"Dilarang bawa mantan" di ekowisata mangrove Pomako Mimika

·Bacaan 5 menit

Wisatawan yang berkunjung ke Ekowisata Mangrove Pomako, Mimika, harus hati-hati jika mengajak "mantan", karena memang ada peringatan berbunyi "Dilarang bawa Mantan" di tempat wisata alam ini.

Mantan tentu tidak harus selalu dihindari, tapi "mantan" dalam papan petunjuk di Ekowisata memang terlalu bahaya untuk dibawa karena yang dimaksud adalah barang bekas alias sampah.

Tulisan "Dilarang bawa Mantan" adalah salah satu kalimat nan kreatif yang terpajang di papan petunjuk di sekitar tempat wisata salah satu kabupaten penyelenggara Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua tersebut.

Kalimat-kalimat kreatif itu mungkin adalah salah satu cara agar Wisatawan tertarik memperhatikan informasi yang tertera pada papan-papan petunjuk yang terpajang di sekitar area wisata.

Lazimnya, papan-papan petunjuk menginformasikan arah tujuan, jarak tempuh, posisi sarana vital, berbagai regulasi pada objek wisata, dan sebagainya.

Namun, sepanjang jalur Ekowisata Hutan Mangrove Pomako di kawasan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Pomako, Kabupaten Mimika, Papua, akan ditemui berbagai papan petunjuk yang unik.

Keunikan papan petunjuk yang terbuat dari kayu bertuliskan huruf warna-warni ini berisi kalimat yang kekinian dan agak satire.

Seperti menyindir status lajang alias jomlo, ajakan untuk selamatkan lingkungan hidup atau disingkat 'selingkuh', hingga larangan membawa mantan tadi.

Tulisan pada papan petunjuk informasi di kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Pomako, Mimika, Papua, Sabtu (2/10/2021). ANTARA/Abdu Faisal/aa.
Tulisan pada papan petunjuk informasi di kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Pomako, Mimika, Papua, Sabtu (2/10/2021). ANTARA/Abdu Faisal/aa.


Ada pula papan petunjuk bertuliskan nama jalan, tapi namanya "jalan aja dulu kalau cocok kita nikah."

Kalimat bernada menggelitik yang ditulis di papan petunjuk sepanjang jalur Ekowisata Hutan Mangrove Pomako itu ternyata memang berhasil menyita perhatian pengunjung.

Menurut Risal, salah seorang wisatawan yang ditemui ANTARA di lokasi pada Sabtu, papan petunjuk itu bisa menjadi hiburan tersendiri bagi wisatawan apalagi bagi yang suka berswafoto di tempat wisata.

"Mungkin memang sengaja kalimatnya dibuat begitu, supaya orang senang foto-foto di sana," kata Risal.

Tulisan pada papan petunjuk informasi di kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Pomako, Mimika, Papua, Sabtu (2/10/2021). ANTARA/Abdu Faisal/aa.
Tulisan pada papan petunjuk informasi di kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Pomako, Mimika, Papua, Sabtu (2/10/2021). ANTARA/Abdu Faisal/aa.


Selain dengan papan petunjuk yang nyentrik, upaya lain untuk memanjakan para pengunjung yang suka berswafoto ria adalah dengan belasan payung warna-warni yang menggantung, hingga pajangan berbentuk hati yang biasanya menjadi favorit pengunjung untuk dijadikan latar belakang swafoto.


Suku Kamoro

Ekowisata Hutan Mangrove Pomako berlokasi di distrik Mimika Timur, wilayah adat Suku Kamoro, suku yang mendiami kawasan pesisir Kabupaten Mimika. Tepatnya di sisi kanan akses masuk Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Pomako.

Berbicara tentang Mimika, memang tak bisa lepas dari Suku Kamoro, suku yang memiliki hak ulayat yang terbentang dari Potowaiburu hingga Nakai. Pada masa silam, orang Kamoro lebih dikenal dengan sebutan Mimika We.

Lokasi ekowisata mangrove itu berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat kota, yang dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 50 menit menggunakan kendaraan roda empat.

Perjalanan dari Timika ke lokasi ekowisata yang dikelola Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Mimika itu relatif nyaman, karena jalan yang sudah diaspal.

Sepanjang jalan hanya hutan mangrove setinggi 10-15 meter di kanan dan kiri yang terlihat sejauh mata memandang.

Hutan mangrove di Mimika memang begitu luas. Jenisnya juga beragam, ada sekitar 40 jenis mangrove. Dan khusus di kawasan ekowisata itu ada 27 jenis mangrove.

Ketika masuk ke dalam, pengunjung akan mulai mendengar suara kicauan burung sahut-menyahut. Memang di dalam kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Pomako terdapat aneka satwa yang dilindungi.

Untuk itu, di beberapa tempat juga ada papan petunjuk yang bertuliskan 'Dilarang Berburu Satwa/ Burung di Area Ini'.

Akses bagi wisatawan di sana hanya berupa jembatan atau titian bakau yang menggunakan material kayu besi dan saat ini terbangun hampir kurang lebih satu kilometer.

Meskipun harus melewati titian, berjalan menyusuri mangrove ini terasa segar dan nyaman karena kita bisa menghirup udara bersih yang bagus untuk pernapasan.


Fasilitas

Untuk memberikan kenyamanan kepada pengunjung, Ekowisata Mangrove ini juga menyediakan fasilitas umum seperti toilet dan gazebo.

Toilet yang disediakan memiliki aliran air yang lancar. Ada pula gazebo yang cukup luas dengan tiga sampai empat tempat duduk memanjang serta tentu saja tempat sampah turut disediakan.

Dengan adanya fasilitas-fasilitas yang disediakan itu, diharapkan pengunjung betul-betul menjaga keasrian lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan.

Memasuki kawasan ini juga diwajibkan memakai masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak untuk mencegah penularan virus corona.


Tarif murah

Pemerintah Kabupaten Mimika menetapkan tarif untuk sekali masuk ke Ekowisata Mangrove Pomako sebesar Rp5.000 untuk anak-anak dan Rp10.000 untuk orang dewasa. Tarif masuk itu resmi dan akan masuk ke dana kas pengelolaan daerah setempat.

Dikutip dari infopublik.id, Kepala Bidang Pariwisata Disparbudpora Mimika Daniel Orun mengatakan ekowisata mangrove menjadi salah satu prioritas dalam pengembangan pariwisata Mimika.

Sebab, kata dia, hadirnya destinasi wisata ini mampu mendorong perekonomian daerah karena bisa memberikan pemasukan bagi daerah dan membangkitkan ekonomi masyarakat sekitar.

Tidak sebatas tempat rekreasi, ekowisata mangrove diharapkan juga sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai keberagaman hayati juga manfaat mangrove bagi lingkungan.

Mangrove merupakan salah satu elemen penting dalam menjaga kelestarisn lingkungan, terutama untuk kawasan pesisir. Hutan mangrove tersebut berfungsi menahan terjangan angin dan ombak dari laut.

Kawasan konservasi Mangrove Pomako
dirintis sejak 2017, tetapi pembangunan tahap pertama baru dilakukan pada tahun 2018, diawali dengan pembangunan titian sepanjang 150 meter yang rencananya ditargetkan mencapai tiga kilometer dan menjadi titian bakau terpanjang di dunia.

Ekowisata mangrove itu didesain berbentuk karaka atau kepiting bakau jika tampak dari udara. Dari perencanaan, setidaknya ada 20 fasilitas yang akan dibangun.

Mulai dari pintu gerbang, papan nama kawasan, area parkir, kantor pengelola dan ruang display, pos jaga, ruang tunggu dan tiket.

Ada juga souvenir shop, klinik kesehatan, dermaga perahu wisata, titian/tracking, gazebo, bangku istrahat dan pergola, restoran umum, restoran semi publik, cottage/home stay, ruang bermain anak, ruang serbaguna, toilet umum, area mancing dan instalasi air bersih.

Kawasan konservasi Mangrove Pomako menawarkan wisata edukatif dan kesegaran alam yang bersih. Tentu, untuk menjaga kawasan ini tetap bersih, para pengunjung "Dilarang Bawa Mantan".

Baca juga: Pengelola Eco Wisata Mangrove Mimika perketat prokes bagi pelancong
Baca juga: Kunjungan Ecowisata Mangrove Poumako terdongkrak PON Papua

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel