Dilarang Bernyanyi dan Makan dalam Diam, Cara Baru Jepang Buka Sekolah di Masa Pandemi

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Penampilan para siswa tahun terakhir di Sekolah Dasar Funabori, Bangsal Edogawa, Tokyo, Jepang dilangsungkan dalam kondisi darurat pada awal Maret lalu. Acara ini diselenggarakan hanya beberapa minggu sebelum kelulusan para siswa, sebagai cara untuk mengucapkan terima kasih pada siswa dan guru yang lebih muda.

Ini merupakan tradisi tahunan yang selalu menyentuh hati para guru, yang akan mengirim siswanya. Namun, tahun ini konser tersebut memiliki makna emosional yang lebih besar.

Tahun ini, akademik berada di tengah pandemi COVID-19, sehingga banyak sekolah menghapuskan festival olahraga. Sedangkan pertemuan besar lainnya yang melibatkan para guru di Sekolah Dasar Funabori, Jepang berhasil dilakukan, meskipun dengan sejumlah batasan seperti dilansir dari japantimes.co.jp.

"Kami biasanya mengadakan pertunjukan ini di gimnasium, namun kami tidak dapat melakukannya lagi karena pertemuan semua sekolah tidak diperbolehkan di satu tempat, menurut pedoman dewan pendidikan," ujar Kepala Sekolah Mio Sato.

Untuk mengadakan acara ini, para guru di Jepang harus memutar otak mereka. Halaman sekolah diubah menjadi aula musik luar ruangan, memungkinkan para penonton untuk menyebar di setiap lantai gedung berlantai empat untuk mendengarkan siswa kelas 6 di bawah.

Jarak sosial, pemakaian masker, dan praktik cuci tangan diaplikasikan secara ketat di sekolah-sekolah Jepang

Ilustrasi siswa sekolah di Jepang. Sumber foto: unsplash.com/Jeswin Thomas.
Ilustrasi siswa sekolah di Jepang. Sumber foto: unsplash.com/Jeswin Thomas.

Sekolah Dasar Funabori juga memberikan gambaran sekilas tentang bagaimana sekolah-sekolah di Jepang tetap buka selama pandemi, mereka bereksperimen dengan berbagai cara untuk hidup berdampingan dengan virus Corona sambil menjaga keamanan anak-anak. Dalam menerbitkan pedoman untuk sekolah dasar dan menengah di bawah yuridiksinya, Edogawa Ward mengikuti instruksi yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, seperti menangguhkan atau mengurangi aktivitas berisiko tinggi yang rentan menyebarkan infeksi COVID-19, sehingga pendidikan jasmani dilakukan dengan cara menghindari kontak fisik antar siswa.

Jarak sosial, pemakaian masker, dan praktik cuci tangan yang ketat adalah langkah-langkah yang disebut penting, menurut kementerian untuk sesuatu yang disebut normal baru bagi kehidupan sekolah. Sekolah Dasar Funabori adalah salah satu sekolah dasar negeri terbesar di lingkungan tersebut, dengan 760 siswa.

Setiap pagi, para siswa yang datang dari gerbang sekolah dipastikan telah memakai masker. Begitu berada di dalam gedung, mereka harus melepaskan sepatu dan beralih ke sandal untuk dipakai di dalam ruangan.

Sekolah membuka terpal biru di dekat pintu masuk untuk memperluas area pergantian sepatu, agar anak-anak tidak berkerumun di depan pintu ruangan. Prinsip jarak sosial dipraktikkan dengan serius dan ditanamkan pada para siswa dengan kuat.

Meja di runag kelas diberi jarak sebanyak mungkin, minimal 1 meter, seperti yang dianjuran oleh kementerian pendidikan. Sekolah Dasar Funabori memiliki ukuran lantai kelas sekitar 58 meter persegi, di mana ada 40 siswa kelas 6 di dalamnya.

Aktivitas yang dinilai berisiko tinggi menyebarkan virus ditiadakan di sekolah-sekolah Jepang

Ilustrasi siswa sekolah di Jepang. Sumber foto: unsplash.com/Li Lin.
Ilustrasi siswa sekolah di Jepang. Sumber foto: unsplash.com/Li Lin.

Di antara mata pelajaran yang ada, salah satu yang ditandai berisiko tinggi oleh kementerian pendidikan adalah musik. Seperti di banyak sekolah lain, Sekolah Dasar Funabori tidak lagi mengizinkan anak-anak bernyanyi dengan suara keras selama kelas musik.

Sebaliknya, mereka diinstruksikan untuk bertepuk tangan atau menghentak mengikuti musik sebagai cara mengasah ritme atau lebih fokus bermain alat musik. Namun, alat musik tiup apapun tidak lagi dimainkan.

Waktu makan siang juga tidak sama dengan sebelumnya. Selama masa pandemi, kebijakan baru makan dalam diam atau mokushoku telah diterapkan, sehingga anak-anak diminta berkonsentrasi selama makan siang, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Banyak para siswa yang diminta menghabiskan waktu di dalam ruangan, beberapa memilih membaca buku dalam diam. Beban pandemi juga dirasakan para guru, terlebih pada perubahan mendasar pada cara mereka menyelenggarakan kelas.

Para guru diminta membimbing, mengawasi, dan memberikan umpan balik kepada murid mereka secara individu, yang berarti ada peningkatan substansial dalam beban kerja mereka. Bagaimana menurutmu, Sahabat FIMELA?

#Elevate Women