras emosi dan air mata.

Sebagai bentuk keseriusannya, calon mertuaku setiap 2 minggu sekali selalu bersilaturahmi ke rumah. Di mana-mana calon menantu yang berkunjung ke rumah calon mertua. Ini sebaliknya. Harap dimaklumi, aku tidak bisa ­sat set sat set ke sana sini sendirian. Kedatangan calon mertua setiap dua pekan sekali ini menentramkan hatiku. Aku semakin percaya, bahwa calon suamiku itu benar-benar berniat baik.

Sembari menunggu calon suamiku pulang, banyak hal yang aku kerjakan. Salah satunya adalah membuat undangan dan souvenir sendiri. Aku sadar, aku tidak bisa banyak membantu untuk membiayai pernikahanku nanti. Meskipun aku berniat menggelar pernikahan ini dengan sederhana, tetap saja tamu undangan yang datang harus aku berikan kenang-kenangan untuk dibawa pulang (re:souvenir).

Akhirnya, aku memutuskan untuk membuat sendiri souvenir dan undangan pernikahan itu. Aku menggunakan bahan kain flannel untuk membuat gantungan kunci berbagai karakter, ada model bunga, buah-buahan, dan berbagai macam bentuk lainnya. Kebetulan, aku sendiri memiliki usaha kecil-kecilan membuat berbagai macam prakarya dari bahan flannel.

Untuk surat undangannya sendiri, aku membuat desain lalu ke percetakan. Untuk proses pembungkusan dan serba-serbi yang lain bisa aku lakukan sendiri. Hal sederhana ini sangat membantu menekan biaya pengeluaran untuk menikah.

Buah Manis Penantian dan Perjuangan Panjang

Ilustrasi./Credit: pexels.com/Deden
Ilustrasi./Credit: pexels.com/Deden

Setelah sekian belas bulan aku menunggu, akhirnya sesuatu yang indah itu benar-benar terjadi. Tujuh tahun silam, suamiku mengucap janji suci untuk merawat dan menyayangiku di depan wali. Alhamdulillah, ibuku masih bisa melihat diriku melangsungkan akad nikah. Beberapa tahun belakangan ini, ibuku mengalami stroke. Beliau tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.

Aku hanya bisa membantu apa yang bisa aku kerjakan. Sebab, kondisiku sendiri juga berada di atas kursi roda. Pernikahan ini juga diselenggarakan dengan sangat sederhana. Tidak ada perayaan-perayaan mewah ataupun hidangan-hidangan mahal. Meski demikian, tidak sedikit pun mengurangi kesakralan dan rasa bahagiaku di hari itu.

Bermilyar-milyar ucapan puji dan syukur aku panjatkan kehadirat Allah. Tanpa bantuan dan pertolongan-Nya, tidak akan mungkin aku bisa menjalani dan melewati masa-masa sulit ini sendirian. Aku tidak akan sanggup memikul beban sendiri, mulai dari masa penantian menikah—persiapan menikah—sampai hari akad itu tiba.

Alhamdulillah, dari pernikahan ini, kami dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat cantik. Dia tidak hanya sempurna secara fisik, tapi juga kebaikan hatinya. Ketika anak seusianya masih menggantungkan makanan yang dimasak oleh ibunya, putri kecilku yang justru membantuku memasak makanan. Dia seringkali naik ke atas kursi kecil agar bisa memasak makanan untuk dirinya sendiri—menggoreng telor, memasak mi instan, dan sayur bening.

Tidak ada kata lagi yang bisa aku jelaskan untuk menyempurnakan kisahku ini. Apa yang aku alami tidaklah mudah, tapi keluarga kecil ini sungguh menyempurnakan hidupku. Alhamdulillah, ketiga anak dari suamiku juga bisa menerima keberadaanku dengan sangat baik. Mereka menganggap aku seperti ibunya sendiri. Bahkan, seringkali mereka bermanja-manjaan denganku, layaknya anak dengan ibu kandungnya.

Untuk suamiku,

Terima kasih, telah menerimaku dengan penuh keikhlasan. Aku tahu aku bukanlah wanita sempurna, pun dirimu juga sama. Tetapi, ketidaksempurnaan kita menjadi semu ketika kita bersatu. Bagiku, pernikahan ini bukan hanya sekadar ikatan janji dan tentang saling membersamai. Lebih dari itu, pernikahan ini adalah satu bentuk ibadah yang akan mengantarkan keluarga kita kelak menuju Jannah.

Untuk anak-anakku,

Tumbuhlah menjadi jiwa-jiwa yang kuat sekuat besi, yang hatinya lembut selembut kapas, yang prinsipnya kokoh seperti batu. Doa umi selalu menyertai disetiap langkah kalian. I love you.

Untuk siapa pun yang sedang berjuang menanti pasangan, yakinlah sejauh apa pun kita melangkah, kelak kita akan dipertemukan pada waktu dan cara yang penuh dengan misteri. Sesulit apa pun persiapan untuk menikah, inilah bentuk ujian sebelum ujian rumah tangga yang sesungguhnya akan kita hadapi. Allah membersamai orang-orang yang sabar dan yakin pada kuasa-Nya.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel